<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cantigi.net</title>
	<atom:link href="http://cantigi.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cantigi.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 09:50:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kabel Lan selalu &#8220;unplugged&#8221;</title>
		<link>http://cantigi.net/2012/01/kabel-lan-selalu-unplugged/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2012/01/kabel-lan-selalu-unplugged/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 05:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1116</guid>
		<description><![CDATA[Aneh, kabel LAN selalu unppluged ketika saya mengganti OS menjadi XP, padahal ketika menggunakan Ubuntu tidak terjadi masalah dan lancar jaya. Dugaan pertama yaitu rusak driver tetapi ketika saya install ulang driver, kabel LAN masih berstatus unplugged. Dugaan kedua, software XP rusak, maka saya pun menginstall ulang OS dan ternyata tetap saja status tak berubah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aneh, kabel LAN selalu unppluged ketika saya mengganti OS menjadi XP, padahal ketika menggunakan Ubuntu tidak terjadi masalah dan lancar jaya. Dugaan pertama yaitu rusak driver tetapi ketika saya install ulang driver, kabel LAN masih berstatus unplugged. Dugaan kedua, software XP rusak, maka saya pun menginstall ulang OS dan ternyata tetap saja status tak berubah. Dugaan ketiga, jangan &#8211; jangan hardwarenya rusak&#8230; Waduh..</p>
<p>Saya buka PC, dugaan saya pun jatuh kepada kipas tambahan yang saya pasang. Jangan-jangan supply listrik ke hardware LAN nya terganggu.. Lalu saya cabut aliran listrik yang mengalir ke kipas tambahan tersebut, dan Viola sembuhlah penyakit komputer saya. Dan saya pun bisa menggunakan jaringan melalui OS XP lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2012/01/kabel-lan-selalu-unplugged/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sindoro</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 09:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 23 September 2011 Jam 17.00 kurang dikit, saya sudah bergegas meninggalkan kantor karena  Pa Anto (petugas loket) memberitahukan saya bahwa bus akan berangkat tepat pukul 17.30 WIB.  Masih dalam bayangan percakapan kemarin &#8220;Ga bisa telat dikit gitu Pa?&#8221; tawar saya.. &#8220;Ya paling telat 15 menitlah..!&#8221; serunya. 15 menit sebelum keberangkatan saya sudah sampai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;">Jumat, 23 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Jam 17.00 kurang dikit, saya sudah bergegas meninggalkan kantor karena  Pa Anto (petugas loket) memberitahukan saya bahwa bus akan berangkat tepat pukul 17.30 WIB.  Masih dalam bayangan percakapan kemarin &#8220;Ga bisa telat dikit gitu Pa?&#8221; tawar saya.. &#8220;Ya paling telat 15 menitlah..!&#8221; serunya. 15 menit sebelum keberangkatan saya sudah sampai di Jembatan Gantung dan Omat menghubungi saya, &#8220;Ndri, bus berangkat jam berapa seh?&#8221; &#8220;Jam 17.30 mat, mang u dah di manakah?&#8221;jawabku, &#8220;Gw masih di Slipi..!&#8221;, Saya :  &#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/hammers.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammers" /> &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir jam 6 sore ketika Omat tiba. Dan ternyata bus yang akan kami tumpangi belum juga ada <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" />  Barulah jam 7 kurang bus perlahan masuk ke parkiran dan setelah menaikan penumpang baru pukul 7 lewat 10 bus berangkat ke Pulo Gadung untuk menaikan lagi penumpang dari sana. Dari Pulogadung saya lebih memilih untuk tidur. Terbangun ketika bus ini saya rasakan berhenti dan ketika melihat keluar jendela saya melihat banyak para wanita. &#8220;Koq banyak cewe ya, pada pake pakaian you can see dan celana pendek lagi?&#8221; ups  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/5.gif" style="border:none;background:none;" alt=":shutup:" /> ternyata bus sedang berhenti di Indramayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertemu dengan mas Sigit, Djoko, Oman Putih, dan beberapa temen lainnya yang juga sama mau mendaki Sindoro di tempat peristirahatan PO Malino. Mas Sigit adalah seorang yang ikut menghilang di <a href="http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/">Gunung Argopuro tempo hari</a>. &#8220;Ga kapok naik bareng Djoko?&#8221; serunya kepada saya.. Pertanyaan yang salah ditujukan kepadaku, seharusnya saya yang bertanya kepadanya: &#8220;Ga kapok menghilang bersama om Djoko?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Sabtu, 24 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di terminal Wonosobo, celingak &#8211; celinguk cari temen-temen yang lain. Setelah anggota team berkumpul semua, kami bergegas menaiki bus 3 per 4. Saya lebih memilih tidur di dalam bus. Ketika bangun bus sudah sampai di desa Sigedang. Rencananya memang kami mulai mendaki dari Tambi. Ketidaktahuan kami akan pos 3 membuat bus itu dengan seenaknya menaikan lagi dan lagi tarif yang telah disepakati sebelumnya. Dari catper-catper lain yang saya baca, memang bahwa jalan masih bisa dilalui kendaraan sampai pos 3.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan berdoa terlebih dahulu, kami memulai pendakian ini. Medan-medan awal adalah kebun teh yang kemudian berganti dengan padang rumput. Pukul 12.00 WIB pendakian kami hentikan untuk makan siang yang sebelumnya kami bungkus dari terminal Wonosobo. Tak bosannya saya tanyakan kepada Omat kita sudah berada di ketinggian berapa. Agar dapat mengira-ngira jarak yang harus ditempuh masih berapa jauh.</p>
<p><a title="Awan Putih oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6185219588/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6178/6185219588_00d5cd764e.jpg" alt="Awan Putih" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 17.00 akhirnya kaki ini sampai juga di puncak Sindoro, om Djoko yang sudah sampai duluan mengajak kami untuk segera mendirikan lapak (baca : tenda). Berjalan mengitari kawah mati dan tepat di hadapan kokohnya Gunung Sumbing kami mendirikan tenda. Lokasi tempat mendirikan tenda cukup strategis karena samping kiri kanan dan belakang terlindung oleh bukit dan di depan kami bisa langsung menikmati Sunrise langsung keesokan harinya. &#8220;Mat, buruan diriin tenda, dah jam 5 neh&#8221; seruku ke Omat. Tenda MHW, meski sudah pernah dipakai sekali di Papandayan tetap bikin kagok waktu kami mendirikannya. Setelah selesai mendirikan tenda, saya dan Omat bergegas menuju pelataran barat puncak Sindoro untuk menikmati Sunset.</p>
<p><a title="Cantigi Sunset oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6188357619/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6156/6188357619_f38ca5c2bd.jpg" alt="Cantigi Sunset" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Puas menikmati sunset (dan ternyata hanya saya, Omat, dan Djoko saja yang pergi melihat Sunset) kami kembali ke tenda. Ketiadaan sumber mata air memaksa kami untuk tidak memasak makanan yang membutuhkan air. Jalan terbaik adalah menggoreng nugget dan memakannya dengan lontong yang telah disiapkan oleh Fitria. (hedeuh, padahal udah bawa mie, spaghetti, Oat Meal, dan pancake). Selanjutnya adalah mencoba praktek star trails. Hasilnya mana gan? maaf saya gagal.. hehehe, udara dingin memaksa saya untuk segera masuk ke dalam dekapan sleeping bag. Dan Omat memberitahukan bahwa suhu saat itu mencapai 7 derajat Celcius dan juga tidak begitu valid karena mungkin bisa lebih dingin. (Termometernya ada di jam tangan yang dipakainya).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Minggu, 25 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari ternyata suhu menjadi lebih dingin. &#8220;3 derajat Celcius&#8221;  menurut pengakuan Omat. Sambil menunggu munculnya Mentari, tubuh ini tidak berhenti menggigil.</p>
<p><a title="Sambut Pagi oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6192057968/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6022/6192057968_d7e3321be0.jpg" alt="Sambut Pagi" width="500" height="237" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bantuan air punya tetangga, Omat mulai memasak pancake dan saya menggoreng telor ceplok. Sarapan pagi ini roti tawar isi telor + pancake. Jam 8.00 WIB kami semua sudah selesai membongkar tenda dan persiapan turun. Setelah sesi foto keluarga dan dilanjutkan berdoa kami pun mengakhiri kegiatan kami di puncak Sindoro. Kami turun melalui jalur Kledung.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata kebakaran melanda kawasan hutan sebelum puncak. Api tampak  masih menyala dan saya hanya bisa berucap semoga lekas padam dan hijau seperti sedia kala.  Tak ingin terlambat menuju Wonosobo saya menaikkan tempo dalam menuruni punggungan Sindoro dengan resiko membuat gagal dengkul dengan cepat. Jalur yang curam sebelum pos 3 juga membuat saya jatuh bangun Air yang saya bawa hanya 3/4 botol besar yang kemudian saya pindahkan ke waterblade. Cuaca panas dan debu yang mendominasi membuat saya terlalu cepat meneguk air. Seteguk dua teguk dan saya pun menyadari kesalahan saya. Terlalu cepat meminum sedangkan basecamp masih sangat jauh.</p>
<p><a title="Gunung Sumbing oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6185564830/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6155/6185564830_14e2ea321c.jpg" alt="Gunung Sumbing" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pos 3 saya berjalan sendirian. Rombongan depan sudah jauh sedangkan rombongan lain tertinggal di belakang. Air di waterblade semakin menipis dan saya menyedotnya bila tenggorokan sudah benar-benar kering dan itupun hanya seteguk dikit guna membasuh tenggorokan ini. Pelan-pelan saya berjalan agar tidak terlalu capai dan bila ada pendaki lain yang turun melewati saya, saya mempersilakan duluan dan terus bertanya, &#8220;Mas, basecamp masih berapa jam lagi?&#8221; Pendaki lainnya yang sedang turun , seorang remaja yang saya taksir masih di bangku sekolah menengah melewati saya. Saya melihat cadangan air di kantong celananya masih banyak dan tanpa basa basi saya memintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum pos 2, saya bertemu dengan Dya dan Dwie. Problem mereka sama dengan saya, hampir kehabisan air. Kami pun berjalan bersama (tapi lebih banyak ketinggalan sayanya). Sesudah pos I kami melihat para ranger (polisi hutan) sedang beristirahat. Melaporkan kejadian kebakaran hutan kepada mereka dan yang terpenting meminta air kepada mereka. Sebelum masuk vegetasi ladang penduduk, Dwie meminta Djoko untuk mengirimkan ojeg. Dan dengan ojeg selanjutnya kami menuju basecamp.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/10/sindoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Ngapain) Kembali ke Argopuro</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 09:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Argopuro]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[hipotermia]]></category>
		<category><![CDATA[pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[pendakian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Foto-foto elu di Argopuro busuk&#8221; kata-kata Acong itu akhirnya juga mempengaruhiku untuk kembali mendaki Gunung Argopuro setelah 2 tahun sebelumnya saya pernah ke sini. 31 Agustus 2011 Setelah malam sebelumnya, saya mengirimkan SMS ke Djanu agar sampai ke Stasiun Kota tepat pukul 07.00 WIB biar mendapatkan tempat duduk di Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Foto-foto elu di Argopuro busuk&#8221; kata-kata Acong itu akhirnya juga mempengaruhiku untuk kembali mendaki Gunung Argopuro setelah <a href="http://cantigi.net/2009/10/siapa-suruh-naik-argopuro/"> 2 tahun sebelumnya</a> saya pernah ke sini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">31 Agustus 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah malam sebelumnya, saya mengirimkan SMS ke Djanu agar sampai ke Stasiun Kota tepat pukul 07.00 WIB biar mendapatkan tempat duduk di Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tapi apa daya karena mundurnya perayaan Idul Fitri tahun ini, maka dengan berat hati saya mengirimkan kabar lagi kepada Djanu bahwa kemungkinan besar saya telat karena tidak ada kendaraan umum yang lewat di depan rumah. Pukul 07.00 WIB, saya baru mendapatkan angkutan berwarna biru bernama Metromini. Di dalamnya saya menerima kabar bahwa tiket kereta Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) sudah habis, seakan tidak percaya saya pun mengatakan &#8220;Ah, yang bener lu&#8230;, Elu nanyanya ma petugas tiketnya bukan?&#8221; &#8220;Iya beneran, gw tanya ma petugas tiketnya.. sampe 2 orang lagi..!!&#8221; jawab Djanu&#8230; &#8220;Kalo Kertajaya ada ga?&#8221; saya tanya lagi, &#8220;Bentar.., ada Ndri jam 17.10 ambil ga?&#8221; kata Djanu, &#8220;Ya sudah, ambil aja itu, Kertajaya&#8221; jawabku menyudahi SMS.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 08.00 WIB, sampai juga di stasiun Kota. Ketika bertemu dengan Djanu, saya mengecek logistik apa saja yang dibawanya, hanya untuk memastikan saja karena inilah pengalama pertamanya mendaki Gunung. &#8220;mie dan 15 telor asin&#8221; jawabnya mantap seakan saya tidak usah meragukannya lagi. Dan saya mengatakan kepadanya agar kita tetap naik GBMS  dengan memakai tiket Kertajaya. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya agar mendapatkan tempat duduk, maka yang diharuskan adalah menuju ke tempat lansir kereta tersebut. Tapi sial, di saat kami hampir mendekati tempat Lansir yang berjarak hampir 1km dari Stasiun, seorang pria berwajah agak sangar dan berpakaian biru tua yang menandakan bahwa dia adalah seorang petugas menegur kami. &#8220;Mau ke mana mas ?&#8221;, &#8220;Mau ke Gaya Baru Pa..&#8221;jawabku sekenanya &#8220;Kalau sekarang sudah tidak boleh ke Dipo lagi mas.., nunggunya di Stasiun aja&#8221; balasnya. Tanpa bisa membantah lagi kami pun beranjak kembali menuju tempat tunggu setelah sebelumnya juga ada spanduk besar yang bertuliskan &#8220;Penumpang yang terhormat, agar menunggu kereta di Stasiun dan bukan di Dipo&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sia &#8211; sia saja kalau sudah datang pagi ke Stasiun Kota untuk mendapatkan tempat duduk tapi ternyata tidak bisa colong start. Yang ada bisa duduk menghampar di lantai. Tak ingin begitu, saya pun memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman lain yang start dari Tanjung Priok untuk berangkat menggunakan kereta Kertajaya. Naik Mikrolet sekali, kami bergegas menuju Tanjung Priok. &#8220;Maaf mas, tiket ini tidak bisa naik kereta Kertajaya dari sini, tapi harus naik dari Stasiun Senen, tuh lihat tertulis keberangkatan dari Senen jam 17.00&#8243;, seorang petugas berkulit hitam dan juga berbaju serba hitam, bertubuh besar,  berwajah yang kali ini memang sangar dengan aksesoris kumis tebal, ditambah dengan suara bas memberitahukan saya. WTF, lagi seakan tidak percaya saya bertanya , &#8220;Memangnya beda Pa, Kereta yang ini dengan yang ada di Senen?&#8221; &#8220;Beda mas, kalau yang di Stasiun Senen adalah kereta tambahan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Gila, masa dari Stasiun Kota terus ke Stasiun Tanjung Priok harus muter lagi ke Stasiun Senen. Tak mau begitu saja dipermainkan kereta (bisa ya?  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/crazy.gif" style="border:none;background:none;" alt=":gila:" />)  Saya mencoba menghubungi Djoko (Trip Leader) untuk menanyakan apakah ada orang yang cancel. &#8220;Ada dua orang yang cancel..&#8221; Jawabnya ketika saya memberitahukan permasalahan yang telah terjadi kepadanya. Tanpa pikir panjang lagi, saya pun mengambil tiket yang batal itu. Ketika hilir mudik di Stasiun Tanjung Priok, petugas brewokan itu kembali menghampiri saya, &#8220;Mas, ga jadi ke Stasiun Senen?&#8221;, &#8220;Engga Pa, saya udah dapat tiketnya yang berangkat dari sini&#8221; jawabku. &#8220;Yah, terus tiket yang dari St. Senen hangus donk?&#8221; lanjutnya, &#8220;Ya, gpp Pa..&#8221;, jawabku lagi. &#8220;Hm, harusnya tadi ga usah ambil tiket lagi, yah gapapa pake tiket punya St. Senen tapi naik dari sini.., ya paling engga pake tambahin duit rokok&#8221;. Saya (dalam hati), &#8220;He..?&#8221;  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/fuck-8.gif" style="border:none;background:none;" alt=":fuck3:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Masih ada 2 tiket di tangan yang berangkat dari St. Senen. Saya dan Djanu mencoba menjualnya kembali kepada orang-orang yang masih mengantri. Takut-takut cemas, kalau-kalau saja ada petugas atau Polisi yang menganggap kami adalah seorang Calo setengah waras yang menjual tiket Kereta Api Kertajaya di bawah harga yang telah ditentukan. Rugi 7 ribu Rupiah tidak menjadi masalah dibandingkan harus rugi seluruhnya. Satu per satu teman seperjalanan telah tiba. Ada juga team dari kelompok lain yang menuju ke Raung dan Arjuno Welirang. Meski kami baru masuk 1 jam sebelum keberangkatan, syukurlah masih banyak tempat duduk yang belum terisi dan team Raung masih membicarakan permasalahan tali untuk menggapai Puncak Sejati. Tak banyak yang bisa dilakukan di dalam kereta. Tidur sampai kebosanan gaya (karena sudah mencoba berbagai macam gaya tetap saja tidak nyenyak <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/6.gif" style="border:none;background:none;" alt=":p" />) sampai ditegur oleh penumpang lain karena main kartu tepok nyamuk. &#8220;De, di sini ada yang jantungan..&#8221; De, udah malam&#8221;, &#8220;De, ada anak kecil yang udah tidur&#8221;, &#8220;De, mizonenya buat nemenin main kartu&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">01 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di Stasiun Pasar Turi sekitar jam 7 pagi. Pertama-tama yang dilakukan adalah menyerbu WC setelah turun dari kereta. Yang anehnya, petugas kebersihan WC tetap menerima lembar seribuan meski ada tertulis TOILET Gratis di depan pintu masuk. Setelahnya mencari sarapan dan mencharge para Handphone yang setengah kehilangan daya. Team Raung masih membicarakan masalah tali yang sampai detik ini belum ada, sebagai teman yang baik saya pun menyarankan &#8220;Bagaimana jika memakai tali kutang?&#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />. Dari Stasiun Ps. Turi kami berjalan kaki ke depan PGS (Pusat Grosir Surabaya) untuk naik bus ke Terminal Bungur Asih. Sampai di Terminal Bungur Asih, saya pun ditinggalkan oleh team utama. Mereka lebih dulu berangkat ke Terminal Probolinggo. Penyebabnya adalah saya, Djanu, dan Vera (untuk Vera dia langsung gabung dari Surabaya) masih harus menunggu team satu tenda yang tak lain adalah Rio Praditia alias Acong partner crime ke Semeru dan Rinjani.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Conk, di mana?&#8221; berkali &#8211; kali kami menghubungi dan mengirimkan SMS. &#8220;Udah naik ojeg atau Taxi aja biar lebih cepat&#8221; saran kami kepadanya &#8220;Ndri, duit gw itu yang di kantong tinggal 5.000 perak, ATM gw kan patah, lagian ojeg susah nyarinya kalo di Surabaya&#8221; jawabnya. Setelah kedatangannya kami segera bergegas mengejar ketertinggalan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berkumpul semua di Terminal Probolinggo, kami melanjutkan perjalanan ke Alun &#8211; Alun Besuki. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunakan pick up sewaan dengan tarif 15 ribu/orang. Banyak bonus pemandangan selama perjalanan ke desa Baderan. Sawah &#8211; sawah, pegunungan, dan tentu beberapa wanita sedang mandi di tepi Sungai  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q03.gif" style="border:none;background:none;" alt=":genit:" />. SMS dari Asa (team lain yang ke Argopuro, tetapi pisah di terminal Bungur Asih) telat masuk. Saya menerimanya ketika sudah setengah jalan ke desa Baderan &#8220;Om, sebelum naik ke Baderan setiap orang bawa fotokopi KTP dan dua materai 6rb untuk 1 kelompok untuk pengurusan simaksi di BKSDA. Trims. Asa. &#8221; Dan tentunya kami tidak membawa materai.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata pengurusan Simaksi tidak semudah seperti yang ada di Pos Bremi. Di Bremi seingatku hanya menuliskan nama dan memberikan selembar fotocopy KTP. Tapi hal itu tidak berlaku di Kantor BKSDA Baderan. Yang ada di pos Baderan adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>1 lembar SIMAKSI, yang bertuliskan nama-nama para pendaki yang kemudian ditempelkan materai dan juga Kartu Identitas Penduduk (dan lagi si Acong belum ada KTP dan sebagai gantinya, ia menyerahkan.. Oh bukan Kartu Tanda Mahasiswa koq, tapi Kartu Tanda Cuti  <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/q11.gif" style="border:none;background:none;" alt=":nohope:" />) rangkap 5. Seingat saya, 1 buat pendaki, 1 buat arsip di BKSDA, 1 buat kantor pusat Surabaya, 1 buat kepolisian, 1 lagi buat siapa ya.. <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/7.gif" style="border:none;background:none;" alt=":confused:" /> saya lupa</li>
<li>Tiap pendaki wajib mengisi buku tamu. Nama, Alamat, dan nomor contact</li>
<li>Para pendaki harus berkumpul bersama agar dapat difoto dan tak ketinggalan kepala BKSDAnya juga. Alasannya adalah biar saya gampang nyarinya kalau terjadi sesuatu. (foto dari om Ahmad)</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Full Team bersama kepala BKSDA" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/316433_1746201553858_1803377810_1141164_1534028_n.jpg" alt="" width="432" height="324" /></p>
<p style="text-align: justify;">Baru larut malam kami berangkat yang dikarenakan tukang fotocopy sedang jalan-jalan entah ke mana sehingga perangkapan 5 lembar urung dijadikan. Cahaya yang dihasilkan dari <em>headlamp</em> beriringan membelah gelapnya malam. Kami terus berjalan hingga pukul 24.00 WIB. Saat dingin dan kantuk sudah menyerang, kami hentikan pendakian malam ini. Tenda saya, Acong, Djanu, dan Vera didirikan bersebelahan dengan Tenda teh Lisna dan TP. Sedangkan yang lain berada lebih ke atas tepatnya di halaman rumah petani (baca : di samping kandang Ayam).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">02 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari setelah sarapan dengan lauk telor asin, kami lanjutkan kembali pendakian ini. Selain jalanan yang mulai menanjak, yang menjadi pengganggu utama sepanjang perjalanan ini adalah terik Matahari dan debu-debu yang mau tak mau harus kami hirup juga. Brm.. Brmm.. suara motor menggilas jalanan yang berdebu. Dari belakang melajulah satu motor Cross yang berpenumpang om Mube. &#8220;Ga kuat jalan..!!&#8221; teriaknya ketika motor itu melintasiku. Memang dari kemarin, Om Mube sudah kena serangan di perut, entah masuk angin atau yang lainnya. Jalan, jalan, dan jalan lagi membayangkan seandainya naik ojeg langsung ke Cikasur. Dan saya hanya bisa berdoa agar ojeg itu setelah mengantarkan om Mube juga bisa mengantarkan saya secepatnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah tengah hari ketika saya mencapai pos Mata Air I. Bukannya mau menjadi yang paling terakhir tapi begitulah kaki seakaan tidak mau diajak kompromi. Untungnya ketika saya sudah sampai, makanan sudah tersedia dan lagi dengan lauk telor asin&#8230; Selesai makan siang, ojeg yang membawa om Mube sudah sampai juga di Pos Mata Air I. &#8220;Bang, masih bisa ke Cikasur ga?&#8221; teriakku, &#8220;Wah dah ga bisa Mas, bensinnya ga cukup&#8221; jawab tukang ojeg tersebut. Dengan lunglai saya menjawab &#8220;yah&#8230;.&#8221;. Saya sampai di Alun- Alun Cikasur sudah hampir pukul delapan malam. Menggunakan kata beruntung lagi, tenda sudah berdiri dan makanan sedang dimasak. Kali ini saya menolak untuk dicekokin telor asin lagi <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/6.gif" style="border:none;background:none;" alt=":p" /> (bisa bisulan pantat gw <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" />)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">03 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Alun - alun Cikasur oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6122508360/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6088/6122508360_d32b244721.jpg" alt="Alun - alun Cikasur" width="500" height="335" /></a><br />
Setelah sarapan dan sesi bernasis ria selesai, perjalanan dilanjutkan menuju Cisentor. Siang hari sudah sampai di Cisentor ada sedikit perbedaan pendapat antara saya dan om Djoko. Antara langsung ke puncak dan mendirikan tenda di Cisentor dengan resiko kemalaman sampai ke Cisentor lagi dan pendapat kedua mendirikan tenda di Rawa Embik dan Summit pada waktu subuh mengejar sunrise. Akhirnya pendapat pertama dipilih juga. Dan saya memutuskan untuk tidak ikut ke puncak demi mengistirahatkan sendi-sendi kaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul 08.00 malam, teriakan &#8220;alhamdulilah sampai juga&#8221; terdengar di sekitar tenda. Ternyata mereka sudah sampai kembali di Cisentor. Acara masak memasak menjadi kegiatan selanjutnya. Tapi anehnya dari tenda om Djoko belum juga ada penampakan penghuninya. Tanya-tanya ke teman lain ternyata melihat om Djoko sudah turun dari puncak duluan. Hingga pukul 12 malam, 4 orang dinyatakan hilang. 3 pria dan 1 wanita. Berkoordinasi dengan om Asa maka dikirimkanlah 3 orang dari team dan 1 orang bantuan dari mas-mas yang bangga menamakan dirinya team SPG (Sing Penting Gembira). Bermodalkan pinjeman HT dari tenda sebelah maka mereka memulai tugasnya menyisir punggungan tempat terakhir om Djoko dkk terlihat. Membatasi ruang gerak dengan membangun tenda di Rawa Embik.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, sederet pertanyaan muncul di rongga pikiran. Bagaimana kabar mereka, Apakah mereka terkena Hipotermia, Ditowel macan kumbangkah mereka, Diseruduk babi yang memang liarkah, Ditemani Dewi Rengganiskah, Andaikan benar-benar hilang, judul Headline Korannya apa ya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">04 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 07.00, belum ada kabar dari team yang kemarin telah ke Rawa Embik. Saya pun mengajak Djanu untuk menyusul ke Rawa Embik. 30 menit berjalan, kami dikejutkan dengan kehadiran om Djoko. &#8220;Om Djoko, kemana aja, Tidur di mana, koq bisa tersesat?&#8221; seruku kepadanya, &#8220;Tidurnya ya di hutan, ada jalan setapak terus gw ikutin aja, cuma jalan lewat 1 jam koq ga ketemu-temu Rawa Embik, jadi kami berhenti. Terus gw dan Sigit paginya nyari jalur ke belakang dan ketemu ma anak-anak di Rawa Embik&#8221;. menjawab semua pertanyaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 09.00 kami tetap melanjutkan perjalanan ke Danau Taman Hidup meski beberapa teman yang lain belum kembali ke Cisentor. Melewati Sabana dan hutan serta tak lupa tanaman Jelatang akhirnya sampai juga kaki di Danau Tamam Hidup sekitar pukul 20.00 WIB.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">05 September 2011</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari di Danau, kabut di atas Danau seakan belum mau beranjak. Yang saya dengar begitulah, seakaan Danau itu hidup dan kabut bermain-main di atasnya. Kalau dulu sewaktu kita SD dengan mata pelajaran menggambar, yang paling kita sering lihat dan kita gambar adalah 2 buah gunung dengan Matahari di tengahnya. Tapi memang seperti itu kenyataan yang terjadi di Danau Taman Hidup. Matahari muncul diapit oleh 2 bukit.</p>
<p><a title="Danau Taman Hidup oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6122274149/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6063/6122274149_88272b7ec3.jpg" alt="Danau Taman Hidup" width="500" height="192" /></a></p>
<p><a title="Tak berjudul oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6168425134/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6179/6168425134_7ea7ab9222.jpg" alt="" width="500" height="278" /></a></p>
<p><a title="Menyinari Bumi Ini oleh cantigidotnet, di Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/6129520226/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.static.flickr.com/6192/6129520226_66d2b42409.jpg" alt="Menyinari Bumi Ini" width="334" height="500" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/09/ngapain-kembali-ke-argopuro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gila Bola</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/08/gila-bola/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/08/gila-bola/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 09:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Seorang Seminaris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1040</guid>
		<description><![CDATA[Sejak saya masuk ke Seminari, yang menjadi Rektor di sana adalah RD. Paulus Haruna. Meski usianya sudah tidak muda lagi, akan tetapi dia selalu rajin ke Lapangan Sempur setiap hari Senin siang untuk bermain bola. Di Kamarnya terpampang poster ukuran jumbo. Tentu bukan poster bang Rhoma, melainkan RD. Haruna sendiri sedang berjongkok dan memegang bola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejak saya masuk ke Seminari, yang menjadi Rektor di sana adalah RD. Paulus Haruna. Meski usianya sudah tidak muda lagi, akan tetapi dia selalu rajin ke Lapangan Sempur setiap hari Senin siang untuk bermain bola. Di Kamarnya terpampang poster ukuran jumbo. Tentu bukan poster bang Rhoma, melainkan RD. Haruna sendiri sedang berjongkok dan memegang bola dan berseragam Juventus. Hebat benar&#8230; Kalau ditanya siapakah team kebanggaannya, Juve, Juve, jawab RD. Haruna.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah juga aku lihat foto dia bersama sepasang suami istri yang baru disahkan olehnya. Dalam foto itu, kedua mempelai cantik dan gagah. Tapi sangat disayangkan sang pemimpin misa mukanya ada luka. Yup, RD. Haruna terkena cakar ketika sedang bermain bola. Paling parah adalah ketika dia harus dibebat cidera pada kaki kirinya. Selama lebih 3 bulan gips dan perban setia menemani akibat ketika merayakan gol yang disarangkan ke gawang lawan, para pemain lain menibaninya persis ketika orang-orang di Eropa sana merayakan gol. Tapi yang beda adalah tentu yang menibaninya, seorang pemain bertubuh gemuk. Dan dengan terpaksa dia memimpin misa dengan cara duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah hampir 4 tahun saya berada di Seminari, ternyata RD. Haruna telah berubah haluan. Dengan adanya Messi di Barcelona, tentu dengan jelas dia menjawab siapa team jagoannya &#8220;Barcelona&#8221;. Sebagai hadiah karena ulang tahunnya, maka kami sekelas sepakat memberikan jersey KW super Barcellona dengan nomor punggung 9 dan bertuliskan Haruna.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang-kadang juga kami meminta izin untuk menonton siaran langsung Liga Champion yang disiarkan dini hari di Televisi. Dan tentunya sebagai penggemar bola, RD. Haruna mengizinkannya. Lebih banyak diizinkan ketimbang tidaknya. Tapi kalo kami tidak diizinkan, dengan senang hati dia memberikan hasil &#8211; hasil pertandingan semalam pada saat selesai misa pagi di Kapel.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/08/gila-bola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beer&#8230;</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/08/beer/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/08/beer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 07:40:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Seorang Seminaris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini terjadi sewaktu saya berada di kelas 3. Mbete mempunyai seorang Ayah yang bekerja di salah satu perhotelan. Mungkin karena itulah banyak stok bir melimpah di rumahnya. Beberapa kali jikalau sudah kembali ke Seminari pada Minggu pertama, Mbete biasanya menyelundupkan beberapa kaleng atau botol Bir. Pada saat pelajaran Bahasa Inggris, ternyata Mbete masih menyimpan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kisah ini terjadi sewaktu saya berada di kelas 3. Mbete mempunyai seorang Ayah yang bekerja di salah satu perhotelan. Mungkin karena itulah banyak stok bir melimpah di rumahnya. Beberapa kali jikalau sudah kembali ke Seminari pada Minggu pertama, Mbete biasanya menyelundupkan beberapa kaleng atau botol Bir.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat pelajaran Bahasa Inggris, ternyata Mbete masih menyimpan sekaleng Bir. Tak ayal bir itu menjadi rebutan. Saya juga tak mau kalah untuk meminta jatah. Gluk gluk, seteguk dua teguk bir masuk ke tenggorokan. Yang bikin jelek adalah ketika habis meminum bir adalah wajah saya berwarna merah, seperti kepiting rebus kata temen-temen ku. Dengan kondisi di dalam kelas yang hanya berjumlah 13 orang, maka dengan mudahnya wajah-wajah para murid terlihat Guru. Tepat yang aku takutkan, Mam Else bertanya kepadaku :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Andri, are u Okay? you look sick. Wajah kamu memerah?&#8221;  tanya Mam Else</p>
<p style="text-align: justify;">Gawat, secepat kilat aku menjawab : &#8220;Im Okay Mam, Saya hanya sedikit sakit..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau kamu mau, kamu bisa beristirahat koq di ruang tidur..&#8221; Mam Else menawarkan</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, gapapa koq Mam, saya masih bisa tahan&#8230;&#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/14.gif" style="border:none;background:none;" alt=":D" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dan lepaslah aku dari marabahaya. Bisa gawat kalau aku ketahuan minum bir pada saat pelajarannya. Muka memerah memang yang aku kesalkan. Hal itu terulang lagi ketika aku meminum bir sekitar pukul 9 malam di Dormit. Akupun pergi ke Ruang TV untuk menonton. Setelah habis suatu acara saya pun bermaksud meninggalkan ruang TV. Tapi entah kenapa ketika saya berjalan seperti ada yang mengikuti.. dan benarlah ternyata seorang staff mengikutiku dari belakang. Saya cepat-cepat berbelok ke dalam ruang kelas dan menjatuhkan kepala ke atas meja belajar. Staff itu membuka pintu ruang kelas dan bertanya :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ndri, lu gapapa? Muka lu koq merah banget?&#8221; Frater Tono bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gapapa Frat, saya cuma ga enak badan aja&#8221; jawabku</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terhindarlah aku dari marabahaya sekali lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/08/beer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berburu Mie</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/08/berburu-mie/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/08/berburu-mie/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 02:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Seorang Seminaris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Pukul 11 malam, ketika semua Seminaris seharusnya sudah masuk ke dormit yang sebelumnya diawali dengan bunyi lonceng, Saya, Jambee, dan Choky malah bergegas menuju Ruang Ganti. Ruang Ganti kami tepat bersebelahan dengan Ruang Komputer yang dimana di dalam Ruang Komputer tersebut tersimpan beberapa kardus mie yang disumbangkan oleh Donatur. Ruang Ganti dan Ruang Komputer dipisahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pukul 11 malam, ketika semua Seminaris seharusnya sudah masuk ke dormit yang sebelumnya diawali dengan bunyi lonceng, Saya, Jambee, dan Choky malah bergegas menuju Ruang Ganti. Ruang Ganti kami tepat bersebelahan dengan Ruang Komputer yang dimana di dalam Ruang Komputer tersebut tersimpan beberapa kardus mie yang disumbangkan oleh Donatur. Ruang Ganti dan Ruang Komputer dipisahkan oleh tebalnya tembok dan dengan sekat-sekat kawat di atasnya. Meski dibatasi oleh tembok yang tebal, akan tetapi ada sekat kawat di atas yang sudah agak rusak, maklumlah mungkin dari zaman dulu belum pernah ada renovasi. Ruang Ganti akan dikunci bila sudah mau jam tidur oleh Seksi Perlengkapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rencana jahat itu muncul tiba-tiba. Saya menghampiri Jambee dan membisikan sesuatu<br />
&#8220;mbee, mie tuh di Ruang Komputer, daripada nganggur ga dimakan-makan dan dihabisi oleh waktu kaduluwarsa, gimana kalo kita aja yang embat?&#8221; Pikiran Jambee pun tidak berbeda jauh denganku, &#8220;Hayuk, tapi gimana caranya?&#8221;, &#8220;Gampang, seruku!, kita minta bantuan Choky saja&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun menghampiri Choky yang notebene adalah sang pemegang kunci Ruang Ganti, &#8220;Chok, mau makan mie ga ntar malam?&#8221; Choky yang sudah bosan teracuni Sate (baca Sayur Tempe) racikan khas mbok Darmie menjawab &#8220;Ya mau ajalah, mang mie darimana?&#8221;, &#8220;Hm, begini rencananya.. Ntar malam gw dan Jambee masuk ke Ruang Ganti dan elu kunciin aja gw berdua dari luar. Terus elu balik lagi sekitar setengah jam untuk ngebukain lagi pintu Kamar ganti, ntar kalo ada staff bilang aja elu mau ambil sesuatu&#8221;, &#8220;beres..&#8221; seru Choky. Dan Kamipun mengakhiri konspirasi jahat itu sambil menunggu malam tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul sebelas malam, bunyi lonceng membahana di seluruh Seminari. Suara khasnya adalah teng pendek yang diikuti teng pendek lainnya sebanyak 3 kali. &#8220;Sudah saatnya.!&#8221; seruku. Saya, Jambee, dan Choky bergegas ke Ruang Ganti. Sesuai rencana, Choky mengunci saya dan Jambee di Ruang Ganti. Jambee yang mempunyai loncatan mirip Harimau bertugas untuk mengambil mie di Ruang Komputer dan saya berjaga-jaga. Dengan sigap dia memanjat lemari dan membuka sekat kawat dan menghilang. &#8220;mbee, mie goreng yah..&#8221; bisikku, &#8220;iye tau&#8221; sedikit berteriak. Tak lama kemudian sekardus mie dia lemparkan terdahulu dan dengan cepatnya saya mengambilnya. Setelah saya mengambilnya, Jambee sudah beraada di atas lemari dan sekali loncatan dia sudah berada di bawah. Ckckck, memang hebat dia, lemari yang mempunyai ketinggian kira-kira 2 meter diloncati begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menghilangkan jejak, kardus mie itu kami buang sedangkan isinya kami sembunyikan di dalam lemari kami masing-masing. Sekitar setengah jam kemudian, Choky datang dan membukakan pintu. Kami pun membawa beberapa mie untuk kami masak di Dormit*. Beberapa hari kemudian, saya melihat bahwa sekat di Ruang Ganti yang menghubungkan dengan Ruang Komputer telah diperbaiki. Mungkin para staff sudah menyadari jikalau mie yang mereka taruh sudah berkurang satu Dus. Tapi sia-sia juga jika mereka ingin mencari siapa pelaku yang mengambil sekardus mie tersebut. Karena mie itu telah habis kami makan.</p>
<p style="text-align: justify;">*Dormit = Kamar Tidur</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/08/berburu-mie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kawah Putih &#8211; Ciwidey, Bandung.</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/08/kawah-putih-ciwidey-bandung/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/08/kawah-putih-ciwidey-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 02:42:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1015</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang dari Jakarta, akhirnya saya menjejakan kaki juga di tanah Kawah Putih. Rasa penasaran memang muncul belakangan ini. Konon viewnya bagus dan sering digunakan sebagai tempat melaksanakan pre wedding. Memasuki pelataran parkir, kita harus menaiki mobil jenis pick up yang akan mengantar kita ke parkiran lebih atas dan lebih dekat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang dari Jakarta, akhirnya saya menjejakan kaki juga di tanah Kawah Putih. Rasa penasaran memang muncul belakangan ini. Konon viewnya bagus dan sering digunakan sebagai tempat melaksanakan pre wedding.<br />
Memasuki pelataran parkir, kita harus menaiki mobil jenis pick up yang akan mengantar kita ke parkiran lebih atas dan lebih dekat dengan lokasi. Dengan membayar karcis 25 ribu rupiah dan sudah termasuk diangkut mobil pick up kita sudah bisa menyaksikan panorama Kawah Putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Bau menyengat belerang sudah mulai tercium. Aroma tak sedap dan bisa membuat sesak napas kontan memunculkan para pedagang masker. Mereka menawarkan dagangannya dari mulai anak tangga kita melangkah. &#8220;Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., cukup 5000 rupiah saja&#8221; Saya yang sengaja sudah membawa slayer menghiraukan tawaran penjual itu. Menaiki tangga lagi, &#8220;Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., tiga masker cukup 10.000 rupiah saja&#8221;. Saya hiraukan lagi sampai saya berada di tangga paling atas, dan lagi-lagi penjual masker menawarkan dagangannya, &#8220;Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., seribu rupiah saja&#8221; <img src="http://cantigi.net/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/8.gif" style="border:none;background:none;" alt=":hammer:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat pribadi : Terus terang agak kecewa dengan view yang ditawarkan Kawah Putih. Jikalau anda sudah pernah ke <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Gunung Papandayan &#8211; Garut</a>, anda pasti juga mengalami kekecewaan yang sama seperti saya. &#8220;Gini aja neh&#8221; sempat terlontar kepada teman-teman seperjalanan. Karena memang untuk pemandangan saya akui lebih indah di <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Papandayan</a>. Untuk panorama pohon mati cukup diwakilkan dengan kawan Hutan mati yang terhampar agak luas di <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Papandayan</a>. Tapi sayangnya akses jalan ke <a href="http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/">Kawah Papandayan</a> masih rusak dan perlu dikembangkan menjadi sektor pariwisata jika ingin bersaing dengan Kawah Putih.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5921699249/" title="Kawah Putih oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm7.static.flickr.com/6131/5921699249_692e79ef30.jpg" width="500" height="335" alt="Kawah Putih"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/08/kawah-putih-ciwidey-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Convert JPG ke PDF di Ubuntu</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/06/convert-jpg-ke-pdf-di-ubuntu/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/06/convert-jpg-ke-pdf-di-ubuntu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 10:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1013</guid>
		<description><![CDATA[Cara pertama adalah dengan insert picture di Word Processor. Setelah selesai baru diexport ke PDF Cara kedua adalah (dapat dari http://bitprison.net/jpg_to_pdf) dengan menginstall Imagemagick terlebih dahulu. Masih ingatkah kata-kata saktinya &#8221; sudo apt-get install imagemagick&#8221;. Setelah terinstall buka terminal dan ganti di direktori tempat file jpg itu berada cd \namafiletempatberada setelahnya ketik lagi &#8220;convert *.jpg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cara pertama adalah dengan insert picture di Word Processor. Setelah selesai baru diexport ke PDF<br />
Cara kedua adalah (dapat dari http://bitprison.net/jpg_to_pdf) dengan menginstall Imagemagick terlebih dahulu. Masih ingatkah kata-kata saktinya &#8221; sudo apt-get install imagemagick&#8221;. Setelah terinstall buka terminal dan ganti di direktori tempat file jpg itu berada cd \namafiletempatberada setelahnya ketik lagi &#8220;convert *.jpg namafileyangdimau.pdf&#8221;</p>
<p>Cukup mudah kan&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/06/convert-jpg-ke-pdf-di-ubuntu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Papandayan 11-12 Juni 2011</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 01:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5823893581/" title="Motor Cross oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3332/5823893581_2cfdce3687.jpg" width="500" height="335" alt="Motor Cross"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5826502784/" title="The Rock oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2143/5826502784_55eb166a46.jpg" width="500" height="335" alt="The Rock"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824006969/" title="Stone oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3480/5824006969_ebd8cf80dc.jpg" width="500" height="335" alt="Stone"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824635302/" title="Panorama dari Lawang Angin oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2042/5824635302_22b0a736f4.jpg" width="500" height="335" alt="Panorama dari Lawang Angin"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824609688/" title="Death Forest oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3232/5824609688_34100f9310.jpg" width="500" height="335" alt="Death Forest"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5824648342/" title="Saat Mentari Bersinar oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm6.static.flickr.com/5312/5824648342_0191d21c42.jpg" width="334" height="500" alt="Saat Mentari Bersinar"></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/cantigidotnet/5826648612/" title="di antara cantigi oleh cantigidotnet, di Flickr"><img src="http://farm6.static.flickr.com/5274/5826648612_b45ab89595.jpg" width="500" height="334" alt="di antara cantigi"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/06/papandayan-11-12-juni-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiriman EMS</title>
		<link>http://cantigi.net/2011/06/kiriman-ems/</link>
		<comments>http://cantigi.net/2011/06/kiriman-ems/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 00:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cantigi.net/?p=990</guid>
		<description><![CDATA[no contact POS Indonesia yang ada di Daan Mogot : 021 &#8211; 564 5408 / 021 &#8211; 560 1206]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>no contact POS Indonesia yang ada di Daan Mogot : 021 &#8211; 564 5408 / 021 &#8211; 560 1206</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cantigi.net/2011/06/kiriman-ems/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

