<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cantigi.net &#187; Jelajah</title>
	<atom:link href="http://cantigi.net/category/jelajah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cantigi.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 01:42:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Pantai Indrayanti &#8211; Jogjakarta</title>
		<link>http://cantigi.net/2012/03/pantai-indrayanti-jogjakarta/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2012/03/pantai-indrayanti-jogjakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 23:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1156</guid>
		<description><![CDATA[Untitled by Andri Suanto]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://500px.com/photo/6081207"><img src="http://pcdn.500px.net/6081207/422927ea67add75b25ed2c17fd6249526693c011/4.jpg" alt="Untitled by Andri Suanto (cantigidotnet) on 500px.com" border="0" style="margin: 0 0 5px 0;"></a><br/><font style="font-size: 120%;"><a href="http://500px.com/photo/6081207">Untitled</a> by <a href="http://500px.com/cantigidotnet">Andri Suanto</a></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2012/03/pantai-indrayanti-jogjakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantai Siung &#8211; Jogjakarta</title>
		<link>http://cantigi.net/2012/03/pantai-siung/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2012/03/pantai-siung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 23:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1151</guid>
		<description><![CDATA[Untitled by Andri Suanto]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://500px.com/photo/6079704"><img style="margin: 0 0 5px 0;" src="http://pcdn.500px.net/6079704/737e854cdcb9dfb2c4601bb6c60ddc2ad0607a1d/4.jpg" alt="Untitled by Andri Suanto (cantigidotnet) on 500px.com" border="0" /></a><br />
<span style="font-size: 120%;"><a href="http://500px.com/photo/6079704">Untitled</a> by <a href="http://500px.com/cantigidotnet">Andri Suanto</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2012/03/pantai-siung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>No Telp Angkutan</title>
		<link>http://cantigi.net/2012/03/no-telp-angkutan/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2012/03/no-telp-angkutan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2012 08:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1147</guid>
		<description><![CDATA[Sinar Jaya di Palmerah : 081905900444 Trayek : Pekalongan Purwokerto BANJARNEGARA Wonosobo PO Malino (Gantung &#8211; Cengkareng) : 0813 933 8524]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sinar Jaya di Palmerah : 081905900444<br />
Trayek : Pekalongan Purwokerto BANJARNEGARA Wonosobo</p>
<p>PO Malino (Gantung &#8211; Cengkareng) : 0813 933 8524</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2012/03/no-telp-angkutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sindoro</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 09:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 23 September 2011 Jam 17.00 kurang dikit, saya sudah bergegas meninggalkan kantor karena  Pa Anto (petugas loket) memberitahukan saya bahwa bus akan berangkat tepat pukul 17.30 WIB.  Masih dalam bayangan percakapan kemarin &#8220;Ga bisa telat dikit gitu Pa?&#8221; tawar saya.. &#8220;Ya paling telat 15 menitlah..!&#8221; serunya. 15 menit sebelum keberangkatan saya sudah sampai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;">Jumat, 23 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Jam 17.00 kurang dikit, saya sudah bergegas meninggalkan kantor karena  Pa Anto (petugas loket) memberitahukan saya bahwa bus akan berangkat tepat pukul 17.30 WIB.  Masih dalam bayangan percakapan kemarin &#8220;Ga bisa telat dikit gitu Pa?&#8221; tawar saya.. &#8220;Ya paling telat 15 menitlah..!&#8221; serunya. 15 menit sebelum keberangkatan saya sudah sampai di Jembatan Gantung dan Omat menghubungi saya, &#8220;Ndri, bus berangkat jam berapa seh?&#8221; &#8220;Jam 17.30 mat, mang u dah di manakah?&#8221;jawabku, &#8220;Gw masih di Slipi..!&#8221;, Saya :  &#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/hammers.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammers" /> &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir jam 6 sore ketika Omat tiba. Dan ternyata bus yang akan kami tumpangi belum juga ada <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" />  Barulah jam 7 kurang bus perlahan masuk ke parkiran dan setelah menaikan penumpang baru pukul 7 lewat 10 bus berangkat ke Pulo Gadung untuk menaikan lagi penumpang dari sana. Dari Pulogadung saya lebih memilih untuk tidur. Terbangun ketika bus ini saya rasakan berhenti dan ketika melihat keluar jendela saya melihat banyak para wanita. &#8220;Koq banyak cewe ya, pada pake pakaian you can see dan celana pendek lagi?&#8221; ups  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/5.gif" style="border:none;background:none;" alt=":shutup:" /> ternyata bus sedang berhenti di Indramayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertemu dengan mas Sigit, Djoko, Oman Putih, dan beberapa temen lainnya yang juga sama mau mendaki Sindoro di tempat peristirahatan PO Malino. Mas Sigit adalah seorang yang ikut menghilang di <a href="http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/">Gunung Argopuro tempo hari</a>. &#8220;Ga kapok naik bareng Djoko?&#8221; serunya kepada saya.. Pertanyaan yang salah ditujukan kepadaku, seharusnya saya yang bertanya kepadanya: &#8220;Ga kapok menghilang bersama om Djoko?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Sabtu, 24 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di terminal Wonosobo, celingak &#8211; celinguk cari temen-temen yang lain. Setelah anggota team berkumpul semua, kami bergegas menaiki bus 3 per 4. Saya lebih memilih tidur di dalam bus. Ketika bangun bus sudah sampai di desa Sigedang. Rencananya memang kami mulai mendaki dari Tambi. Ketidaktahuan kami akan pos 3 membuat bus itu dengan seenaknya menaikan lagi dan lagi tarif yang telah disepakati sebelumnya. Dari catper-catper lain yang saya baca, memang bahwa jalan masih bisa dilalui kendaraan sampai pos 3.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan berdoa terlebih dahulu, kami memulai pendakian ini. Medan-medan awal adalah kebun teh yang kemudian berganti dengan padang rumput. Pukul 12.00 WIB pendakian kami hentikan untuk makan siang yang sebelumnya kami bungkus dari terminal Wonosobo. Tak bosannya saya tanyakan kepada Omat kita sudah berada di ketinggian berapa. Agar dapat mengira-ngira jarak yang harus ditempuh masih berapa jauh.</p>
<p><a title="Awan Putih oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6185219588/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6178/6185219588_00d5cd764e.jpg" alt="Awan Putih" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 17.00 akhirnya kaki ini sampai juga di puncak Sindoro, om Djoko yang sudah sampai duluan mengajak kami untuk segera mendirikan lapak (baca : tenda). Berjalan mengitari kawah mati dan tepat di hadapan kokohnya Gunung Sumbing kami mendirikan tenda. Lokasi tempat mendirikan tenda cukup strategis karena samping kiri kanan dan belakang terlindung oleh bukit dan di depan kami bisa langsung menikmati Sunrise langsung keesokan harinya. &#8220;Mat, buruan diriin tenda, dah jam 5 neh&#8221; seruku ke Omat. Tenda MHW, meski sudah pernah dipakai sekali di Papandayan tetap bikin kagok waktu kami mendirikannya. Setelah selesai mendirikan tenda, saya dan Omat bergegas menuju pelataran barat puncak Sindoro untuk menikmati Sunset.</p>
<p><a title="Cantigi Sunset oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6188357619/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6156/6188357619_f38ca5c2bd.jpg" alt="Cantigi Sunset" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Puas menikmati sunset (dan ternyata hanya saya, Omat, dan Djoko saja yang pergi melihat Sunset) kami kembali ke tenda. Ketiadaan sumber mata air memaksa kami untuk tidak memasak makanan yang membutuhkan air. Jalan terbaik adalah menggoreng nugget dan memakannya dengan lontong yang telah disiapkan oleh Fitria. (hedeuh, padahal udah bawa mie, spaghetti, Oat Meal, dan pancake). Selanjutnya adalah mencoba praktek star trails. Hasilnya mana gan? maaf saya gagal.. hehehe, udara dingin memaksa saya untuk segera masuk ke dalam dekapan sleeping bag. Dan Omat memberitahukan bahwa suhu saat itu mencapai 7 derajat Celcius dan juga tidak begitu valid karena mungkin bisa lebih dingin. (Termometernya ada di jam tangan yang dipakainya).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Minggu, 25 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari ternyata suhu menjadi lebih dingin. &#8220;3 derajat Celcius&#8221;  menurut pengakuan Omat. Sambil menunggu munculnya Mentari, tubuh ini tidak berhenti menggigil.</p>
<p><a title="Sambut Pagi oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6192057968/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6022/6192057968_d7e3321be0.jpg" alt="Sambut Pagi" width="500" height="237" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bantuan air punya tetangga, Omat mulai memasak pancake dan saya menggoreng telor ceplok. Sarapan pagi ini roti tawar isi telor + pancake. Jam 8.00 WIB kami semua sudah selesai membongkar tenda dan persiapan turun. Setelah sesi foto keluarga dan dilanjutkan berdoa kami pun mengakhiri kegiatan kami di puncak Sindoro. Kami turun melalui jalur Kledung.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata kebakaran melanda kawasan hutan sebelum puncak. Api tampak  masih menyala dan saya hanya bisa berucap semoga lekas padam dan hijau seperti sedia kala.  Tak ingin terlambat menuju Wonosobo saya menaikkan tempo dalam menuruni punggungan Sindoro dengan resiko membuat gagal dengkul dengan cepat. Jalur yang curam sebelum pos 3 juga membuat saya jatuh bangun Air yang saya bawa hanya 3/4 botol besar yang kemudian saya pindahkan ke waterblade. Cuaca panas dan debu yang mendominasi membuat saya terlalu cepat meneguk air. Seteguk dua teguk dan saya pun menyadari kesalahan saya. Terlalu cepat meminum sedangkan basecamp masih sangat jauh.</p>
<p><a title="Gunung Sumbing oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6185564830/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6155/6185564830_14e2ea321c.jpg" alt="Gunung Sumbing" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pos 3 saya berjalan sendirian. Rombongan depan sudah jauh sedangkan rombongan lain tertinggal di belakang. Air di waterblade semakin menipis dan saya menyedotnya bila tenggorokan sudah benar-benar kering dan itupun hanya seteguk dikit guna membasuh tenggorokan ini. Pelan-pelan saya berjalan agar tidak terlalu capai dan bila ada pendaki lain yang turun melewati saya, saya mempersilakan duluan dan terus bertanya, &#8220;Mas, basecamp masih berapa jam lagi?&#8221; Pendaki lainnya yang sedang turun , seorang remaja yang saya taksir masih di bangku sekolah menengah melewati saya. Saya melihat cadangan air di kantong celananya masih banyak dan tanpa basa basi saya memintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum pos 2, saya bertemu dengan Dya dan Dwie. Problem mereka sama dengan saya, hampir kehabisan air. Kami pun berjalan bersama (tapi lebih banyak ketinggalan sayanya). Sesudah pos I kami melihat para ranger (polisi hutan) sedang beristirahat. Melaporkan kejadian kebakaran hutan kepada mereka dan yang terpenting meminta air kepada mereka. Sebelum masuk vegetasi ladang penduduk, Dwie meminta Djoko untuk mengirimkan ojeg. Dan dengan ojeg selanjutnya kami menuju basecamp.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Ngapain) Kembali ke Argopuro</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 09:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Argopuro]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[hipotermia]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Foto-foto elu di Argopuro busuk&#8221; kata-kata Acong itu akhirnya juga mempengaruhiku untuk kembali mendaki Gunung Argopuro setelah 2 tahun sebelumnya saya pernah ke sini. 31 Agustus 2011 Setelah malam sebelumnya, saya mengirimkan SMS ke Djanu agar sampai ke Stasiun Kota tepat pukul 07.00 WIB biar mendapatkan tempat duduk di Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Foto-foto elu di Argopuro busuk&#8221; kata-kata Acong itu akhirnya juga mempengaruhiku untuk kembali mendaki Gunung Argopuro setelah <a href="http://cantigi.net/2009/10/siapa-suruh-naik-argopuro/"> 2 tahun sebelumnya</a> saya pernah ke sini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">31 Agustus 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah malam sebelumnya, saya mengirimkan SMS ke Djanu agar sampai ke Stasiun Kota tepat pukul 07.00 WIB biar mendapatkan tempat duduk di Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tapi apa daya karena mundurnya perayaan Idul Fitri tahun ini, maka dengan berat hati saya mengirimkan kabar lagi kepada Djanu bahwa kemungkinan besar saya telat karena tidak ada kendaraan umum yang lewat di depan rumah. Pukul 07.00 WIB, saya baru mendapatkan angkutan berwarna biru bernama Metromini. Di dalamnya saya menerima kabar bahwa tiket kereta Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) sudah habis, seakan tidak percaya saya pun mengatakan &#8220;Ah, yang bener lu&#8230;, Elu nanyanya ma petugas tiketnya bukan?&#8221; &#8220;Iya beneran, gw tanya ma petugas tiketnya.. sampe 2 orang lagi..!!&#8221; jawab Djanu&#8230; &#8220;Kalo Kertajaya ada ga?&#8221; saya tanya lagi, &#8220;Bentar.., ada Ndri jam 17.10 ambil ga?&#8221; kata Djanu, &#8220;Ya sudah, ambil aja itu, Kertajaya&#8221; jawabku menyudahi SMS.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 08.00 WIB, sampai juga di stasiun Kota. Ketika bertemu dengan Djanu, saya mengecek logistik apa saja yang dibawanya, hanya untuk memastikan saja karena inilah pengalama pertamanya mendaki Gunung. &#8220;mie dan 15 telor asin&#8221; jawabnya mantap seakan saya tidak usah meragukannya lagi. Dan saya mengatakan kepadanya agar kita tetap naik GBMS  dengan memakai tiket Kertajaya. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya agar mendapatkan tempat duduk, maka yang diharuskan adalah menuju ke tempat lansir kereta tersebut. Tapi sial, di saat kami hampir mendekati tempat Lansir yang berjarak hampir 1km dari Stasiun, seorang pria berwajah agak sangar dan berpakaian biru tua yang menandakan bahwa dia adalah seorang petugas menegur kami. &#8220;Mau ke mana mas ?&#8221;, &#8220;Mau ke Gaya Baru Pa..&#8221;jawabku sekenanya &#8220;Kalau sekarang sudah tidak boleh ke Dipo lagi mas.., nunggunya di Stasiun aja&#8221; balasnya. Tanpa bisa membantah lagi kami pun beranjak kembali menuju tempat tunggu setelah sebelumnya juga ada spanduk besar yang bertuliskan &#8220;Penumpang yang terhormat, agar menunggu kereta di Stasiun dan bukan di Dipo&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sia &#8211; sia saja kalau sudah datang pagi ke Stasiun Kota untuk mendapatkan tempat duduk tapi ternyata tidak bisa colong start. Yang ada bisa duduk menghampar di lantai. Tak ingin begitu, saya pun memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman lain yang start dari Tanjung Priok untuk berangkat menggunakan kereta Kertajaya. Naik Mikrolet sekali, kami bergegas menuju Tanjung Priok. &#8220;Maaf mas, tiket ini tidak bisa naik kereta Kertajaya dari sini, tapi harus naik dari Stasiun Senen, tuh lihat tertulis keberangkatan dari Senen jam 17.00&#8243;, seorang petugas berkulit hitam dan juga berbaju serba hitam, bertubuh besar,  berwajah yang kali ini memang sangar dengan aksesoris kumis tebal, ditambah dengan suara bas memberitahukan saya. WTF, lagi seakan tidak percaya saya bertanya , &#8220;Memangnya beda Pa, Kereta yang ini dengan yang ada di Senen?&#8221; &#8220;Beda mas, kalau yang di Stasiun Senen adalah kereta tambahan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Gila, masa dari Stasiun Kota terus ke Stasiun Tanjung Priok harus muter lagi ke Stasiun Senen. Tak mau begitu saja dipermainkan kereta (bisa ya?  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/crazy.gif" style="border:none;background:none;" alt=":gila:" />)  Saya mencoba menghubungi Djoko (Trip Leader) untuk menanyakan apakah ada orang yang cancel. &#8220;Ada dua orang yang cancel..&#8221; Jawabnya ketika saya memberitahukan permasalahan yang telah terjadi kepadanya. Tanpa pikir panjang lagi, saya pun mengambil tiket yang batal itu. Ketika hilir mudik di Stasiun Tanjung Priok, petugas brewokan itu kembali menghampiri saya, &#8220;Mas, ga jadi ke Stasiun Senen?&#8221;, &#8220;Engga Pa, saya udah dapat tiketnya yang berangkat dari sini&#8221; jawabku. &#8220;Yah, terus tiket yang dari St. Senen hangus donk?&#8221; lanjutnya, &#8220;Ya, gpp Pa..&#8221;, jawabku lagi. &#8220;Hm, harusnya tadi ga usah ambil tiket lagi, yah gapapa pake tiket punya St. Senen tapi naik dari sini.., ya paling engga pake tambahin duit rokok&#8221;. Saya (dalam hati), &#8220;He..?&#8221;  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/fuck-8.gif" style="border:none;background:none;" alt=":fuck3:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Masih ada 2 tiket di tangan yang berangkat dari St. Senen. Saya dan Djanu mencoba menjualnya kembali kepada orang-orang yang masih mengantri. Takut-takut cemas, kalau-kalau saja ada petugas atau Polisi yang menganggap kami adalah seorang Calo setengah waras yang menjual tiket Kereta Api Kertajaya di bawah harga yang telah ditentukan. Rugi 7 ribu Rupiah tidak menjadi masalah dibandingkan harus rugi seluruhnya. Satu per satu teman seperjalanan telah tiba. Ada juga team dari kelompok lain yang menuju ke Raung dan Arjuno Welirang. Meski kami baru masuk 1 jam sebelum keberangkatan, syukurlah masih banyak tempat duduk yang belum terisi dan team Raung masih membicarakan permasalahan tali untuk menggapai Puncak Sejati. Tak banyak yang bisa dilakukan di dalam kereta. Tidur sampai kebosanan gaya (karena sudah mencoba berbagai macam gaya tetap saja tidak nyenyak <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/6.gif" style="border:none;background:none;" alt=":p" />) sampai ditegur oleh penumpang lain karena main kartu tepok nyamuk. &#8220;De, di sini ada yang jantungan..&#8221; De, udah malam&#8221;, &#8220;De, ada anak kecil yang udah tidur&#8221;, &#8220;De, mizonenya buat nemenin main kartu&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">01 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di Stasiun Pasar Turi sekitar jam 7 pagi. Pertama-tama yang dilakukan adalah menyerbu WC setelah turun dari kereta. Yang anehnya, petugas kebersihan WC tetap menerima lembar seribuan meski ada tertulis TOILET Gratis di depan pintu masuk. Setelahnya mencari sarapan dan mencharge para Handphone yang setengah kehilangan daya. Team Raung masih membicarakan masalah tali yang sampai detik ini belum ada, sebagai teman yang baik saya pun menyarankan &#8220;Bagaimana jika memakai tali kutang?&#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />. Dari Stasiun Ps. Turi kami berjalan kaki ke depan PGS (Pusat Grosir Surabaya) untuk naik bus ke Terminal Bungur Asih. Sampai di Terminal Bungur Asih, saya pun ditinggalkan oleh team utama. Mereka lebih dulu berangkat ke Terminal Probolinggo. Penyebabnya adalah saya, Djanu, dan Vera (untuk Vera dia langsung gabung dari Surabaya) masih harus menunggu team satu tenda yang tak lain adalah Rio Praditia alias Acong partner crime ke Semeru dan Rinjani.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Conk, di mana?&#8221; berkali &#8211; kali kami menghubungi dan mengirimkan SMS. &#8220;Udah naik ojeg atau Taxi aja biar lebih cepat&#8221; saran kami kepadanya &#8220;Ndri, duit gw itu yang di kantong tinggal 5.000 perak, ATM gw kan patah, lagian ojeg susah nyarinya kalo di Surabaya&#8221; jawabnya. Setelah kedatangannya kami segera bergegas mengejar ketertinggalan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berkumpul semua di Terminal Probolinggo, kami melanjutkan perjalanan ke Alun &#8211; Alun Besuki. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunakan pick up sewaan dengan tarif 15 ribu/orang. Banyak bonus pemandangan selama perjalanan ke desa Baderan. Sawah &#8211; sawah, pegunungan, dan tentu beberapa wanita sedang mandi di tepi Sungai  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q03.gif" style="border:none;background:none;" alt=":genit:" />. SMS dari Asa (team lain yang ke Argopuro, tetapi pisah di terminal Bungur Asih) telat masuk. Saya menerimanya ketika sudah setengah jalan ke desa Baderan &#8220;Om, sebelum naik ke Baderan setiap orang bawa fotokopi KTP dan dua materai 6rb untuk 1 kelompok untuk pengurusan simaksi di BKSDA. Trims. Asa. &#8221; Dan tentunya kami tidak membawa materai.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata pengurusan Simaksi tidak semudah seperti yang ada di Pos Bremi. Di Bremi seingatku hanya menuliskan nama dan memberikan selembar fotocopy KTP. Tapi hal itu tidak berlaku di Kantor BKSDA Baderan. Yang ada di pos Baderan adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>1 lembar SIMAKSI, yang bertuliskan nama-nama para pendaki yang kemudian ditempelkan materai dan juga Kartu Identitas Penduduk (dan lagi si Acong belum ada KTP dan sebagai gantinya, ia menyerahkan.. Oh bukan Kartu Tanda Mahasiswa koq, tapi Kartu Tanda Cuti  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" />) rangkap 5. Seingat saya, 1 buat pendaki, 1 buat arsip di BKSDA, 1 buat kantor pusat Surabaya, 1 buat kepolisian, 1 lagi buat siapa ya.. <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/7.gif" style="border:none;background:none;" alt=":confused:" /> saya lupa</li>
<li>Tiap pendaki wajib mengisi buku tamu. Nama, Alamat, dan nomor contact</li>
<li>Para pendaki harus berkumpul bersama agar dapat difoto dan tak ketinggalan kepala BKSDAnya juga. Alasannya adalah biar saya gampang nyarinya kalau terjadi sesuatu. (foto dari om Ahmad)</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Full Team bersama kepala BKSDA" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/316433_1746201553858_1803377810_1141164_1534028_n.jpg" alt="" width="432" height="324" /></p>
<p style="text-align: justify;">Baru larut malam kami berangkat yang dikarenakan tukang fotocopy sedang jalan-jalan entah ke mana sehingga perangkapan 5 lembar urung dijadikan. Cahaya yang dihasilkan dari <em>headlamp</em> beriringan membelah gelapnya malam. Kami terus berjalan hingga pukul 24.00 WIB. Saat dingin dan kantuk sudah menyerang, kami hentikan pendakian malam ini. Tenda saya, Acong, Djanu, dan Vera didirikan bersebelahan dengan Tenda teh Lisna dan TP. Sedangkan yang lain berada lebih ke atas tepatnya di halaman rumah petani (baca : di samping kandang Ayam).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">02 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari setelah sarapan dengan lauk telor asin, kami lanjutkan kembali pendakian ini. Selain jalanan yang mulai menanjak, yang menjadi pengganggu utama sepanjang perjalanan ini adalah terik Matahari dan debu-debu yang mau tak mau harus kami hirup juga. Brm.. Brmm.. suara motor menggilas jalanan yang berdebu. Dari belakang melajulah satu motor Cross yang berpenumpang om Mube. &#8220;Ga kuat jalan..!!&#8221; teriaknya ketika motor itu melintasiku. Memang dari kemarin, Om Mube sudah kena serangan di perut, entah masuk angin atau yang lainnya. Jalan, jalan, dan jalan lagi membayangkan seandainya naik ojeg langsung ke Cikasur. Dan saya hanya bisa berdoa agar ojeg itu setelah mengantarkan om Mube juga bisa mengantarkan saya secepatnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah tengah hari ketika saya mencapai pos Mata Air I. Bukannya mau menjadi yang paling terakhir tapi begitulah kaki seakaan tidak mau diajak kompromi. Untungnya ketika saya sudah sampai, makanan sudah tersedia dan lagi dengan lauk telor asin&#8230; Selesai makan siang, ojeg yang membawa om Mube sudah sampai juga di Pos Mata Air I. &#8220;Bang, masih bisa ke Cikasur ga?&#8221; teriakku, &#8220;Wah dah ga bisa Mas, bensinnya ga cukup&#8221; jawab tukang ojeg tersebut. Dengan lunglai saya menjawab &#8220;yah&#8230;.&#8221;. Saya sampai di Alun- Alun Cikasur sudah hampir pukul delapan malam. Menggunakan kata beruntung lagi, tenda sudah berdiri dan makanan sedang dimasak. Kali ini saya menolak untuk dicekokin telor asin lagi <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/6.gif" style="border:none;background:none;" alt=":p" /> (bisa bisulan pantat gw <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">03 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Alun - alun Cikasur oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6122508360/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6088/6122508360_d32b244721.jpg" alt="Alun - alun Cikasur" width="500" height="335" /></a><br />
Setelah sarapan dan sesi bernasis ria selesai, perjalanan dilanjutkan menuju Cisentor. Siang hari sudah sampai di Cisentor ada sedikit perbedaan pendapat antara saya dan om Djoko. Antara langsung ke puncak dan mendirikan tenda di Cisentor dengan resiko kemalaman sampai ke Cisentor lagi dan pendapat kedua mendirikan tenda di Rawa Embik dan Summit pada waktu subuh mengejar sunrise. Akhirnya pendapat pertama dipilih juga. Dan saya memutuskan untuk tidak ikut ke puncak demi mengistirahatkan sendi-sendi kaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul 08.00 malam, teriakan &#8220;alhamdulilah sampai juga&#8221; terdengar di sekitar tenda. Ternyata mereka sudah sampai kembali di Cisentor. Acara masak memasak menjadi kegiatan selanjutnya. Tapi anehnya dari tenda om Djoko belum juga ada penampakan penghuninya. Tanya-tanya ke teman lain ternyata melihat om Djoko sudah turun dari puncak duluan. Hingga pukul 12 malam, 4 orang dinyatakan hilang. 3 pria dan 1 wanita. Berkoordinasi dengan om Asa maka dikirimkanlah 3 orang dari team dan 1 orang bantuan dari mas-mas yang bangga menamakan dirinya team SPG (Sing Penting Gembira). Bermodalkan pinjeman HT dari tenda sebelah maka mereka memulai tugasnya menyisir punggungan tempat terakhir om Djoko dkk terlihat. Membatasi ruang gerak dengan membangun tenda di Rawa Embik.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, sederet pertanyaan muncul di rongga pikiran. Bagaimana kabar mereka, Apakah mereka terkena Hipotermia, Ditowel macan kumbangkah mereka, Diseruduk babi yang memang liarkah, Ditemani Dewi Rengganiskah, Andaikan benar-benar hilang, judul Headline Korannya apa ya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">04 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 07.00, belum ada kabar dari team yang kemarin telah ke Rawa Embik. Saya pun mengajak Djanu untuk menyusul ke Rawa Embik. 30 menit berjalan, kami dikejutkan dengan kehadiran om Djoko. &#8220;Om Djoko, kemana aja, Tidur di mana, koq bisa tersesat?&#8221; seruku kepadanya, &#8220;Tidurnya ya di hutan, ada jalan setapak terus gw ikutin aja, cuma jalan lewat 1 jam koq ga ketemu-temu Rawa Embik, jadi kami berhenti. Terus gw dan Sigit paginya nyari jalur ke belakang dan ketemu ma anak-anak di Rawa Embik&#8221;. menjawab semua pertanyaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 09.00 kami tetap melanjutkan perjalanan ke Danau Taman Hidup meski beberapa teman yang lain belum kembali ke Cisentor. Melewati Sabana dan hutan serta tak lupa tanaman Jelatang akhirnya sampai juga kaki di Danau Tamam Hidup sekitar pukul 20.00 WIB.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">05 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari di Danau, kabut di atas Danau seakan belum mau beranjak. Yang saya dengar begitulah, seakaan Danau itu hidup dan kabut bermain-main di atasnya. Kalau dulu sewaktu kita SD dengan mata pelajaran menggambar, yang paling kita sering lihat dan kita gambar adalah 2 buah gunung dengan Matahari di tengahnya. Tapi memang seperti itu kenyataan yang terjadi di Danau Taman Hidup. Matahari muncul diapit oleh 2 bukit.</p>
<p><a title="Danau Taman Hidup oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6122274149/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6063/6122274149_88272b7ec3.jpg" alt="Danau Taman Hidup" width="500" height="192" /></a></p>
<p><a title="Tak berjudul oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6168425134/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6179/6168425134_7ea7ab9222.jpg" alt="" width="500" height="278" /></a></p>
<p><a title="Menyinari Bumi Ini oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6129520226/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6192/6129520226_66d2b42409.jpg" alt="Menyinari Bumi Ini" width="334" height="500" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kawah Putih &#8211; Ciwidey, Bandung.</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/08/kawah-putih-ciwidey-bandung/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/08/kawah-putih-ciwidey-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 02:42:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1015</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang dari Jakarta, akhirnya saya menjejakan kaki juga di tanah Kawah Putih. Rasa penasaran memang muncul belakangan ini. Konon viewnya bagus dan sering digunakan sebagai tempat melaksanakan pre wedding. Memasuki pelataran parkir, kita harus menaiki mobil jenis pick up yang akan mengantar kita ke parkiran lebih atas dan lebih dekat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang dari Jakarta, akhirnya saya menjejakan kaki juga di tanah Kawah Putih. Rasa penasaran memang muncul belakangan ini. Konon viewnya bagus dan sering digunakan sebagai tempat melaksanakan pre wedding.<br />
Memasuki pelataran parkir, kita harus menaiki mobil jenis pick up yang akan mengantar kita ke parkiran lebih atas dan lebih dekat dengan lokasi. Dengan membayar karcis 25 ribu rupiah dan sudah termasuk diangkut mobil pick up kita sudah bisa menyaksikan panorama Kawah Putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Bau menyengat belerang sudah mulai tercium. Aroma tak sedap dan bisa membuat sesak napas kontan memunculkan para pedagang masker. Mereka menawarkan dagangannya dari mulai anak tangga kita melangkah. &#8220;Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., cukup 5000 rupiah saja&#8221; Saya yang sengaja sudah membawa slayer menghiraukan tawaran penjual itu. Menaiki tangga lagi, &#8220;Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., tiga masker cukup 10.000 rupiah saja&#8221;. Saya hiraukan lagi sampai saya berada di tangga paling atas, dan lagi-lagi penjual masker menawarkan dagangannya, &#8220;Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., seribu rupiah saja&#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/8.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammer:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat pribadi : Terus terang agak kecewa dengan view yang ditawarkan Kawah Putih. Jikalau anda sudah pernah ke <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Gunung Papandayan &#8211; Garut</a>, anda pasti juga mengalami kekecewaan yang sama seperti saya. &#8220;Gini aja neh&#8221; sempat terlontar kepada teman-teman seperjalanan. Karena memang untuk pemandangan saya akui lebih indah di <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Papandayan</a>. Untuk panorama pohon mati cukup diwakilkan dengan kawan Hutan mati yang terhampar agak luas di <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Papandayan</a>. Tapi sayangnya akses jalan ke <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Papandayan</a> masih rusak dan perlu dikembangkan menjadi sektor pariwisata jika ingin bersaing dengan Kawah Putih.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5921699249/" title="Kawah Putih oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm7.static.flickr.com/6131/5921699249_692e79ef30.jpg" width="500" height="335" alt="Kawah Putih"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/08/kawah-putih-ciwidey-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Papandayan 11-12 Juni 2011</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 01:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5823893581/" title="Motor Cross oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3332/5823893581_2cfdce3687.jpg" width="500" height="335" alt="Motor Cross"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5826502784/" title="The Rock oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2143/5826502784_55eb166a46.jpg" width="500" height="335" alt="The Rock"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824006969/" title="Stone oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3480/5824006969_ebd8cf80dc.jpg" width="500" height="335" alt="Stone"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824635302/" title="Panorama dari Lawang Angin oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2042/5824635302_22b0a736f4.jpg" width="500" height="335" alt="Panorama dari Lawang Angin"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824609688/" title="Death Forest oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3232/5824609688_34100f9310.jpg" width="500" height="335" alt="Death Forest"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824648342/" title="Saat Mentari Bersinar oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm6.static.flickr.com/5312/5824648342_0191d21c42.jpg" width="334" height="500" alt="Saat Mentari Bersinar"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5826648612/" title="di antara cantigi oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm6.static.flickr.com/5274/5826648612_b45ab89595.jpg" width="500" height="334" alt="di antara cantigi"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganti Carriel&#8230;.</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/03/ganti-carriel/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/03/ganti-carriel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 03:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[deuter act lite 40+10]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=960</guid>
		<description><![CDATA[Setelah lama memakai cariel EIGER EXELCIORS 55 , akhirnya saya memutuskan untuk menggantinya dengan Deuter ACT Lite 40+10 SL. Adapun alasan penggantian karena Deuter tersebut lebih ringan dengan bobot 1500 gr. Mengingat umur yang sudah bertambah dan tidak seaktif dulu (jaman SMA euy) maka sudah saatnya berpindah ke style Ultralight Hiking Meski membuat kantong lecet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah lama memakai cariel EIGER EXELCIORS 55 , akhirnya saya memutuskan untuk menggantinya dengan <a href="http://www.deuter.com/en_DE/backpack-details.php?category=45&#038;id=1603&#038;title=ACT%20Lite%2040%20%2B%2010">Deuter ACT Lite 40+10 SL.</a></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="deuter" src="http://onedata.deuter.com/img/backpack/360x500_2330_ACTLite40u10_5520_10.jpg" alt="" width="252" height="324" /></p>
<p>Adapun alasan penggantian karena Deuter tersebut lebih ringan dengan bobot 1500 gr. Mengingat umur yang sudah bertambah dan tidak seaktif dulu (jaman SMA euy) maka sudah saatnya berpindah ke style Ultralight Hiking <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" /> Meski membuat kantong lecet karena harganya yang agak mahal. Berikutnya adalah ingin mengganti matras dengan alumunium foil dan membeli tenda <a href="http://www.tritongear.com/xlite_2_alu.htm">Triton Xlite</a> (tenda yang lama menghilang di ekspedisi barang setelah sebelumnya dipakai untuk pertama kalinya di <a href="http://cantigi.net/2009/10/siapa-suruh-naik-argopuro/">Gunung Argopuro)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/03/ganti-carriel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keindahan Alam Tegal Panjang</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/02/keindahan-alam-tegal-panjang/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/02/keindahan-alam-tegal-panjang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 10:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[cibatarua]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[papandayan]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>
		<category><![CDATA[tegal panjang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=909</guid>
		<description><![CDATA[Prakata : Tegal Panjang merupakan kebun ilalang yang terletak di kaki Gunung Papandayan dan Gunung Puntang. Tepatnya di selatan Kota Bandung. Untuk mencapainya kita harus menuju desa Cibatarua terlebih dahulu. Setelah seminggu sebelumnya saya mengunjungi air terjun Cigamea. Maka pada minggu ini saya bersama dengan team Kaskus OANC (Smigun,  Kang Hadi, Kang Ndarz, Ian, Abi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Prakata : Tegal Panjang merupakan kebun ilalang yang terletak di kaki Gunung Papandayan dan Gunung Puntang. Tepatnya di selatan Kota Bandung. Untuk mencapainya kita harus menuju desa Cibatarua terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah seminggu sebelumnya saya mengunjungi <a href="http://cantigi.net/2011/02/curug-cigamea/">air terjun Cigamea</a>. Maka pada minggu ini saya bersama dengan team Kaskus OANC (Smigun,  Kang Hadi, Kang Ndarz, Ian, Abi, Tiwi, dan Hendra) berkesempatan mengunjungi Tegal Panjang.(Oh tidak, lagi-lagi saya tidak mengikuti bimbingan skripsi  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/017.gif" style="border:none;background:none;" alt=":angel:" /> ). Kami sengaja berkumpul di Kp. Rambutan agar tidak diracuni oleh team OANC lainnya yang pergi Cikuray jika kami berkumpul di Pasar Rebo  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/005.gif" style="border:none;background:none;" alt=":Peace:" /> . Di terminal, saya juga bertemu dengan Hendra serta temen-temen lainnya dari Mutripala (maaf, batas usia maksimal Mutripala adalah 24 tahun dan hal inilah yang membuat saya tidak bisa mengikuti audisi Mutripala). Dari Kp. Rambutan kami bertolak ke Leuwi Panjang &#8211; Bandung. Dengan nilai TOSFL (Test of Sunda as a Foreign Language) 500 yang dimiliki oleh Kang Hadi kami mencarter sebuah taxi (alias elf) sebesar Rp. 250.000 menuju desa Cibatarua. Setelah hampir nyasar menuju Garut, taxi yang kami tumpangi akhirnya tiba di Masjid Cibatarua sekitar pukul 07.00. Bonus yang didapatkan selama perjalanan dengan taxi tersebut adalah benjol yang disebabkan kaca mobil berbenturan kepala <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/hammers.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammers" /> . Di saat yang lain menuntaskan rasa kebeletnya, masih sempat-sempatnya Kang Ndarz mengobral tandatangan &#8220;Baim Wong&#8221; dan &#8220;Eka Ramdani&#8221; kepada anak-anak SD yang hendak bersekolah.  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" /> Selanjutnya mereka tidak mau pergi kalau belum difoto&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan GPS offline kami memulai perjalanan ini. (Jangan dipikirkan terlalu mendalam mengenai pengertian GPS offline itu, karena tidak dapat pinjaman maka Kang Hadi berinisiatip mengeprint jalur pendakian dari Google Earth). Sangat dianjurkan untuk sering bertanya karena malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya memalukan.. Pemberhentian berikutnya adalah Desa Papandayan. Di desa ini kami juga banyak mengumpulkan banyak informasi mengenai jalur yang akan kami lalui. Pertanyaan penting lainnya adalah &#8220;Pa, warung nasi di mana ya..?&#8221; Setelah melewati kebun teh, kami sampai di ladang penduduk. Seharusnya dari ladang penduduk kami langsung masuk hutan, cuma karena merasa kurang afdol kalau ga nyasar seperti capter-capter Tegal Panjang lainnya maka dengan sukses kami hanya berputar-putar di ladang penduduk selama 2 jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kang Pendi (inget pake P, kan urang Sunda <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />) alias kang Kupluk (nama sayangnya kalo lagi berladang) menjadi penyelamat kami. Dia bersedia mengantarkan kami sampai Tegal Panjang. &#8220;Nyampe Tegal Panjang berapa kilo Kang?&#8221; &#8220;Ya, 1,5 km dei&#8221; jawabnya. Setelah melewati sungai yang agak deras dan kira-kira sudah berjalan selama 30 menitan, Kang Epi memutuskan untuk kembali ke Ladang meninggalkan kami untuk berjalan sendiri. &#8220;Ikutin aja jalan ini, pasti nyampe lah&#8221; seru Kang Epi, &#8220;terus berapa kilo lagi Kang nyampe Tegal Panjang?&#8221; Dengan mantap Kang Epi menjawab : &#8220;Ya, satu setengah kilo lagi..!!!&#8221;  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/8.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammer:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 15.00 Wib, kami akhirnya tiba juga di hamparan Ilalang yang cukup luas. Segala keletihan dan kepenatan terbayar juga akan indahnya alam Tegal Panjang. Saya yang sedari tadi hanya diam saja (dah laper boy) akhirnya bisa tertawa lepas melupakan sedikit ngilu di kaki dan lapar di perut. Smigun berinisiatif membuat &#8220;crop circle&#8221; dengan membentuk tulisan OANC dan untungnya niat itu tidak jadi dilaksanakan. Ga lucu aja kalo besok di koran lokal atau harian Nasional terpampang berita dengan judul &#8220;Benarkah Alien menyamar menjadi salah satu member OANC?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu, 13 Februari 2011. Cuaca agak mendung di pagi hari ini. Sepertinya mentari agak malu-malu untuk keluar. Dan benar saja, mentari baru terlihat ketika ufuk sudah agak ke atas. Yang ada hanya menyisakan rasa kecewa bagi para pemburu Sunrise. Selain faktor teknis lainnya, hal yang paling penting dalam memotret Landscape adalah faktor &#8220;Lucky&#8221; Yup, Dewi Fortuna tidak berpihak kepada kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Nasi yang dicampur Abon, Kentang dan Kol yang dilumuri dengan sambel kacang (kalo kata kang Ndarz, siomay tapi khusus untuk siomaynya sudah dimakan tadi), Nugget, Sarden, Popcorn, dan telor merupakan menu sarapan yang hebat untuk pagi ini. Dan saya lebih memilih memakan Oat Meal (ga biasa makan nasi kalo pagi) serta mencomot nugget yang disertai dengan kata &#8220;Ah, saya mah ga percaya kalo Nugget ini keasinan.. Mana sini saya makan..&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pukul 09.30, kami beranjak meninggalkan Tegal Panjang. Dengan arah selatan menyusuri ilalang untuk kembali masuk ke hutan. Sebelum masuk hutan ada 2 percabangan dan kami mengambil arah ke kanan. Sempat membingungkan memang karena rapatnya hutan seperti tidak pernah dilalui dan manakala kami harus merangkak untuk bisa masuk hutan di awal-awal. Pertanyaan apakah ini jalur yang benar terjawab dengan adanya pita-pita yang melekat di batang-batang pohon. Sampai di tempat yang agak lapang, kami juga sempat kebingungan karena ada 2 jalur yang keduanya ditandai pita dan satu jalur lagi yang mengarah ke kanan. Setelah membaca lembaran capter  yang mengambil jalur lurus mendatar maka kami juga memutuskan untuk mengikuti petunjuk dalam capter tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di Guberhut hari sudah agak siang kira-kira pukul 13.00. Kami beristirahat cukup lama di sini. Tiba-tiba munculah sesosok Bapak yang mengaku bernama Budiman. &#8220;Dari mana Pa?&#8221; &#8220;Dari Tegal Panjang..&#8221; jawab Bp itu.. he?  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/004.gif" style="border:none;background:none;" alt=":matabelo:" /> &#8220;Memangnya dari desa Cibatarua jam berapa pa?&#8221; , &#8220;Jam 08.00&#8243; he..? kami semakin keheranan&#8230; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/7.gif" style="border:none;background:none;" alt=":confused:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah kelelahan dan hari yang sudah semakin siang kami memutuskan tidak jadi mengunjungi Pondok Saladah dan Hutan Mati.</p>
<p><a title="Wild Flower oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5447434992/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4142/5447434992_03da66a34d.jpg" alt="Wild Flower" width="500" height="479" /></a></p>
<p><a title="Tegal Panjang oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5447446162/"><img src="http://farm6.static.flickr.com/5055/5447446162_2b853cbb1f.jpg" alt="Tegal Panjang" width="500" height="362" /></a></p>
<p><a title="Morning at Tegal Panjang oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5447457152/"><img src="http://farm6.static.flickr.com/5172/5447457152_4a8e434a14.jpg" alt="Morning at Tegal Panjang" width="500" height="349" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Untuk foto2 lain dapat dilihat <a href="http://www.facebook.com/album.php?id=1063910846&amp;aid=2083556">di sini</a></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/02/keindahan-alam-tegal-panjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curug Cigamea</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/02/curug-cigamea/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/02/curug-cigamea/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 03:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[Cigamea]]></category>
		<category><![CDATA[curug Cigamea]]></category>
		<category><![CDATA[Salak Endah]]></category>
		<category><![CDATA[terjun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[Curug Cigamea merupakan salah satu air terjun yang berada di kawasan wisata Gunung Salak Endah. Tepatnya berada di di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor dengan koordinat GPS S6.694529 &#8211; E106.685690 (sumber : navigasi.net). Sebenernya ada beberapa curug lain yang ada di sekitar kawasan Salak Endah ini seperti curug Nangka, Luhur, Cihurang, Ngumpet, dan Sewu) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Curug Cigamea merupakan salah satu air terjun yang berada di kawasan wisata Gunung Salak Endah. Tepatnya berada di di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor dengan koordinat GPS 	S6.694529 &#8211; E106.685690 (sumber : navigasi.net). Sebenernya ada beberapa curug lain yang ada di sekitar kawasan Salak Endah ini seperti curug Nangka, Luhur, Cihurang, Ngumpet,  dan Sewu)</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berkesempatan mengunjungi curug ini bersama dengan para member Abadi Group. Hujan deras mengiringi kepergian kami dan elf yang kami tumpangi tidak mampu menahan gempuran air hujan sehingga tetesan air hujan setia menemani perjalanan kami di dalam tol dalam kota. Masuk kawasan Bogor cuaca sudah cukup bersahabat. Meski mendung tapi tanda-tanda hujan tidak nampak.</p>
<p style="text-align: justify;">Signal HP yang putus nyambung dan membuat GPS tidak berdaya ditambah beberapa dari kami yang sudah pernah ke lokasi tetapi ternyata naik motor dari Jakarta membuat kami semua bingung menentukan arah lokasi tujuan. Setelah sempat berputar-putar dan tanya menanya, kami akhirnya  tiba di pintu masuk Kawasan Gunung Halimun. Melewati Curug &#8211; curug yang lain barulah kami sampai di lokasi parkir Curug Cigamea. Dari lapangan parkir kami harus berjalan kaki sejauh 350 mtr atau bisa dipersingkat dengan menaiki flying fox yang harus ditebus dengan kocek sebesar Rp. 20.000, -</p>
<p style="text-align: justify;">Air terjun Cigamea sendiri memiliki 2 air terjun yang letaknya hanya bersebelahan. Pendapat pribadi saya mengenai air terjun ini adalah kurang begitu indah bila dibandingkan dengan curug yang pernah saya kunjungi yaitu curug Cilember, Curug Cibeureum, Sindang Gila, dan Curug Cikaso. Akan tetapi kalau dibandingkan dengan Curug Ngumpet yang berada di dalam satu kawasan Salak Endah tentu lebih indah Curug Cigamea.</p>
<p style="text-align: center;"><a title="Flare oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5421256013/"><img class="aligncenter" src="http://farm6.static.flickr.com/5018/5421256013_5cbf580c9a_z.jpg" alt="Flare" width="429" height="640" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/02/curug-cigamea/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

