<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cantigi.net &#187; Feature</title>
	<atom:link href="http://cantigi.net/category/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cantigi.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 01:42:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sindoro</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 09:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 23 September 2011 Jam 17.00 kurang dikit, saya sudah bergegas meninggalkan kantor karena  Pa Anto (petugas loket) memberitahukan saya bahwa bus akan berangkat tepat pukul 17.30 WIB.  Masih dalam bayangan percakapan kemarin &#8220;Ga bisa telat dikit gitu Pa?&#8221; tawar saya.. &#8220;Ya paling telat 15 menitlah..!&#8221; serunya. 15 menit sebelum keberangkatan saya sudah sampai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;">Jumat, 23 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Jam 17.00 kurang dikit, saya sudah bergegas meninggalkan kantor karena  Pa Anto (petugas loket) memberitahukan saya bahwa bus akan berangkat tepat pukul 17.30 WIB.  Masih dalam bayangan percakapan kemarin &#8220;Ga bisa telat dikit gitu Pa?&#8221; tawar saya.. &#8220;Ya paling telat 15 menitlah..!&#8221; serunya. 15 menit sebelum keberangkatan saya sudah sampai di Jembatan Gantung dan Omat menghubungi saya, &#8220;Ndri, bus berangkat jam berapa seh?&#8221; &#8220;Jam 17.30 mat, mang u dah di manakah?&#8221;jawabku, &#8220;Gw masih di Slipi..!&#8221;, Saya :  &#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/hammers.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammers" /> &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir jam 6 sore ketika Omat tiba. Dan ternyata bus yang akan kami tumpangi belum juga ada <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" />  Barulah jam 7 kurang bus perlahan masuk ke parkiran dan setelah menaikan penumpang baru pukul 7 lewat 10 bus berangkat ke Pulo Gadung untuk menaikan lagi penumpang dari sana. Dari Pulogadung saya lebih memilih untuk tidur. Terbangun ketika bus ini saya rasakan berhenti dan ketika melihat keluar jendela saya melihat banyak para wanita. &#8220;Koq banyak cewe ya, pada pake pakaian you can see dan celana pendek lagi?&#8221; ups  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/5.gif" style="border:none;background:none;" alt=":shutup:" /> ternyata bus sedang berhenti di Indramayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertemu dengan mas Sigit, Djoko, Oman Putih, dan beberapa temen lainnya yang juga sama mau mendaki Sindoro di tempat peristirahatan PO Malino. Mas Sigit adalah seorang yang ikut menghilang di <a href="http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/">Gunung Argopuro tempo hari</a>. &#8220;Ga kapok naik bareng Djoko?&#8221; serunya kepada saya.. Pertanyaan yang salah ditujukan kepadaku, seharusnya saya yang bertanya kepadanya: &#8220;Ga kapok menghilang bersama om Djoko?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Sabtu, 24 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di terminal Wonosobo, celingak &#8211; celinguk cari temen-temen yang lain. Setelah anggota team berkumpul semua, kami bergegas menaiki bus 3 per 4. Saya lebih memilih tidur di dalam bus. Ketika bangun bus sudah sampai di desa Sigedang. Rencananya memang kami mulai mendaki dari Tambi. Ketidaktahuan kami akan pos 3 membuat bus itu dengan seenaknya menaikan lagi dan lagi tarif yang telah disepakati sebelumnya. Dari catper-catper lain yang saya baca, memang bahwa jalan masih bisa dilalui kendaraan sampai pos 3.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan berdoa terlebih dahulu, kami memulai pendakian ini. Medan-medan awal adalah kebun teh yang kemudian berganti dengan padang rumput. Pukul 12.00 WIB pendakian kami hentikan untuk makan siang yang sebelumnya kami bungkus dari terminal Wonosobo. Tak bosannya saya tanyakan kepada Omat kita sudah berada di ketinggian berapa. Agar dapat mengira-ngira jarak yang harus ditempuh masih berapa jauh.</p>
<p><a title="Awan Putih oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6185219588/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6178/6185219588_00d5cd764e.jpg" alt="Awan Putih" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 17.00 akhirnya kaki ini sampai juga di puncak Sindoro, om Djoko yang sudah sampai duluan mengajak kami untuk segera mendirikan lapak (baca : tenda). Berjalan mengitari kawah mati dan tepat di hadapan kokohnya Gunung Sumbing kami mendirikan tenda. Lokasi tempat mendirikan tenda cukup strategis karena samping kiri kanan dan belakang terlindung oleh bukit dan di depan kami bisa langsung menikmati Sunrise langsung keesokan harinya. &#8220;Mat, buruan diriin tenda, dah jam 5 neh&#8221; seruku ke Omat. Tenda MHW, meski sudah pernah dipakai sekali di Papandayan tetap bikin kagok waktu kami mendirikannya. Setelah selesai mendirikan tenda, saya dan Omat bergegas menuju pelataran barat puncak Sindoro untuk menikmati Sunset.</p>
<p><a title="Cantigi Sunset oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6188357619/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6156/6188357619_f38ca5c2bd.jpg" alt="Cantigi Sunset" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Puas menikmati sunset (dan ternyata hanya saya, Omat, dan Djoko saja yang pergi melihat Sunset) kami kembali ke tenda. Ketiadaan sumber mata air memaksa kami untuk tidak memasak makanan yang membutuhkan air. Jalan terbaik adalah menggoreng nugget dan memakannya dengan lontong yang telah disiapkan oleh Fitria. (hedeuh, padahal udah bawa mie, spaghetti, Oat Meal, dan pancake). Selanjutnya adalah mencoba praktek star trails. Hasilnya mana gan? maaf saya gagal.. hehehe, udara dingin memaksa saya untuk segera masuk ke dalam dekapan sleeping bag. Dan Omat memberitahukan bahwa suhu saat itu mencapai 7 derajat Celcius dan juga tidak begitu valid karena mungkin bisa lebih dingin. (Termometernya ada di jam tangan yang dipakainya).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Minggu, 25 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari ternyata suhu menjadi lebih dingin. &#8220;3 derajat Celcius&#8221;  menurut pengakuan Omat. Sambil menunggu munculnya Mentari, tubuh ini tidak berhenti menggigil.</p>
<p><a title="Sambut Pagi oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6192057968/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6022/6192057968_d7e3321be0.jpg" alt="Sambut Pagi" width="500" height="237" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bantuan air punya tetangga, Omat mulai memasak pancake dan saya menggoreng telor ceplok. Sarapan pagi ini roti tawar isi telor + pancake. Jam 8.00 WIB kami semua sudah selesai membongkar tenda dan persiapan turun. Setelah sesi foto keluarga dan dilanjutkan berdoa kami pun mengakhiri kegiatan kami di puncak Sindoro. Kami turun melalui jalur Kledung.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata kebakaran melanda kawasan hutan sebelum puncak. Api tampak  masih menyala dan saya hanya bisa berucap semoga lekas padam dan hijau seperti sedia kala.  Tak ingin terlambat menuju Wonosobo saya menaikkan tempo dalam menuruni punggungan Sindoro dengan resiko membuat gagal dengkul dengan cepat. Jalur yang curam sebelum pos 3 juga membuat saya jatuh bangun Air yang saya bawa hanya 3/4 botol besar yang kemudian saya pindahkan ke waterblade. Cuaca panas dan debu yang mendominasi membuat saya terlalu cepat meneguk air. Seteguk dua teguk dan saya pun menyadari kesalahan saya. Terlalu cepat meminum sedangkan basecamp masih sangat jauh.</p>
<p><a title="Gunung Sumbing oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6185564830/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6155/6185564830_14e2ea321c.jpg" alt="Gunung Sumbing" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pos 3 saya berjalan sendirian. Rombongan depan sudah jauh sedangkan rombongan lain tertinggal di belakang. Air di waterblade semakin menipis dan saya menyedotnya bila tenggorokan sudah benar-benar kering dan itupun hanya seteguk dikit guna membasuh tenggorokan ini. Pelan-pelan saya berjalan agar tidak terlalu capai dan bila ada pendaki lain yang turun melewati saya, saya mempersilakan duluan dan terus bertanya, &#8220;Mas, basecamp masih berapa jam lagi?&#8221; Pendaki lainnya yang sedang turun , seorang remaja yang saya taksir masih di bangku sekolah menengah melewati saya. Saya melihat cadangan air di kantong celananya masih banyak dan tanpa basa basi saya memintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum pos 2, saya bertemu dengan Dya dan Dwie. Problem mereka sama dengan saya, hampir kehabisan air. Kami pun berjalan bersama (tapi lebih banyak ketinggalan sayanya). Sesudah pos I kami melihat para ranger (polisi hutan) sedang beristirahat. Melaporkan kejadian kebakaran hutan kepada mereka dan yang terpenting meminta air kepada mereka. Sebelum masuk vegetasi ladang penduduk, Dwie meminta Djoko untuk mengirimkan ojeg. Dan dengan ojeg selanjutnya kami menuju basecamp.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Ngapain) Kembali ke Argopuro</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 09:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Argopuro]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[hipotermia]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Foto-foto elu di Argopuro busuk&#8221; kata-kata Acong itu akhirnya juga mempengaruhiku untuk kembali mendaki Gunung Argopuro setelah 2 tahun sebelumnya saya pernah ke sini. 31 Agustus 2011 Setelah malam sebelumnya, saya mengirimkan SMS ke Djanu agar sampai ke Stasiun Kota tepat pukul 07.00 WIB biar mendapatkan tempat duduk di Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Foto-foto elu di Argopuro busuk&#8221; kata-kata Acong itu akhirnya juga mempengaruhiku untuk kembali mendaki Gunung Argopuro setelah <a href="http://cantigi.net/2009/10/siapa-suruh-naik-argopuro/"> 2 tahun sebelumnya</a> saya pernah ke sini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">31 Agustus 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah malam sebelumnya, saya mengirimkan SMS ke Djanu agar sampai ke Stasiun Kota tepat pukul 07.00 WIB biar mendapatkan tempat duduk di Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tapi apa daya karena mundurnya perayaan Idul Fitri tahun ini, maka dengan berat hati saya mengirimkan kabar lagi kepada Djanu bahwa kemungkinan besar saya telat karena tidak ada kendaraan umum yang lewat di depan rumah. Pukul 07.00 WIB, saya baru mendapatkan angkutan berwarna biru bernama Metromini. Di dalamnya saya menerima kabar bahwa tiket kereta Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) sudah habis, seakan tidak percaya saya pun mengatakan &#8220;Ah, yang bener lu&#8230;, Elu nanyanya ma petugas tiketnya bukan?&#8221; &#8220;Iya beneran, gw tanya ma petugas tiketnya.. sampe 2 orang lagi..!!&#8221; jawab Djanu&#8230; &#8220;Kalo Kertajaya ada ga?&#8221; saya tanya lagi, &#8220;Bentar.., ada Ndri jam 17.10 ambil ga?&#8221; kata Djanu, &#8220;Ya sudah, ambil aja itu, Kertajaya&#8221; jawabku menyudahi SMS.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 08.00 WIB, sampai juga di stasiun Kota. Ketika bertemu dengan Djanu, saya mengecek logistik apa saja yang dibawanya, hanya untuk memastikan saja karena inilah pengalama pertamanya mendaki Gunung. &#8220;mie dan 15 telor asin&#8221; jawabnya mantap seakan saya tidak usah meragukannya lagi. Dan saya mengatakan kepadanya agar kita tetap naik GBMS  dengan memakai tiket Kertajaya. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya agar mendapatkan tempat duduk, maka yang diharuskan adalah menuju ke tempat lansir kereta tersebut. Tapi sial, di saat kami hampir mendekati tempat Lansir yang berjarak hampir 1km dari Stasiun, seorang pria berwajah agak sangar dan berpakaian biru tua yang menandakan bahwa dia adalah seorang petugas menegur kami. &#8220;Mau ke mana mas ?&#8221;, &#8220;Mau ke Gaya Baru Pa..&#8221;jawabku sekenanya &#8220;Kalau sekarang sudah tidak boleh ke Dipo lagi mas.., nunggunya di Stasiun aja&#8221; balasnya. Tanpa bisa membantah lagi kami pun beranjak kembali menuju tempat tunggu setelah sebelumnya juga ada spanduk besar yang bertuliskan &#8220;Penumpang yang terhormat, agar menunggu kereta di Stasiun dan bukan di Dipo&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sia &#8211; sia saja kalau sudah datang pagi ke Stasiun Kota untuk mendapatkan tempat duduk tapi ternyata tidak bisa colong start. Yang ada bisa duduk menghampar di lantai. Tak ingin begitu, saya pun memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman lain yang start dari Tanjung Priok untuk berangkat menggunakan kereta Kertajaya. Naik Mikrolet sekali, kami bergegas menuju Tanjung Priok. &#8220;Maaf mas, tiket ini tidak bisa naik kereta Kertajaya dari sini, tapi harus naik dari Stasiun Senen, tuh lihat tertulis keberangkatan dari Senen jam 17.00&#8243;, seorang petugas berkulit hitam dan juga berbaju serba hitam, bertubuh besar,  berwajah yang kali ini memang sangar dengan aksesoris kumis tebal, ditambah dengan suara bas memberitahukan saya. WTF, lagi seakan tidak percaya saya bertanya , &#8220;Memangnya beda Pa, Kereta yang ini dengan yang ada di Senen?&#8221; &#8220;Beda mas, kalau yang di Stasiun Senen adalah kereta tambahan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Gila, masa dari Stasiun Kota terus ke Stasiun Tanjung Priok harus muter lagi ke Stasiun Senen. Tak mau begitu saja dipermainkan kereta (bisa ya?  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/crazy.gif" style="border:none;background:none;" alt=":gila:" />)  Saya mencoba menghubungi Djoko (Trip Leader) untuk menanyakan apakah ada orang yang cancel. &#8220;Ada dua orang yang cancel..&#8221; Jawabnya ketika saya memberitahukan permasalahan yang telah terjadi kepadanya. Tanpa pikir panjang lagi, saya pun mengambil tiket yang batal itu. Ketika hilir mudik di Stasiun Tanjung Priok, petugas brewokan itu kembali menghampiri saya, &#8220;Mas, ga jadi ke Stasiun Senen?&#8221;, &#8220;Engga Pa, saya udah dapat tiketnya yang berangkat dari sini&#8221; jawabku. &#8220;Yah, terus tiket yang dari St. Senen hangus donk?&#8221; lanjutnya, &#8220;Ya, gpp Pa..&#8221;, jawabku lagi. &#8220;Hm, harusnya tadi ga usah ambil tiket lagi, yah gapapa pake tiket punya St. Senen tapi naik dari sini.., ya paling engga pake tambahin duit rokok&#8221;. Saya (dalam hati), &#8220;He..?&#8221;  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/fuck-8.gif" style="border:none;background:none;" alt=":fuck3:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Masih ada 2 tiket di tangan yang berangkat dari St. Senen. Saya dan Djanu mencoba menjualnya kembali kepada orang-orang yang masih mengantri. Takut-takut cemas, kalau-kalau saja ada petugas atau Polisi yang menganggap kami adalah seorang Calo setengah waras yang menjual tiket Kereta Api Kertajaya di bawah harga yang telah ditentukan. Rugi 7 ribu Rupiah tidak menjadi masalah dibandingkan harus rugi seluruhnya. Satu per satu teman seperjalanan telah tiba. Ada juga team dari kelompok lain yang menuju ke Raung dan Arjuno Welirang. Meski kami baru masuk 1 jam sebelum keberangkatan, syukurlah masih banyak tempat duduk yang belum terisi dan team Raung masih membicarakan permasalahan tali untuk menggapai Puncak Sejati. Tak banyak yang bisa dilakukan di dalam kereta. Tidur sampai kebosanan gaya (karena sudah mencoba berbagai macam gaya tetap saja tidak nyenyak <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/6.gif" style="border:none;background:none;" alt=":p" />) sampai ditegur oleh penumpang lain karena main kartu tepok nyamuk. &#8220;De, di sini ada yang jantungan..&#8221; De, udah malam&#8221;, &#8220;De, ada anak kecil yang udah tidur&#8221;, &#8220;De, mizonenya buat nemenin main kartu&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">01 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di Stasiun Pasar Turi sekitar jam 7 pagi. Pertama-tama yang dilakukan adalah menyerbu WC setelah turun dari kereta. Yang anehnya, petugas kebersihan WC tetap menerima lembar seribuan meski ada tertulis TOILET Gratis di depan pintu masuk. Setelahnya mencari sarapan dan mencharge para Handphone yang setengah kehilangan daya. Team Raung masih membicarakan masalah tali yang sampai detik ini belum ada, sebagai teman yang baik saya pun menyarankan &#8220;Bagaimana jika memakai tali kutang?&#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />. Dari Stasiun Ps. Turi kami berjalan kaki ke depan PGS (Pusat Grosir Surabaya) untuk naik bus ke Terminal Bungur Asih. Sampai di Terminal Bungur Asih, saya pun ditinggalkan oleh team utama. Mereka lebih dulu berangkat ke Terminal Probolinggo. Penyebabnya adalah saya, Djanu, dan Vera (untuk Vera dia langsung gabung dari Surabaya) masih harus menunggu team satu tenda yang tak lain adalah Rio Praditia alias Acong partner crime ke Semeru dan Rinjani.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Conk, di mana?&#8221; berkali &#8211; kali kami menghubungi dan mengirimkan SMS. &#8220;Udah naik ojeg atau Taxi aja biar lebih cepat&#8221; saran kami kepadanya &#8220;Ndri, duit gw itu yang di kantong tinggal 5.000 perak, ATM gw kan patah, lagian ojeg susah nyarinya kalo di Surabaya&#8221; jawabnya. Setelah kedatangannya kami segera bergegas mengejar ketertinggalan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berkumpul semua di Terminal Probolinggo, kami melanjutkan perjalanan ke Alun &#8211; Alun Besuki. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunakan pick up sewaan dengan tarif 15 ribu/orang. Banyak bonus pemandangan selama perjalanan ke desa Baderan. Sawah &#8211; sawah, pegunungan, dan tentu beberapa wanita sedang mandi di tepi Sungai  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q03.gif" style="border:none;background:none;" alt=":genit:" />. SMS dari Asa (team lain yang ke Argopuro, tetapi pisah di terminal Bungur Asih) telat masuk. Saya menerimanya ketika sudah setengah jalan ke desa Baderan &#8220;Om, sebelum naik ke Baderan setiap orang bawa fotokopi KTP dan dua materai 6rb untuk 1 kelompok untuk pengurusan simaksi di BKSDA. Trims. Asa. &#8221; Dan tentunya kami tidak membawa materai.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata pengurusan Simaksi tidak semudah seperti yang ada di Pos Bremi. Di Bremi seingatku hanya menuliskan nama dan memberikan selembar fotocopy KTP. Tapi hal itu tidak berlaku di Kantor BKSDA Baderan. Yang ada di pos Baderan adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>1 lembar SIMAKSI, yang bertuliskan nama-nama para pendaki yang kemudian ditempelkan materai dan juga Kartu Identitas Penduduk (dan lagi si Acong belum ada KTP dan sebagai gantinya, ia menyerahkan.. Oh bukan Kartu Tanda Mahasiswa koq, tapi Kartu Tanda Cuti  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" />) rangkap 5. Seingat saya, 1 buat pendaki, 1 buat arsip di BKSDA, 1 buat kantor pusat Surabaya, 1 buat kepolisian, 1 lagi buat siapa ya.. <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/7.gif" style="border:none;background:none;" alt=":confused:" /> saya lupa</li>
<li>Tiap pendaki wajib mengisi buku tamu. Nama, Alamat, dan nomor contact</li>
<li>Para pendaki harus berkumpul bersama agar dapat difoto dan tak ketinggalan kepala BKSDAnya juga. Alasannya adalah biar saya gampang nyarinya kalau terjadi sesuatu. (foto dari om Ahmad)</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Full Team bersama kepala BKSDA" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/316433_1746201553858_1803377810_1141164_1534028_n.jpg" alt="" width="432" height="324" /></p>
<p style="text-align: justify;">Baru larut malam kami berangkat yang dikarenakan tukang fotocopy sedang jalan-jalan entah ke mana sehingga perangkapan 5 lembar urung dijadikan. Cahaya yang dihasilkan dari <em>headlamp</em> beriringan membelah gelapnya malam. Kami terus berjalan hingga pukul 24.00 WIB. Saat dingin dan kantuk sudah menyerang, kami hentikan pendakian malam ini. Tenda saya, Acong, Djanu, dan Vera didirikan bersebelahan dengan Tenda teh Lisna dan TP. Sedangkan yang lain berada lebih ke atas tepatnya di halaman rumah petani (baca : di samping kandang Ayam).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">02 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari setelah sarapan dengan lauk telor asin, kami lanjutkan kembali pendakian ini. Selain jalanan yang mulai menanjak, yang menjadi pengganggu utama sepanjang perjalanan ini adalah terik Matahari dan debu-debu yang mau tak mau harus kami hirup juga. Brm.. Brmm.. suara motor menggilas jalanan yang berdebu. Dari belakang melajulah satu motor Cross yang berpenumpang om Mube. &#8220;Ga kuat jalan..!!&#8221; teriaknya ketika motor itu melintasiku. Memang dari kemarin, Om Mube sudah kena serangan di perut, entah masuk angin atau yang lainnya. Jalan, jalan, dan jalan lagi membayangkan seandainya naik ojeg langsung ke Cikasur. Dan saya hanya bisa berdoa agar ojeg itu setelah mengantarkan om Mube juga bisa mengantarkan saya secepatnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah tengah hari ketika saya mencapai pos Mata Air I. Bukannya mau menjadi yang paling terakhir tapi begitulah kaki seakaan tidak mau diajak kompromi. Untungnya ketika saya sudah sampai, makanan sudah tersedia dan lagi dengan lauk telor asin&#8230; Selesai makan siang, ojeg yang membawa om Mube sudah sampai juga di Pos Mata Air I. &#8220;Bang, masih bisa ke Cikasur ga?&#8221; teriakku, &#8220;Wah dah ga bisa Mas, bensinnya ga cukup&#8221; jawab tukang ojeg tersebut. Dengan lunglai saya menjawab &#8220;yah&#8230;.&#8221;. Saya sampai di Alun- Alun Cikasur sudah hampir pukul delapan malam. Menggunakan kata beruntung lagi, tenda sudah berdiri dan makanan sedang dimasak. Kali ini saya menolak untuk dicekokin telor asin lagi <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/6.gif" style="border:none;background:none;" alt=":p" /> (bisa bisulan pantat gw <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">03 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Alun - alun Cikasur oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6122508360/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6088/6122508360_d32b244721.jpg" alt="Alun - alun Cikasur" width="500" height="335" /></a><br />
Setelah sarapan dan sesi bernasis ria selesai, perjalanan dilanjutkan menuju Cisentor. Siang hari sudah sampai di Cisentor ada sedikit perbedaan pendapat antara saya dan om Djoko. Antara langsung ke puncak dan mendirikan tenda di Cisentor dengan resiko kemalaman sampai ke Cisentor lagi dan pendapat kedua mendirikan tenda di Rawa Embik dan Summit pada waktu subuh mengejar sunrise. Akhirnya pendapat pertama dipilih juga. Dan saya memutuskan untuk tidak ikut ke puncak demi mengistirahatkan sendi-sendi kaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul 08.00 malam, teriakan &#8220;alhamdulilah sampai juga&#8221; terdengar di sekitar tenda. Ternyata mereka sudah sampai kembali di Cisentor. Acara masak memasak menjadi kegiatan selanjutnya. Tapi anehnya dari tenda om Djoko belum juga ada penampakan penghuninya. Tanya-tanya ke teman lain ternyata melihat om Djoko sudah turun dari puncak duluan. Hingga pukul 12 malam, 4 orang dinyatakan hilang. 3 pria dan 1 wanita. Berkoordinasi dengan om Asa maka dikirimkanlah 3 orang dari team dan 1 orang bantuan dari mas-mas yang bangga menamakan dirinya team SPG (Sing Penting Gembira). Bermodalkan pinjeman HT dari tenda sebelah maka mereka memulai tugasnya menyisir punggungan tempat terakhir om Djoko dkk terlihat. Membatasi ruang gerak dengan membangun tenda di Rawa Embik.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, sederet pertanyaan muncul di rongga pikiran. Bagaimana kabar mereka, Apakah mereka terkena Hipotermia, Ditowel macan kumbangkah mereka, Diseruduk babi yang memang liarkah, Ditemani Dewi Rengganiskah, Andaikan benar-benar hilang, judul Headline Korannya apa ya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">04 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 07.00, belum ada kabar dari team yang kemarin telah ke Rawa Embik. Saya pun mengajak Djanu untuk menyusul ke Rawa Embik. 30 menit berjalan, kami dikejutkan dengan kehadiran om Djoko. &#8220;Om Djoko, kemana aja, Tidur di mana, koq bisa tersesat?&#8221; seruku kepadanya, &#8220;Tidurnya ya di hutan, ada jalan setapak terus gw ikutin aja, cuma jalan lewat 1 jam koq ga ketemu-temu Rawa Embik, jadi kami berhenti. Terus gw dan Sigit paginya nyari jalur ke belakang dan ketemu ma anak-anak di Rawa Embik&#8221;. menjawab semua pertanyaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 09.00 kami tetap melanjutkan perjalanan ke Danau Taman Hidup meski beberapa teman yang lain belum kembali ke Cisentor. Melewati Sabana dan hutan serta tak lupa tanaman Jelatang akhirnya sampai juga kaki di Danau Tamam Hidup sekitar pukul 20.00 WIB.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">05 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari di Danau, kabut di atas Danau seakan belum mau beranjak. Yang saya dengar begitulah, seakaan Danau itu hidup dan kabut bermain-main di atasnya. Kalau dulu sewaktu kita SD dengan mata pelajaran menggambar, yang paling kita sering lihat dan kita gambar adalah 2 buah gunung dengan Matahari di tengahnya. Tapi memang seperti itu kenyataan yang terjadi di Danau Taman Hidup. Matahari muncul diapit oleh 2 bukit.</p>
<p><a title="Danau Taman Hidup oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6122274149/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6063/6122274149_88272b7ec3.jpg" alt="Danau Taman Hidup" width="500" height="192" /></a></p>
<p><a title="Tak berjudul oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6168425134/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6179/6168425134_7ea7ab9222.jpg" alt="" width="500" height="278" /></a></p>
<p><a title="Menyinari Bumi Ini oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6129520226/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6192/6129520226_66d2b42409.jpg" alt="Menyinari Bumi Ini" width="334" height="500" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Ujung Genteng</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/01/menuju-ujung-genteng/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/01/menuju-ujung-genteng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 10:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[24 Desember 2010 Subuh dini hari saya sudah terbangun. Setelah mandi dan menyeduh popmie yang harus diulang 2 kali karena air termos yang digunakan ternyata hanya hangat / tidak panas, maka saya berangkat menuju Slipi JDC. Pukul 05.00 saya tiba dan mengirimi SMS ke Smigun bahwa saya sudah standby di lokasi JDC. Dari Slipi kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">24 Desember 2010</span><br />
Subuh dini hari saya sudah terbangun. Setelah mandi dan menyeduh popmie yang harus diulang 2 kali karena air termos yang digunakan ternyata hanya hangat / tidak panas, maka saya berangkat menuju Slipi JDC. Pukul 05.00 saya tiba dan mengirimi SMS ke Smigun bahwa saya sudah standby di lokasi JDC. Dari Slipi kami berdua menuju Ps. Rebo dan dari Ps. Rebo melanjutkan perjalanan ke Bogor. Meeting Point yang ditentukan adalah pool Damri Bogor. Sambil menunggu rekan kami yang lainnya, waktu luang kami sempatkan dengan melihat-lihat 160 yang hilir mudik&#8230;.<br />
Satu persatu rekan kami datang, Fearley lalu disusul Kang Ndarz, dan Maggie serta Rangga juga telah tiba dari Bekasi dan tetap menunggu di dalam terminal.<br />
Dari Terminal Baranangsiang, perjalanan dilanjutkan ke terminal Sukabumi. Karena hari sudah siang, kami pun sejenak beristirahat di dalam terminal dan tentunya tak lupa mengisi perut. Dari terminal kami menaiki angkot kuning menuju terminal Lembur Situ. Tak kurang dari setengah jam perjalanan tapi tarif yang harus kami bayar sebesar Rp. 5.000,- (mahal amat kang.. <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" /> )<br />
Pil Kina merupakan obat anti malaria (udah pada tau kan) dan rasanya sangat pahit sekali (kalo yang ini udah pada tau belum?). Oleh karenanya, pil itu dilapisi dengan rasa manis agar rasa pahit tidak mengganggu di lidah. Kami bergantian meminum pil Kina, dan giliran Smigun kami memberitahukan kalo rasanya manis sehingga tidak perlu menelannya dengan bantuan air. Cukup dengan hanya diemut saja..  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/005.gif" style="border:none;background:none;" alt=":Peace:" /><br />
Hehehe, sudah bisa ditebak kan.. rasa manisnya hanya sementara&#8230; _____________<img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/ngacir.gif" style="border:none;background:none;" alt=":ngacir:" /><br />
Dari terminal Lembur Situ kami menaiki elf. Untuk menuju terminal Surade ternyata jalanan yang dilalui adalah jalanan rusak penuh lubang. Goncangan demi goncangan harus kami terima dan untungnya saya duduk di sebelah 160.. uhuy   <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q03.gif" style="border:none;background:none;" alt=":genit:" /><br />
Sampai di terminal Surade penumpang hanya menyisakan enam orang saja. Perasaan agak mual karena ber off road ria sedikit terobati karena telah naik 2 mahkluk cantik ke dalam elf yang kami naiki  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/hi.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hi:" /> . Setelah bertegur sapa ternyata mereka akan ke ujung genteng juga. Hampir jam setengah enam kami tiba di pantai ujung genteng. Godaan ombak serta lembayung senja menyambut kami. Menyusuri pantai sambil menunggu moment sunset <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/008.gif" style="border:none;background:none;" alt=":sun:" /> jangan lupa mengeluarkan tripot dan klik<br />
<a title="Senja di Ujung Genteng oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5293331178/"><img src="http://farm6.static.flickr.com/5048/5293331178_90a9e6e9cb.jpg" alt="Senja di Ujung Genteng" width="500" height="335" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Maggie menelpon pengurus wisma untuk memastikan bahwa masih ada tempat untuk kami menginap.. Dari penuturan Bp. Pengurus disebutkan bahwa jarak dari TPI (Tempat pelelangan Ikan) hanya berjarak 1 km. Karena hanya 1km, kami memutuskan berjalan kaki saja. Hari sudah mulai agak gelap dan beberapa orang menanyakan tujuan kami kemana.. &#8220;ke Cibuaya Pa..&#8221; seru kami &#8220;Oh itu mah masih jauh, masih 3 km lagi&#8221; balas bapak itu. Ha..??? <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/7.gif" style="border:none;background:none;" alt=":confused:" /><br />
Setelah lapar dan lelah melanda jiwa dan raga, kami sampai juga di wisma Cibuaya. Wisma yang akan kami tempati ternyata masih ada penghuninya.. seorang pria bule bernama ALI (masih saudaraan sama ALI BABA ga ya? <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/8.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammer:" />) Sebagai penggantinya kami ditawari untuk menginap rumah penduduk bernama..(aduh gw lupa namanya sapa, sebut saja Mr. X). Dengan biaya sebesar Rp. 200.000,-  kami mendapatkan 2 kamar, 3 ranjang, 1 kamar mandi, 1 dapur dan bonus gas 3kg <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />.<br />
Rencananya malam ini kami akan melihat penangkaran Penyu. Tapi hal itu saya urungkan. Saya dan Kang Ndarz lebih memilih tinggal di rumah. Setelah ditinggal pergi oleh Smigun, Rangga, Fearly, dan Maggie. Saya dan Kang Ndarz ngobrol ngalur ngidul, mana si kang Ndarz cerita tentang penampakan-penampakan atau hal mistis lagi, haiya.. <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/takuts.gif" style="border:none;background:none;" alt=":takuts" /> Untungnya hal itu tidak berlanjut lama karena lapar obrolan kami hentikan dan sekarang kami berdua mencari ayam goreng yang diumpetin Maggie. <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/020.gif" style="border:none;background:none;" alt=":siul:" /></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">25 Desember 2010</span></p>
<p style="text-align: justify;">Rencana untuk menyusuri pantai sambil berburu sunrise batal&#8230; Karena kami tidur terlalu malam pastinya tidak bisa bangun terlalu pagi. Rangga yang berperan menjadi koki mengeluarkan jurus -jurus mautnya yang telah ia pelajari selama menjadi anak kos. Sarapan siap tersedia dan anehnya tepat dengan Kang Ndarz bangun tidur&#8230; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/004.gif" style="border:none;background:none;" alt=":matabelo:" /> Selesai sarapan, saya, Rangga, dan Smigun berjalan-jalan di pantai. Hampir jam 14.00 siang kami berangkat menuju Curug Cikaso menggunakan angkot carteran. Letak curug itu berada dekat terminal Surade. Untuk mencapainya kita harus menumpang perahu dengan biaya Rp. 15.000,- / orang.<br />
<img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1366.snc4/163875_1598774443624_1063910846_31389914_90587_n.jpg" alt="naik perahu dulu" width="432" height="289" /><br />
Hujan mengguyur dengan derasnya ketika langkah kaki baru menginjakan  curug Cikaso  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/paw.gif" style="border:none;background:none;" alt=":Paws:" /> . Kesialan tidak berhenti sampai di situ, karena lensa 20mm saya mendadak sakit&#8230; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/mads.gif" style="border:none;background:none;" alt=":mads" /> Bad mood melanda sukma. Tak jadilah saya ber SS ria. Dengan mengandalkan lensa 50mm, saya menjepret sekelompok anak muda yang narsis. <img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs746.ash1/163875_1598774523626_1063910846_31389916_6053757_n.jpg" alt="narsis" width="432" height="289" /></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Smigun selesai dengan lensa 18-55mm barulah diri saya meminjam lensa tersebut. Jepret&#8230;</p>
<p><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs031.snc6/166191_1598777083690_1063910846_31389926_7580533_n.jpg" alt="Cikaso" width="289" height="432" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Hari sudah semakin sore. Dari terminal Surade kami menaiki bus menuju Terminal Baranangsiang &#8211; Bogor. Untuk busnya sendiri adalah bus MGI dengan tarif Rp. 35.000,- Selesai sudah petualangan sejenak saya di Ujung Genteng. Bila terhibur tidak menolak  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/tambahan-kaskuser/cendol.gif" style="border:none;background:none;" alt=":cendol" /> hehehe <a href="http://www.kaskus.us/reputation.php?p=324660663">cantigi.net</a></p>
<p>mau liat putu lengkapnya? <a href="http://www.facebook.com/#!/album.php?id=1063910846&amp;aid=2077369">klik di sini aja</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/01/menuju-ujung-genteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalamanku di Lombok</title>
		<link>http://cantigi.net/2010/09/pengalamanku-di-lombok/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2010/09/pengalamanku-di-lombok/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 04:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 4 September 2010. Setelah beberapa hari sebelumnya meminta izin kepada atasan untuk tidak masuk kerja karena sebenarnya libur Lebaran baru dimulai pada tanggal 9 September 2010.Atasanku sudah paham dengan maksudku untuk pergi ke Lombok. Yaitu untuk mendaki Gunung, dan sempat – sempatnya dia menyarankan kenapa tidak mendaki Gunung Sinabung aja yang baru meletus… Diiringi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sabtu, 4 September 2010. Setelah beberapa hari sebelumnya meminta izin kepada atasan untuk tidak masuk kerja karena sebenarnya libur Lebaran baru dimulai pada tanggal 9 September 2010.Atasanku sudah paham dengan maksudku untuk pergi ke Lombok. Yaitu untuk mendaki Gunung, dan sempat – sempatnya dia menyarankan kenapa tidak mendaki Gunung Sinabung aja yang baru meletus…</p>
<p style="text-align: justify;">Diiringi dengan doa kedua orangtuaku, aku berangkat menuju ke Stasiun Kota. Apalagi kalau bukan untuk naik kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan. Berkaca pada pengalaman tahun lalu, maka aku pun segera menuju tempat Lansir Kereta itu. Sialnya ternyata kereta sudah penuh, padahal ini masih 6 hari lagi sebelum Idul Fitri…Aku pun hanya bisa pasrah untuk duduk di lantai gerbong kereta. Tapi keberuntungan itu berpihak padaku. Salah seorang Bapak menawarkan kursinya padaku karena dia hanya mengantarkan para saudaranya mudik ke Surabaya. Dia merasa kasihan kepadaku karena menggendong keril yang menurutku tidak besar – besar amat dan ditambah lagi teman sebangku ternyata dari satu almamater yang sama dan satu jurusan pula.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Indonesian Time</strong><br />
Minggu, 05 September 2010. Pukul 4.30 dini hari, Kereta Gaya Baru Malam Selatan tiba di Stasiun Gubeng Surabaya. Tumben sekali menurutku, karena seperti yang sudah – sudah kereta tiba di atas jam 08.00 wib. Tapi menurut Bapak depan kursiku, ini sudah termasuk telat. Lantas, sebenarnya kereta harus tiba di Surabaya pukul berapakah? Saya memutuskan untuk rehat sejenak di stasiun karena tidak enak mengganggu teman kantor yang akan saya singgahi sekaligus mengambil tiket bus Surabaya – Mataram. Tepat pukul 05.30 saya akirnya beranjak dari stasiun. Menyusuri jalan dengan menaiki Becak. Meski keluarga temanku itu berpuasa, akan tetapi mereka menyediakan sarapan untukku. Di tempat dia lah aku menumpang mandi dan beristirahat hingga batas pemberangkatan bus tiba di terminal Bungur Asih. Dan Akupun dilarang pergi sebelum makan siang terlebih dahulu. Benar – benar keluarga yang baik…</p>
<p style="text-align: justify;">Di terminal Bungur Asih, aku bergabung dengan rekan- &#8211; rekan pendakian. Rio Praditia alias Aconk, Vera, Suyan, Rukiya, Miky, Ilmy, dan Ilse. Menurut informasi, bus Titian Mas akan berangkat pukul 14.00 WIB. Tapi itu hanya sekedar informasi karena kenyataannya bus berangkat pukul 16.00 WIB. Indonesian Time begitulah cara Acong menjelaskan keterlambatan pemberangkatan bus kami kepada keempat mahasiswi dari Belanda itu. Selain tidur tidak banyak aktivitas yang kami lakukan di dalam bus.</p>
<p style="text-align: justify;">Senin, 06 September 2010 subuh dini hari bus memasuki pelabuhan Gilimanuk – Bali. Pemeriksaan identitas diri menjadi rutinitas yang wajib dijalani. Ilse, Ilmy. Miki, dan Rukiya menunjukan paspor mereka. Saya, Vera, dan Suyan menunjukan KTP. Acong menunjukan KTM karena di usianya yang berkepala dua masih belum saja membuat KTP. Dan ternyata di belakang saya ada seorang pelajar SMA yang menunjukan Surat Tanda Tamat Belajar.<br />
Pukul 09.00 wita bus sudah sampai di Pelabuhan Padang Bai. Informasi yang didapat bus kami bisa menyebrang ke Lombok pada pukul 10.00 wita. Lagi – lagi harus pakai istilah It’s Indonesian Time karena ternyata bus yang kami tumpangi baru bisa menyebrang pada pukul 11.00 wita</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perbedaan Karakter</strong><br />
Sampai di terminal Mataram kami langsung diserbu puluhan calo. Gaya bicara mereka seperti orang yang mau marah. Setelah bernegoisasi panjang lebar dengan mereka, kami dibawanya ke mobil L300. Sesuai kesepakatan kami membayar setengah terlebih dahulu dan sisanya akan dibayarkan jika sudah sampai di Sembalun. Bukan cuma kami yang menumpang L300, ada penduduk lokal juga. Beberapa wanita dan seorang wanita. Meski wanita gaya bicara tak mau kalah dengan para Pria. Berteriak kencang dalam bahasa daerah seakan memarahi atau mengutuki lawan bicaranya. Apa yang kutakutkan telah terjadi. Ternyata supir L300 itu tidak mau membawa kami sampai ke Sembalun. Sampai di Pasar Aikmel ternyata mereka telah meloby mobil lain untuk membawa kami ke Sembalun. Dan untungnya Acong tidak membayar penuh kepada supir L300 itu.<br />
Dengan mobil Pick Up kami dibawa menuju Pos Pendakian Sembalun.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diam itu Emas?</strong><br />
Selasa, 07 September 2010. Bangun pagi, menikmati indahnya suasana di kaki Gunung Rinjani. Saya, Aconk, Vera, dan Suyan mencari toko untuk menambah perbekalan sekaligus mencari warung makan untuk sarapan. Mencari di luar karena Pondok Sembalun menerapkan standart harga untuk wisatawan asing. Dan kami sebagai wisatawan domestik hanya bisa gigit jari karena harga seporsi nasi goreng saja dibanderol harga Rp. 20.000,- Dan sialnya ternyata kami harus benar – benar gigit jari karena tidak ada warung makan yang buka karena masih dalam rangka puasa. Ya, mau tidak mau kami kembali ke Pondok Sembalun. Setelah sarapan atau lebih tepatnya makan siang, kami pun memulai pendakian. Dalam pendakian ini, kami dibantu 2 orang porter bernama Pak Anwar dan Opat. Pa Anwar saya rekomendasikan bagi anda yang ingin mendaki Rinjani melalui Sembalun. Dia merupakan salah satu porter senior. Dia sudah mengerti apa saja tugas bagi seorang porter dan jago memasak juga. Meski kebetulan apa ga, foto dia terpampang di spanduk Rinjani di Pantai Senggigi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pos II merupakan tujuan utama kami hari ini. Karena di tempat ini terdapat sumber air. Dengan mengucap doa dalam hati serta tak lupa update status Facebook, saya bersama teman- teman memulai pendakian ini. Awal pendakian kami disuguhi dengan pemandangan bunga berwarna kuning seperti bunga Matahari. Selepas itu kami mulai memasuki perkebunan warga. Panasnya sinar mentari tidak menyurutkan kami melangkahkan kaki. Formasi pendakian saat itu adalah 2 porter paling depan disusul trio Belanda atau sesekali Aconk di depan mereka. Lalu Vera dan Suyan setelah itu Rukiye dan seperti yang sudah anda bisa tebak, sayalah yang paling terakhir atau istilah kerennya sweeper.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/4997478803/" title="yellow by cantigidotnet, on Flickr"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4091/4997478803_ed93d0c114.jpg" width="382" height="500" alt="yellow" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pos I (Pemantauan) dapat ditempuh dalam waktu 3 – 4 jam. Tak berlama – lama di Pos I kami segera tancap gas menuju Pos II. Mengingat hari sudah sore. Dalam perjalanan ke Pos I tadi saya lebih banyak diam mengingat bahasa Inggris saya acak adut sehingga saya lebih baik diam saja. Tapi tak disangka aksi diam saya tadi diartikan beda oleh Rukiye. Dia menyangka saya marah karena dia berjalan terlalu lambat.<br />
Perjalanan ke Pos II dapat ditempuh selama 1 jam. Sesampainya di Pos II (Trengengean) waktu sudah menunjukan pukul 18.00 WITA. Saya yang tiba paling terakhir langsung menyambar sebuah pisang Ambon. Demi pembenaran diri akan ketidak enakan hati terhadap Rukiye, maka saya berkata iya saja ketika Acong menjelaskan bahwa aksi diam tadi karena saya sedang lapar&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Are u OK?</strong><br />
Rabu, 08 September 2010. Seusai makan pagi, acara selanjutnya adalah acara rutin yaitu BAB. Yang dapat saya tangkap mereka para noni Belanda ikut menamakan ampasnya sendiri seperti Rukiye menamakan ampasnya dengan nama Rukiyani. Kenapa Rukiyani? Karena saat ini ada di Gunung Rinjani. Jadi mengikuti akhir kata –ni.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 10.00 WITA, kami melanjutkan pendakian. Pos Pelawangan Sembalun merupakan tujuan utama hari ini. Susunan formasi pendakian tidak banyak berubah. Kecuali Ilse dan Acong yang mundur ke belakang. Yang membuat saya heran baru kali ini saya mendaki tetapi ada Jembatan Penghubungnya. Hal itu saya tanyakan kepada Pa Anwar. Ternyata dulu ketika Alm. Bp. Soeharto masih memimpin bangsa ini. Dia mengunjungi Lombok dan ingin ke Gunung Rinjani juga. Maka dibuatkanlah jalan besar untuk muat 1 mobil. Salah satunya adalah jembatan yang terhubung tadi. Lalu jadikah Alm. Bp. Soeharto mengunjungi Rinjani? Ternyata tidak&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas Pos III (Padabalong) sesungguhnya jalur mulai agak berasa berat. Banyak didominasi dengan punggungan. Dan tentu yang paling terkenal adalah Bukit Penyesalan. Hei Andri, Are u OK? Do you want to break or take a picture? Pertanyaan itulah yang sering dilontarkan kepada saya oleh Rukiye. Bertanya siapa tau jawabannya saya iya sehingga dia bisa mendapatkan istirahat sebentar. Tapi kenyataannya jawaban saya seringkali No…<br />
Sampai di Pos IV (Pelawangan) saya dikejutkan dengan hujan besar yang disertai petir. Dalam benak saya teringat akan peristiwa pada beberapa bulan yang lalu ketika salah satu universitas di Bandung mengadakan diklat. Dan 2 orang mahasiswanya harus menjadi korban terkena samberan petir. Saya terus berdoa dalam hati agar hujan berhenti. Saya tidak mau jadi Gundala si anak Petir apalagi masuk dalam headline berita di Koran “Salah satu pendaki Rinjani tewas terkena Petir”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan hujan pun reda. Saya bergegas menuju tenda yang telah didirikan Pa Anwar dan Opat. Sudah ada beberapa tenda yang berdiri. Umumnya mereka adalah wisatawan mancanegara. “Ver, Yan, tolong masukin tas gw dulu donk ke dalam..” tak ada jawaban. Seharusnya mereka berdua sudah tiba terlebih dahulu karena sayalah orang dalam team yang paling terakhir. Ketika saya menanyakan kepada Miki di mana mereka, dia hanya mengatakan bahwa mereka tadi rencananya mau menunggu kami di Plang Pos Pelawangan. Kepanikan melandaku, kalau – kalau saja mereka ada kenapa – kenapa. Mana tadi orangtua Suyan menelpon ke HP yang aku bawa (HP ku bisa dual simcard) dan mengatakan bahwa Suyan ada di Bali dan baik – baik saja… Bersama dengan Opat saya mencari mereka berdua. Ternyata mereka salah memilih jalur. Di pertigaan jalur seharusnya mereka lurus terus dan tidak belok ke kanan menuju Danau Segara Anak.<br />
Tebalnya kabut menghalangi jarak pandang ketika kami menikmati sunset.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/4998182082/" title="kabut tebal by cantigidotnet, on Flickr"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4116/4998182082_7855ae1913.jpg" width="500" height="334" alt="kabut tebal" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanah Tertinggi Pulau Lombok</strong><br />
Kamis, 09 September 2010. Pukul 12.00 wita saya bangun. Mempersiapkan diri untuk menginjakan kaki di tanah tertinggi Pulau Lombok. Rencananya hanya saya, Suyan, Vera, dan ditemani Pa Anwar yang akan ke Puncak. Baju dilapisi Jaket North Face hijau ditambah dengan Sweater pinjeman dan ditambah lagi dengan jas hujan Takachi (murah) cukup membuat badan ini terasa hangat. Sayang untuk bawahannya sempak hanya dilapisi celana Gunung yang sudah basah terguyur hujan kemarin sore.<br />
Pertengahan jalan saya mengecek sudah jam berapa melalui jam HP. Ternyata masih ada sinyal. Tak lupa meminta doa kepada teman – teman melalui Facebook. Sampai saat ini, saya yang paling depan tapi ketika gerimis disertai angin yang cukup besar menciutkan nyali maka saya memilih menunggu orang saja di balik lindungan batu besar. Tak disangka yang pertama kali menghampiri saya adalah Suyan. Karena saya berhenti, Suyan pun ikut berhenti juga. Kami beristirahat cukup lama sampai pada akhirnya sepasang suami istri dari Jepang ditemani oleh seorang guide mendahului kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalur ke Puncak terus mendaki. Terjal dan didominasi oleh kerikil – kerikil kecil serta pasir. Orang Jepang itu sudah jauh berjalan. Lalu beberapa wisman pun mendahului saya. Awal paling pertama, tapi ketika hampir sampai puncak jadi yang paling terakhir. Tanjakan terakhir semangat saya bernyala kembali. Hanya 3 menit lagi sampai Puncak seru seorang wisman. Yup, akhirnya kaki ini sampai juga di tanah tertinggi Pulau Lombok. Sangat disayangkan kabut tebal dan disertai angin kencang belum mau berhenti sehingga saya tidak bisa mendapatkan pemandangan apa – apa. Paling tidak saya sudah pernah menggapai mimpi saya berada di Puncak Gunung Rinjani.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perubahan Rencana</strong><br />
Cuaca tak kunjung membaik ketika kami kembali ke tenda. Gerimis belum mau menghentikan aktivitasnya. Maka dengan berat hati rencana untuk bermalam di Danau Segara Anak ditiadakan. Kembali ke penginapan Pondok Sembalun merupakan pilihan yang paling tepat. Pukul 12.00 wita kami mulai bergerak turun. Mendengar kata hotel merupakan candu yang sangat kuat bagi Ilse, Ilmy, Miki, dan Rukiye. Mereka seakan tanpa lelah terus berjalan. Mungkin yang ada di dalam pikiran mereka hanya hotel, hotel, dan hotel saja. Sisanya kami seperti pesakitan 45. Berjalan terseok – seok karena kelelahan. Jauh tertinggal oleh mereka. Hampir jam setengah dua belas ketika kaki kami menginjakan Pondok Sembalun lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sindang Gila, lalu ke Senggigi</strong><br />
Jumat, 10 September 2010. Merupakan lebaran hari pertama. Kami harus melupakan sejenak untuk cepat – cepat ke Sindang Gila dan mengejar sunset di Senggigi Beach karena kami harus menghormati supir pick up yang ikut berlebaran juga. Bp. Gita adalah pemilik mobil pick yang telah mengantar kami dari Pasar Aikmel menuju Sembalun. Dia menyarankan lebih baik langsung menghubungi dirinya bila sudah di Mataram karena akan dia jemput dengan mobil pick up. Ya, kejadian tempo hari memang akan lebih baik bila kami langsung menyewa pick up saja. Bagi teman – teman yang memang ada rencana ke Rinjani dan mau no Hp beliau maka PM saja saya.<br />
Pukul 13.00 wita kami berangkat menuju ke Sindang Gila. Kebut – kebutan motor merupakan hal yang sering lihat dalam perjalanan ke Senaru. Puncaknya 2 orang pengendara motor tabrakan, tak sadarkan diri.<br />
Dari Sindang Gila kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Senggigi. Hotel Ellen merupakan tempat singgah kami. Rp. 150.000 merupakan harga yang harus kami bayar per malamnya.</p>
<p><a title="berdiri sendiri by cantigidotnet, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/4997422135/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4154/4997422135_c283d14586.jpg" alt="berdiri sendiri" width="334" height="500" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kenapa Mendaki Gunung?</strong><br />
Salah satu alasan yang dapat saya jelaskan kenapa saya lebih memilih mendaki Gunung dibandingkan Pantai ialah saya sering masuk angin kalau ke Pantai. Begitulah yang terjadi ketika saya ke Pantai Senggigi. Terpaan angin pantai membuat kepala terasa pusing dan tentunya saya masuk angin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ye*** Cafe Anda layak dapat Kancut</strong><br />
Kancut? Dulu ketika masih awal – awal kuliah. Aku dan teman- temanku seringkali membuka sinema Indonesia dot com. Di sanalah terdapat review film – film Indonesia yang diputar di Bioskop. Kalau film yang diputar jauh dari biasa alias lebih baik nonggol di sinetron dan tidak layak ditonton di Bioskop atau kalau mau nonton sedang banyak punya duit sehingga rasa kecewa menghamburkan duit tidak begitu terasa, maka yang empunya sinema Indonesia dot com akan memberikan rating Kancut.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya itulah yang saya dapatkan ketika bertandang ke café itu. Dengan sangat terpaksa karena warung – warung tenda tutup karena hari Lebaran. Dua lelaki aneh dengan bau badan menyengat karena seharian belum mandi. Baju acak – acakan ditambah yang satu berambut gondrong tak terurus. Mungkin benar kalau dulu saya pernah membaca kalau di Bali atau Lombok, orang – orang lokal alias sebangsa setanah air mendapatkan pelayanan kelas 2. Seperti inilah yang saya dapatkan sekarang di café ini. Menu makanan diberikan setelah kami memintanya dan tisu abis di meja makan dibiarkan saja, kosong melompong tidak ada niatan untuk menaruh tisu baru. Kami memesan ayam Taliwang. Setidaknya itulah makanan yang paling murah selain nasi goreng sayuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari kedua makan di café itu ada peningkatan kualitas pelayanan. Mungkin karena kami membawa 4 noni Belanda itu. Dengan sigap pelayan memberikan menu, menambah tisu yang sebenarnya belum habis tapi tinggal sedikit. Menambahkan nyala lilin biar romantis katanya. Menanyakan dari mana mereka berasal dan ketika tau dari Belanda tanpa dikomando pelayan itu langsung bernyanyi Geef Mij Maar Nasi Goreng. Tetapi kekaguman sesaatku atas perubahan pelayanan cafe itu sirna karena pelayan restoran itu menyangka saya dan Acong merupakan seorang gigolo dan mengatakan You Are Lucky Guy&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tuhan Tidak Tinggal Diam</strong><br />
Sejam berlalu ketika kami telah selesai memesan makanan. Tetapi yang masih tersedia di meja makan hanyalah minuman saja. Ilmy dan Miki semakin tidak sabar menunggu makan malam. Ketika pelayan hanya mengatakan sabar, sabar dan tunggu, maka kesabaran itu sudah di ambang batasnya. Miki lalu pergi ke kasir dan mengatakan bahwa kami tidak jadi memesan dan hanya mau membayar minumannya saja. Kami pun pindah ke seberang cafe itu. Mungkin itulah balasan setimpal buat mereka yang mengatakan ku seorang gigolo&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Miki dan Ilmy mengatakan bahwa di cafe seberang harganya sama saja. Dan dengan keyakinan penuh kami berdua menurut saja dibawa ke seberang. Pelayanan di cafe seberang memang lebih oke. Ketika akan duduk, kursi kami ditarik dan dimajukan. Dipakaikan serbet. Dan yang paling penting ada makanan kecil sebagai pengganjal perut. Saya hanya bisa membolak – balik menu cafe seberang tersebut. Ternyata harga makanan jauh lebih mahal. Dan yang kuyakin keunggulan cafe ini dibandingkan dengan cafe yang tadi adalah harga sebuah air mineral ukuran sedang dibanderol lebih murah seribu rupiah.<br />
Tuhan tidak tinggal diam ketika Ilse menanyakan kebenaran harga cafe ini dibandingkan cafe Ye*** tadi, Acong hanya bisa menjawab more expensive lalu mungkin karena adanya pengaruh alkohol dalam minuman di Ye*** cafe atau tepatnya kebaikan hati Ilse maka kami ditraktirnya. Pulang makan malam ketika melewati cafe Ye*** tak ayal kami menerima berondongan mata tajam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2010/09/pengalamanku-di-lombok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

