Seakan belum puas menikmati indahnya Prau kemarin .. libur lebaran 2013 saya pun merencanakan kembali ke sini.. Atur jadwal dan bertanya kepada Acong apakah dia mau ikutan ke Prau.. “Mau berapa hari di Dieng ndrie?” “Sampai u bosan cong.” jawabku sekenanya setelah saya mengirim pesan ajakan itu. Bus adalah pilihan yang masuk akal untuk menuju Wonosobo. Kebetulan dekat rumah ada PO bus Malino. Hari keberangkatan pun tiba.. sampai di Pool bus ternyata saya salah hari..seharusnya besok  saya baru berangkat dan hari ini hanya untuk tukar tiket saja. Beruntung masih ada seat kosong di samping supir sehingga saya diperbolehkan berangkat juga.

Sampai Terminal Wonosobo sekitar jam 10 an.. SMS yang saya kirimkan ke Acong belum juga dibalas. Cong sampe mana? Cong gw dah sampe Purwokerto, Cong gw dah sampe Wonosobo nih.. Saat hampir siang barulah ada sms yang masuk, “Sorry ndrie, hp gw ketinggalan di kost.. gw ga tidur di kost semalam.. bentar lagi gw jalan nih” , “Okey jawabku” sembari menanyakan kepada ibu penjual nasi yang saya singgahi, “Dari Jogja ke Wonosobo berapa jam ya bu?” “Paling lama 5 – 6 jam dik..” wassem.. jadi teringat Nad dan Nurul yang dulu menunggu kami (Saya, Fury, dan Omat)  dari subuh sampai mahgrib.

 

Sekitar jam 5 sore barulah Acong menampakan batang hidungnya. Saya menyuruhnya untuk istirahat dan makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke Dieng. Dari Terminal Wonosobo kami naik angkot warna kuning dan turun di pasar. Di pasar menyambung bus 3-4 tujuan Dieng.

 

Kami telat 30 menit. Penjaga basecamp Patak Banteng baru saja pergi mengantar rombongan dari Jakarta. Karena tidak mau mendaki malam hari karena takut ngantuk dan tidak ada orang di basecamp, kami memutuskan untuk ke penginapan saja. “Jarak dari tapak banteng ke Dieng jauh ga ndrie?” “deket-deket.. jalan kaki saja, lagian dah ga ada angkutan” baiklah..Acong mengamini.. Sewaktu berjalan masih saja ada orang yang mengira kalo Acong ini seorang bule, Hey Mister.. teriak anak kecil di seberang jalan. Kami kembali berjalan.. nafas tersengal-sengal, koq ga sampai-sampai ya? Beruntung ada mobil pick up yang mau berhenti setelah kami berhitching ria.

Baca juga :   Kemping Ceria Gema Inti DKI Jakarta di Batu Tapak Sukabumi

Penginapan bu Djono menjadi tempat kami bermalam. Kami dilayani oleh mas Dwi, salah seorang penjaga losmen yang sangat ramah. Rupanya dia fasih berbahasa Inggris, kami banyak bertukar cerita dengannya. Menemani makan malam, dia bercerita bahwa dia mempunyai banyak teman dari luar negeri.. dan salah satu nya adalah perempuan dari Thailand.

Saya : “Eh mas Dwi, cewe bener ga tuh?”

Acong menimpali : “jangan-jangan shemale tuh..”

Dwi  dengan ekspresi muka terkejut : eh masa sih, wah iya jangan-jangan ya..

Saya dan Acong tertawa terbahak-bahak

Hari pertama di Dieng kami isi dengan mengunjungi Candi Arjuna, kawah sikidang, berlanjut ke Telaga Warna. Sebenarnya dari Candi Arjuna kami memutuskan untuk berjalan kaki saja, tapi tawaran tukang ojeg mampu juga meluluhkan semangat juang 45 kami. (Bilang aja kalo u capek :p). Dari Kawah Sikidang berlanjut ke Telaga Warna. dan dari Telaga Warna kami berjalan lagi ke Penginapan.

Hari ke 2 kami menginap di tempat bu Djono, hanya kami habiskan untuk jalan-jalan santai di sekitaran penginapan, ke minimarket hanya untuk membeli es krim yang dengan naifnya kami nikmati sambil duduk di teras minimarket tersebut dan melupakan kalau hari ini masih dalam rangka puasa Ramadhan. Sorenya membeli gorengan dan memakannya di serambi penginapan.

Menghabiskan waktu di Dieng seperti waktu sedang berputar lambat..Saya yang terbiasa cepat-cepat kadang larut dalam lambatnya waktu.

Hari ke 3 di Dieng atau sehari sebelum Lebaran, kami bersiap meneruskan perjalan menuju Prau. Perjalanan ini sekiranya menjadi penghiburan buat kami yang ternyata sama-sama sedang memilih mundur (baca : patah hati)..hahhaha

Trek awal selepas makam warga adalah perkebunan. Masuk hutan dengan dominasi jalan setapak dan akar. Trek terus menanjak sampai Pemancar. Dan dari Pemancar jalurnya sudah didominasi jalan datar dengan semak-semak. Sampai di patok triangulasi ternyata hanya kami berdua yang di sini..Bangun tenda, makan siang, dan menunggu sunset. Malamnya saya berusaha untuk membuat foto startrail.. ya mungkin karena masih amatir jadinya ancur..hahahaha

Baca juga :   Dukung Jam Bumi 2009!

9517609884_f675699a3c_z

 

Pagi hari, saatnya berburu sunrise.. Filter yang telah saya persiapkan sebelumnya dengan sukses terbelah 2 karena mungkin saya dudukin sewaktu di tenda. Setelah Berpuas diri dengan narsis dan Mentari sudah naik ke ufuk, kami pun bersiap memasak sarapan. Selesai sarapan kami mengepack kembali peralatan lenong untuk kembali kepada peradaban.

9524660136_b7fa781719_z

 

 

 

1167168_10201008022577124_978961694_o