Ada yang pernah berkenalan dengan tanaman ini ?

Bila sudah pernah, pasti teman – teman tidak akan pernah lupa dengannya. Efek yang ditimbulkan ketika terkena sengatannya adalah perih, panas, gatal, dan pada permukaan kulit ditandai dengan bentol. Saya sendiri pun mengalaminya ketika pergi ke Gunung Argopuro. Karena belum tahu cara mengobati yang benar, maka saya membawa selotip besar. Selotip itu ditempelkan pada kulit yang tersengat lalu langsung dicabut. Akan tetapi dapat bocoran dari teman bisa diobati dengan cara mengusapnya dengan tanah.

Di dunia rimba pendakian, tanaman ini biasa disebut juga dengan Djancoek. Mungkin ketika seseorang terkena sabetan duri ini dia berteriak DJANCOEK sehingga nama tersebut sudah melekat sedemikian rupa. Mari kita tanya om Wiki tentang tanaman Jelatang ini :

Jelatang adalah tumbuhan yang daunnya berbulu (miang) yang dapat menyebabkan gatal pada kulit jika bersentuhan. Tumbuhan ini memiliki beberapa jenis. Ada yang berbatang, dan ada juga yang merambat. Jelatang memiliki daun berukuran kecil, tapi ada juga jelatang dengan daun lebar. Tumbuhan ini memiliki tinggi sekitar 10 cm sampai 1 m.

Di daerah Kedurang, Bengkulu Selatan, Bengkulu, tanaman ini dibedakan berdasarkan bentuk dan efek gatal yang ditimbulkannya. Untuk yang daunnya berukuran kecil, kira-kira memiliki lebar 5 cm, dinamakan jelatang ayam. Jelatang kambing, daunnya lebih lebar dan dengan tingkat efek gatal yang lebih. Ada juga jelatang kerbau, daunnya paling lebar dan tebal. Lebarnya dapat mencapai 30 cm. Jelatang jenis ini, dapat menyebabkan gatal yang baru sembuh hingga seminggu kemudian. Semua jenis jelatang biasa tumbuh di daerah dengan kelembaban yang tinggi.

Baca juga :   Membaca Awan Untuk Memperkirakan Cuaca