Pada awalnya kami (Darwin, Rudi, Dina, Vani, dan Aku sendiri) berencana untuk pergi mendaki gunung Papandayan, akan tetapi karena Gunung Papandayan sedang terkena musibah kebakaran maka kami memutuskan untuk mengalihkan perjalanan kali ini menuju Gunung Lembu. Gunung Lembu merupakan salah satu gunung yang terdapat di Purwakarta tepatnya di Desa Panyindangan kecamatan Sukatani dengan ketinggian 789 mdpl, dinamakan demikian karena gunung tersebut berbentuk seperti Lembu alias sapi. Bagi Dina dan Rudi, pendakian ini merupakan pendakian perdana bagi mereka.

Sabtu 12 September 2015 pukul 06.30 WIB kami sudah berkumpul di terminal Kampung Rambutan karena bus Warga Baru yang akan mengantarkan kami ke Purwakarta akan berangkat pukul 07.00 WIB. Tarif bus Warga Baru sendiri adalah 20ribu rupiah. Tak banyak yang kami lakukan di dalam bus, tidur merupakan agenda utama karena sebelumnya kami harus bangun terlalu pagi. Ketika bus mulai masuk daerah Karawang, aku mengirimkan pesan teks kepada supir Pick Up bernama Wawan agar dia bisa menjemput kami 1 jam kemudian. Sesampainya di terminal Ciganea, kami sempatkan dulu mengisi perut sembari menunggu Kang Wawan datang menjemput.

Kang Wawan penduduk asli setempat merupakan salah satu orang yang merasakan berkah akibat mulai banyaknya pendaki yang mendaki Gunung Lembu. Sekali mengantar pulang-pergi rombongan dia mematok harga 550ribu baik dari terminal Ciganea atau Stasiun Purwakarta menuju Desa Panyindangan .Bekerja sebagai supir serabutan pada hari Senin sampai Jumat, “ya kadang ngangkut ikan, kadang jadi supir container” serunya ketika ku tanya apa pekerjaan aslinya.

Lama perjalanan dari terminal Ciganea ke Desa Panyindangan kira-kira memakan waktu 1,5 jam. Selepas pasar Sukatani, kami disuguhi pemandangan asri, tampak Gunung Bongkok, Parang, dan Lembu. Kami sampai di Desa Panyindangan sekitar pukul 10.00, beristirahat sejenak dan menambah perbekalan di warung bu Deddy (belakangan baru ketahui ibu itu biasa dipanggil bu Deddy dari blog-blog lain). Bu Deddy sendiri berterus terang sejatinya dia malah baru sekali mendaki Gunung Lembu karena penasaran.. banyak orang datang dari luar daerah untuk melihat pemandangan dari puncak Gunung Lembu sedangkan dia telah berpuluh tahun tinggal di situ malah belum pernah menginjakan kaki di Gunung Lembu. Ketika kami bertanya berapa lama ibu mendaki gunung Lembu, “2 jam saja” serunya mantap.

Baca juga :   Menuju Ujung Genteng

Pukul 11.00 Wib kami melanjutkan perjalanan.  Setelah melapor terlebih dahulu kepada petugas jaga dan membayar biaya retribusi 10.000 rupiah/orang.  Petugas memberikan penjelasan singkat mengenai jalur Gunung Lembu dan memberikan kami selembar kertas yang berisi peta pendakian. Jalur-jalur awal merupakan rerimbunan pohon bambu dengan kemiringan bervariasi. Setelah 30 menit berjalan, kami mencapai tempat kemping yang cukup luas bernama Saung Ceria. Dari sini kita sudah bisa melihat waduk Jatiluhur. Beberapa meter dari Saung Ceria ada beberapa warung yang menjajakan es kelapa muda. Teriknya matahari membuat kami terpaksa berhenti di salah satu warung sembari menikmati segelas es kelapa muda yang terus menggoda kerongkongan dan tak berdaya kami dibuatnya.

foto oleh Rudi

foto oleh Dina

Selesai menikmati segarnya es kelapa muda, kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang kami lewati seakan terus menanjak, sengatan sinar terik matahari dan debu-debu yang beterbangan, serta ketidaktahuan aku kapan terakhir kali berolah raga membuat tubuh ini terasa lebih cepat capai dan letih. Tak terkecuali juga dengan Rudi, meski hampir tiap minggu mengikuti lari maraton demi menambah koleksi medali, kulihat agak kepayahan juga dia. Beban yang ada di pundaknya lebih berat 2x daripada keril yang aku panggul. Pertama dia membawa tenda seberat 6kg ditambah 4 x 1,5 liter air minum, kedua sudah lewat seminggu dia tak bersua dengan kekasih pujaan hatinya. Entah hal yang pertama atau kedua yang membuat beban di pundaknya semakin berat. Pantas saja ketika di warung base camp dia melahap 2 buah butir telur dan ketika minum es kelapa muda tak cukup hanya segelas. Jalur berikutnya selain mendaki punggungan yang menyerupai punuk sapi, terdapat juga 2 buah petilasan yang berada di sepanjang jalur, yaitu Mbah Jongrang Kalipitung dan Mbah Surya Kencana.

Baca juga :   Pengalamanku di Lombok

2 jam? 2,5 jam? bukan..akan tetapi 4 jam perjalanan akhirnya kami sampai di Batu Lembu yaitu tebing yang menjorok dan menawarkan keindahan waduk Jati Luhur. Map yang diberikan kepada kami menunjukan bahwa ada areal untuk mendirikan tenda di sekitar Batu Lembu. Kami pun melakukan orientasi medan dan terpaksa kecewa ternyata tidak ada lahan yang tersisa untuk mendirikan tenda. Kami akhirnya kembali ke puncak 2, tempat lapang yang cukup luas dan cukup mendirikan beberapa tenda. Sekitar pukul 16.00 setelah tenda berdiri dan menggoreng kentang, kami kembali turun ke Batu Lembu untuk menyaksikan Sunset yang ternyata terhalang oleh bukit. Kembali ke camp ternyata sudah banyak tenda berdiri bersebelahan dengan tenda kami. Malam itu kami lewatkan dengan memasak dan mendengarkan paduan suara dari sekelompok remaja yang membawa gitar yang tepat mendirikan tenda di depan tenda kami. Malam makin larut, rencana awal yang ingin bermain kartu harus ditunda karena rasa kantuk yang melanda. Kami memilih untuk beristirahat tidur.

Hari Minggu Pukul 3 dini hari, sudah ada alarm yang menyala.. entah dari tenda sebelah mana. Sekitar pukul 4 kami baru kembali menuju Batu Lembu untuk menyaksikan Sunrise. Sembari menunggu waktu Matahari terbit, saya gunakan untuk melanjutkan tidur. Terlihat beberapa pendaki lain ada yang mengobrol dan mungkin sebagian lagi ada yang merenung. Rudi yang biasanya merokok, kali ini memutuskan untuk tidak menyulut rokoknya. Dia menyadari bahwa tujuan dia mendaki gunung adalah untuk menghirup udara segar. Mengganti asap dalam paru-parunya meski hanya sesaat. Dia juga tidak ingin pendaki lain terganggu paparan asap rokoknya meski ia tahu di dinginnya pagi sambil menunggu kegiatan yang paling mengasikan adalah menghisap rokok. Panorama Matahari terbit tidak bisa disaksikan dengan sempurna, beberapa gerombolan awan menghalangi penampakan sang Mentari. Kami memutuskan kembali ke tenda dan kemudian memasak sarapan.

Baca juga :   Mendaki Sindoro dari Tambi

Menu sarapan pagi ini adalah Roti goreng isi selai dan susu coklat, telor rebus, sup makaroni, dan makanan penutupnya adalah agar-agar. Vani yang bertugas sebagai seksi komsumsi harus bekerja lebih keras karena selain memasak, dia juga harus menjaga makanan yang telah dimasak maupun bahan makanan lainnya. Karena sudah terjadi di tenda sebelah, 2 buah roti dirampas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab (baca: monyet ekor panjang). Tak hanya mengambil roti, monyet tersebut mengacak-acak plastik berisi sampah yang telah kami gantungkan di dahan pohon sebelumnya. Merasa iba, Vani akhirnya melemparkan batu roti yang terjatuh kepada monyet itu. “Kasihan, monyetnya dah ga makan sebulan..” serunya. Selesai makan kami merapikan tenda, packing, memungut sampah di sekitar tenda, dan bersiap kembali turun. Demikian catatan perjalanan pendakian kami ke Gunung Lembu pada tanggal 12-13 September 2015.