Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang dari Jakarta, akhirnya saya menjejakan kaki juga di tanah Kawah Putih. Rasa penasaran memang muncul belakangan ini. Konon viewnya bagus dan sering digunakan sebagai tempat melaksanakan pre wedding.
Memasuki pelataran parkir, kita harus menaiki mobil jenis pick up yang akan mengantar kita ke parkiran lebih atas dan lebih dekat dengan lokasi. Dengan membayar karcis 25 ribu rupiah dan sudah termasuk diangkut mobil pick up kita sudah bisa menyaksikan panorama Kawah Putih.

Bau menyengat belerang sudah mulai tercium. Aroma tak sedap dan bisa membuat sesak napas kontan memunculkan para pedagang masker. Mereka menawarkan dagangannya dari mulai anak tangga kita melangkah. “Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., cukup 5000 rupiah saja” Saya yang sengaja sudah membawa slayer menghiraukan tawaran penjual itu. Menaiki tangga lagi, “Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., tiga masker cukup 10.000 rupiah saja”. Saya hiraukan lagi sampai saya berada di tangga paling atas, dan lagi-lagi penjual masker menawarkan dagangannya, “Ayo Pa, Ibu dibeli maskernya.., seribu rupiah saja” :hammer:

Pendapat pribadi : Terus terang agak kecewa dengan view yang ditawarkan Kawah Putih. Jikalau anda sudah pernah ke Kawah Gunung Papandayan – Garut, anda pasti juga mengalami kekecewaan yang sama seperti saya. “Gini aja neh” sempat terlontar kepada teman-teman seperjalanan. Karena memang untuk pemandangan saya akui lebih indah di Kawah Papandayan. Untuk panorama pohon mati cukup diwakilkan dengan kawan Hutan mati yang terhampar agak luas di Kawah Papandayan. Tapi sayangnya akses jalan ke Kawah Papandayan┬ámasih rusak dan perlu dikembangkan menjadi sektor pariwisata jika ingin bersaing dengan Kawah Putih.

Baca juga :   Refleksi Kecil di Semeru