Rabu 04 Mei 2016 menjelang jam 6 sore, terjadi kemacetan yang tidak biasa ketika saya berangkat menuju ke stasiun Pasar Senen. Libur panjang akhir pekan membuat penghuni Jakarta berbondong-bondong melepas kepenatan ke luar kota. Saya adalah salah satu yang termasuk di dalamnya. Setelah menjemput Vani di Jelambar, taxi yang kami tumpangi membelah kemacetan ibu kota. Berbekal dengan aplikasi waze, akhirnya kami tiba 45 menit sebelum kereta Serayu Malam berangkat menuju Purwokerto. Purwokerto merupakan lokasi Gathering Nasional Kaskus OANC ke-6 yang  bertemakan Nyong Rika Njugur Bareng, tepatnya diadakan di Bumi Perkemahan Baturaden. Meski sudah rutin diadakan sejak tahun 2011, tapi saya baru bisa mengikutinya lagi tahun ini. Terakhir 5 tahun silam di Kareumbi Bandung.

Di stasiun saya sempat bertemu dengan mang Anto, salah satu sesepuh OANC yang pernah melakukan kegiatan bersepeda keliling Indonesia beberapa tahun silam. Dari mang Anto sendirilah saya baru mengetahui kalau sudah ada peserta gathering lainnya yang bersama-sama menaiki Serayu Malam. Keadaan di dalam stasiun sendiri cukup ramai didominasi oleh muda mudi yang memanggul Carriel. Tepat pukul 21.00 WIB kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Senen.

Kamis 05 Mei 2016, sekitar pukul 08.00 pagi kereta Serayu Malam telah sampai di Stasiun Purwokerto. Teman-teman OANC sudah berkumpul di pojokan stasiun dekat WC umum. Saya hitung ada 11 orang termasuk saya dan Vani. Sebelum dijemput angkot carteran, kami sempatkan terlebih dahulu untuk sarapan. Mengganti angin yang ada di dalam perut dengan tempe Mendoan dan segelas teh hangat. Sampai di Bumi Perkemahan Baturaden, kami disambut dengan rintikan hujan. Bau tanah basah menyeruak hidung dan tingginya pohon Pinus memberikan kesejukan tersendiri.  Setelah hujan reda, saya mencari tanah datar untuk mendirikan tenda.

Satu persatu peserta Gathering Nasional OANC telah datang. Setelah melakukan registrasi ulang, peserta akan mendapatkan kaos, name tag yang terdapat nomor undian, gelas, pin, dan ‘welcome drink’ berupa minuman khas Banjarnegara yaitu Dawet Ayu. Agenda acara pembukaan Gathering Nasional harus ditunda karena derasnya hujan. Barulah setelah makan malam, acara dilanjutkan kembali di pendopo. Sambutan oleh mas Timbul selaku ketua Panitia Gathering Nasional OANC ke-6, sepatah dua patah kata oleh om Idos selaku Moderator Kaskus OANC, dan kemudian perkenalan seluruh peserta. Setelah sesi perkenalan selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi mengenai perkembangan OANC dan Kaskus pada masa yang akan datang. Gethuk goreng yang diedarkan serta hadiah bagi yang bertanya di sela-sela diskusi menambah antusias peserta. Selesai acara diskusi, tiba saatnya acara yang telah ditunggu-tunggu yaitu Doorprice. Ada ratusan doorprice yang akan dibagikan, mulai dari peralatan outdoor yang murah sampai yang mahal, berbagai merk lokal maupun luar, dan tentunya berbagai jenis barang seperti daypack, pisau, gaiter, senter, hammock, waterblade, jaket, celana, baselayer, sandal, sepatu, topi, kompor..Sadis bukan? Malam itu saya mendapatkan tas hammock dan Vani mendapatkan pisau Eiger. Tuntas sudah acara hari pertama dan sebagian besar peserta kembali ke tendanya masing-masing untuk beristirahat.

Baca juga :   ORIENTEERING", SAAT TERSESAT DI HUTAN

Pagi hari Jumat 06 Mei 2016, antrian di kamar mandi seperti antrian keluar pintu tol Cikampek ketika libur tiba. Hal itu diakibatkan jumlah peserta tidak sebanding dengan jumlah kamar mandi. Meski dingin tidak menyurutkan niat peserta untuk mandi dan buang air. Untuk membangunkan peserta yang masih tertidur, panitia membacakan nomor-nomor doorprice. Berbahagialah mereka yang sudah bangun dan nomornya disebut. Berdukalah bagi mereka yang nomornya disebut tapi masih di alam mimpi. Setelah sarapan, acara berikutnya adalah games koboi yang dipandu oleh om Donny Jangkrix dan setelah games disambung dengan lapak ikhlas di mana para penjual dengan rela menjual gear-gear outdoornya dengan harga di bawah pasar. Hasil keuntungan yang didapat akan disumbangkan kepada Sahabat Panti yaitu sebuah organisasi sosial yang berfokus pada penyaluran bantuan materiil dan bantuan di bidang pendidikan kepada panti-panti asuhan. Organisasi ini beranggotakan kaum muda yang berkontribusi dalam perbaikan kualitas pendidikan dan kualitas kehidupan anak-anak panti asuhan.

Pada gathering nasional kali ini, banyak pihak yang ikut membantu dengan menjadi sponsor kegiatan, salah satunya adalah asuransi kehidupan FWD. Menurut penuturan Cici salah seorang marketing, asuransi FWD adalah asuransi life pertama berbasis digital yang memanfaatkan internet dan multimedia untuk menjalankan kegiatannya. Salah satu produk unggulan yaitu asuransi FWD bebas aksi. FWD Bebas Aksi memberikan manfaat penggantian biaya rumah sakit, risiko kematian dan cacat total akibat kecelakaan termasuk olahraga ekstrem. Dengan premi yang tergolong murah yakni 30ribu seminggu, para pelaku kegiatan outdoor seperti mendaki Gunung, Caving, Diving, atau aktivitas ekstrem lainnya sudah terlindungi. Hal seperti inilah yang tidak bisa kita temukan di asuransi  lain. Banyak sekali peserta gathering nasional yang tertarik dan mengisi formulir keikutsertaan asuransi FWD Bebas Aksi ini.

Baca juga :   Hipotermia

Saat siang hari, sebagian besar peserta bersama-bersama berjalan kaki ke Masjid untuk menunaikan ibadah Solat Jumat. Usai Solat Jumat dan makan siang, saatnya memberikan hasil baksos kepada perwakilan Sahabat Panti. Meski tidak seberapa, semoga uang yang diterima dapat membantu adik-adik panti bersekolah serta meningkatkan taraf kehidupan. Hujan yang mengguyur lagi siang itu membuat saya memilih untuk mendekam di dalam tenda. Tidur siang…

Menjelang malam hujan turun lagi. Di Pendopo panitia sudah menyediakan makan malam. Menunya kali ini adalah Soto/Sroto Sokaraja, yaitu Soto yang berasal dari Kabupaten Banyumas kecamata Sokaraja. Hampir sama dengan soto-soto lainnya dengan isi tauge, bawang, kerupuk, suwiran ayam tetapi yang membedakan soto Sokaraja dengan soto lainnya adalah menggunakan saus / sambal kacang. Dinginnya malam sembari makan soto Sokaraja hangat memang makyus. Acara selanjutnya adalah berkumpul di sekitar api unggun sembari menonton kesenian tradisional kentongan dari Senandung Wulung. Beberapa buah lagu ditampilkan dengan diiringi kentongan yang dipukul secara bergantian dan menimbulkan irama merdu. Salah satu lagu yang cukup populer yaitu Gethuk..

Gethuk, asale soko telo
Moto ngantuk, iku tambane opo
E alah gethuk, asale soko telo mas
Yen ra pethuk, atine ojo gelo

Setelah Grub musik kentongan “Senandung Wulung” menyelesaikan performanya, acara dilanjutkan dengan sesi sharing pendakian ke Gunung Elbrus yang merupakan salah satu puncak tertinggi di lempeng benua Eropa. Dengan ketinggian 5.642 mdpl tentu menggoda bagi para pendaki untuk menggapai puncaknya. Dengan kereta gantung pendaki sudah bisa menuju ketinggian 3.800 meter. Terdapat pula pondok-pondok gunung yang menyediakan tempat beristirahat dan makanan. Meski ramah untuk pendaki pemula, tetapi sangat dianjurkan untuk melakukan aklimitasi terlebih dahulu. Selain berbagi foto dan pengalamannya, narasumber juga memberikan tips untuk berjalan di atas es, bagaimana mengurus perizinan, serta rincian biaya yang dikeluarkan.

Baca juga :   Cerita Dari Ekspedisi Everest Kopassus '97(I)

Pagi hari Sabtu 7 Mei 2016, berita baik bagi seluruh peserta Gathnas, nomor undian doorprice sudah masuk putaran ke-2. Serempak para peserta meneriakan HORE!! dan bertepuk tangan. Baca doa rapal mantra agar keberuntungan menghampiri. Vani mendapatkan doorprice untuk ke-2 kalinya yaitu sebuah jaket. Selain doorprice panitia juga mengumumkan pemenang lomba foto instagram. Terdapat 2 kategori yang dilombakan yaitu kategori kegiatan (foto lokasi dan kegiatan gathnas) serta kategori ekspresi. Selamat kepada para pemenang. Setelah bersih-bersih areal kemping dan packing, para peserta diarahkan menuju banner besar yang sudah disiapkan untuk berfoto bersama.

Selesai foto bersama, tiba saatnya untuk mengundi grand doorprice yaitu 2 buah tiket perjalanan ke Gunung Semeru dan 1 buah kamera Gopro. Sayangnya doa dan mantra saya kurang ampuh.. :D
Setelah pengumuman penunjukan lokasi Gathering Nasional ke-7 tahun depan, maka Gathering Nasional ke-6 resmi ditutup. Para peserta kemudian diantarkan ke stasiun, terminal, dan rumah singgah bagi yang masih ingin bermalam di Purwokerto. Terimakasih kaskus OANC atas keseruannya, bertemu teman-teman baru, souvenir, sharing diskusi, baksos, makanan khas, hadiah dari doorprize, dan sampai jumpa lagi tahun depan di Tasikmalaya. Ingat Gathnas Ingat Doorprice. Oh iya, masih ada hadiah susulan dari kaskus, yaitu cendol dan kaskus plus selama sebulan. Jadi jangan sampai tidak ikut tahun depan ya..