Prakata
Batu Tapak adalah nama lokasi perkemahan (camping Ground) terletak di kawasan hutan lindung bukit Cangkuang desa Cidahu di kaki Gunung Salak. Nama Batu Tapak diambil dari legenda tapak batu raksasa yang ditemukan di sekitar area perkemahan.
Cagar alam dengan pepohonan damar yang lebat, terhampar di sepanjang lereng, tebing, dan bukit, merupakan hutan lindung dengan keanekaragaman hayati sekaligus menjadi rumah berbagai jenis burung dan biota lainnya.
(sumber dari website http://kemping.batutapak.com/)

 

Rencananya kami dari Gema Inti DKI Jakarta dan Gema Inti Pusat akan mengadakan kemping bersama menghabiskan malam pergantian tahun di sini. Tak hanya Gema Inti DKI saja, tetapi ada juga perwakilan Gema Inti daerah seperti Gema Inti Bali diwakilkan oleh Cornelius Geraldy, Gema Inti Jawa Timur diwakilkan oleh Robi Dharmawan, dan Gema Inti Sumut oleh Anto Yap. Total 18 orang + 1 bayi yang akan ikut bersama.
31 Desember 2015
Beberapa hari sebelumnya kami dibuat khawatir karena tiket kereta Bogor – Sukabumi telah habis terjual. Masih terbayang dalam ingatan, di setiap  media berita tertulis bahwa pada tanggal 23 Desember lalu telah terjadi kemacetan parah menjelang libur Natal. Waktu tempuh Jakarta – Bandung bisa mencapai 21 jam, padahal normalnya hanya 3-4 jam, atau 1,5 jam jika Rio Heryanto yang jadi supirnya. Hal ini yang menyebabkan kebingungan bagaimana kami akan berangkat menuju Sukabumi? Ada yang menyarankan naik kereta atau bus pada tanggal 30 Desember, tapi pada akhirnya kami berangkat pada tanggal 31 Desember 2015 pukul 08.30 WIB dari kantor INTI di MGK Kemayoran dengan menggunakan 4 buah mobil.

 

Kemacetan terjadi ketika kami sampai di Pasar Cicurug, karena sudah menjelang siang kami sempatkan dulu untuk makan siang di salah satu rumah makan khas Sunda. Sehabis makan siang tak lupa kami berkunjung ke rumah Bp. Leman yang merupakan sekretaris INTI cabang Sukabumi. Belasan ekor anjing berukuran kecil dan sedang yang dipeliharanya menyambut kedatangan kami. Dijamunyalah kami dengan teh dan buah rambutan yang dipetik sendiri. Meski sederhana tapi tak mengurangi keakraban di antara sepuh dan anak mudanya.

 

Sampai di bumi perkemahan Batu Tapak rencana awalnya kami menyewa  4 tenda saja ditambah dengan 1 tenda INTI, akan tetapi dari pihak pengelola mengatakan  apabila ingin memasang tenda sendiri harus di tempat area kemping lainnya. Tidak bisa dijadikan satu area dengan 4 tenda yang telah kami sewa. Dan kami memutuskan untuk menyewa 1 tenda lagi dengan kapasitas 2 orang. Tenda yang kami gunakan adalah tenda dome yang di atasnya ditambahkan dengan flysheet. Di dalam tenda terdapat matras dengan kasur busa serta bantal yang bersarungkan kain berwarna putih. Fasilitas yang diberikan termasuk listrik, makan pagi, dan termos di setiap tenda. MCK dengan air panas yang terletak di belakang area kemping tak pelak menjadikan kemping ini terasa lebih wah. Bila tak membawa logistik tidak perlu khawatir karena ada rumah makan yang menyediakan berbagai jenis masakan.

 

Treking hari pertama adalah menuju sebuah kolam air dingin. Jarak yang ditempuh relatif singkat sekitar 15 menit. Dari area kemping kita harus berjalan menyusuri jalan terus ke bawah menuruni bukit. Tangga-tangga yang tersusun dari batu dengan pegangan bambu di sisi kiri dan sisi kanannya menjaga agar seseorang tidak terpeleset dan memudahkan untuk dilewati. Kolam yang kami datangi tidak terlalu luas, hampir berbentuk lingkaran dengan air terjun setinggi kira-kira 2 meter. Kedalaman kolam tersebut juga bervariasi, semakin dalam ketika tepat di bawah air terjun. Beberapa teman mencoba lompat dari tebing di mana air terjun kecil berada. Ketika hari sudah sore dan langit menjadi gelap karena mendung, kami beranjak pulang kembali ke area kemping.

 

Dari pihak resort Batu Tapak dalam rangka menyambut pergantian malam tahun baru mengundang sekelompok band bernama Matahari Reaggae Band. Menikmati makan malam ditemani alunan reagge yang memaksa kaki bergoyang dan sesekali ikut bersenandung. Jerusalem, One Love, Kingstown Town, Anak Pantai, Madu & Racun, Gereja Tua, Sio Mama merupakan beberapa tembang yang dibawakan. Pukul 12 kurang 10 menit seluruh pengunjung restaurant dipersilakan untuk menuju lapangan untuk menyaksikan kembang api dan menerbangkan lampion yang telah dibagikan sebelumnya. Ucapan selamat tahun baru kepada sesama rekan gema Inti terus bergantian, entah mengapa sayup-sayup terdengar juga ada yang mengucapkan selamat mendapatkan jodoh. “Semoga lekas punya kekasih hati mblo..”

Lyrics to Jerusalem

Barouh ata Adonaï
Barouh aba Yeroushalaïm

From the Bible to the Coran
Revelation in Jerusalem
Shalom, salamalekoum

You can see christians, jews and muslims
Living together and praying
Amen ! Let’s give thanks and praises

Baca juga :   Mengepak adalah seni

Barouh ata Adonaï
Barouh aba Yeroushalaïm

Jerusalem here I’am
Jerusalem je t’aime
Jerusalem here I’am
Jerusalem je t’aime

Israela yakirati
Israela yakirati
Ani ohév otarh
Israela yakirati

From the Bible to the Coran
Revelation time
Shalom, salamalekoum

You can see christians, jews and muslims
Living to gether and praying…
Amen ! let’s give thanks and praises

Barouh ata adonaï
Barouh aba yeroushalaïm
Jerusalem here I’am
Jerusalem je t’aime

Matahari Reaggae Band (photo credit : Stevani Leonard)
01 Januari 2016
Selepas menyaksikan kembang api dan menerbangkan lampion kami kembali ke area tenda. Menuntaskan hajat yang tertunda tadi sore, menghangatkan Babi Panggang Karo dari Sumatera Utara dan Sei Babi dari NTT. Semakin pagi semakin leher bagian belakang menegang.  Beberapa rekan yang sadar diri (takut terkena stroke)  memutuskan untuk undur diri dan memilih bergumul dengan kasur dan bantal.

Tak ada yang benar-benar bangun pagi setelah semalam suntuk bergadang. Akibatnya adalah kami kehabisan telor, mie, dan kerupuk saat makan pagi di restaurant. Yang disayangkan adalah ketika kami tidak mendapatkan lauk pauk di atas, beberapa piring yang masih penuh dengan makanan ditinggal begitu saja oleh pengunjung resort lainnya. Entah apa yang dipikirkan mereka, sudah mengambil makananan tapi tidak bertanggung jawab untuk dihabiskan.

Setelah sarapan, kelompok terbagi menjadi 2. Satu kelompok berjumlah 9 orang ingin berendam di air panas sedangkan 10 orang lainnya mencoba treking menuju air terjun. Kabar yang didapat untuk mencapai lokasi air terjun tersebut menghabiskan waktu hampir 2 jam dengan medan menuruni dan menaiki bukit. Tak gentar dengan kabar tersebut, kami memutuskan untuk tetap maju berjalan.

Trek awal adalah menuruni bukit ketika akan ke kolam air dingin kemarin. Dari percabangan jalan kami memilih ke kiri menuju tampungan irigasi sedangkan kalau ke kanan menuju kolam. Dari tampungan irigasi kami terus berjalan ke kiri melewati area kemping milik warga lain dan terus berjalan sampai kami menemukan area hutan pinus. Dari hutan pinus jalan terus menanjak dan memaksa kami berhenti untuk beristirahat, mengambil nafas panjang, dan menyiapkan dengkul. Kira-kira 10 menit berjalan kami sampai di sebuah warung dan 20 meter kemudian kami sudah sampai di lokasi air terjun. Total waktu yang ditempuh ternyata hanya 45 menit berjalan. Setelah mandi dan berfoto-foto, kami mengambil air terjun dan memasaknya untuk menyeduh Pop Mie.

Baca juga :   Frosbite (radang dingin)

Memakan PopMie sambil menikmati air terjun memang sungguh mengasikan. Biarlah pengunjung lainnya iri dan kesal karena mencium aroma PopMie yang telah kami buat. Cukup ramai pengunjung yang datang di lokasi air terjun tersebut, didominasi oleh kaum muda. Tiba-tiba kami semua dikejutkan dengan tindakan sekelompok pemudi yang membersihkan rambutnya menggunakan shampo. Ah andai saja mereka tau kalau tindakan mereka itu mencemarkan mata air dengan bahan kimia dari shampo yang mereka gunakan. Berapa orang yang mengambil air tersebut untuk keperluan memasak? mengairi sawah? Apakah mereka rela bilamana mereka menggunakan air tersebut untuk memasak dan menyadari bahwa kuah PopMie yang kental dan gurih yang disisakan untuk terakhir diminum itu ternyata sudah tercemar limbah shampo?

Menjelang sore kami memutuskan untuk kembali menuju area kamping.  Terlihat awan tebal menutupi dan gerimis-gerimis kecil menemani kami berjalan pulang. Untungnya kami sudah mencapai lokasi kemping ketika gerimis-gerimis itu berubah menjadi deras. Capek berjalan membuat beberapa dari kami memasuki tenda dan beristirahat. Menjelang malam udara menjadi semakin dingin, beberapa rekan tampak mengobrol di salah satu tenda. Bercanda ria dan tak lupa mencurahkan isi hati.

02 Januari 2016
Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng dengan lauk ayam, gorengan bakwan, sayur buncis, dan kerupuk. Setelah menyelesaikan sarapan selanjutnya kami bersiap-siap untuk kembali pulang ke Jakarta. Keakraban yang terjalin semoga dapat diteruskan antar sesama rekan GEMA INTI. Kemesraan yang terjadi biarlah dapat terus tumbuh dan berkembang tidak hanya di area kemping saja, tetapi dapat berlanjut hingga ke tahap berikutnya, sesuai dengan ucapan selamat yang terdengar sayup-sayup pada malam sebelumnya hingga menjadi doa dan harapan dan berubah menjadi kenyataan. “Semoga lekas punya kekasih hati mblo..”

Baca juga :   Mendaki Sindoro dari Tambi