24 Desember 2010
Subuh dini hari saya sudah terbangun. Setelah mandi dan menyeduh popmie yang harus diulang 2 kali karena air termos yang digunakan ternyata hanya hangat / tidak panas, maka saya berangkat menuju Slipi JDC. Pukul 05.00 saya tiba dan mengirimi SMS ke Smigun bahwa saya sudah standby di lokasi JDC. Dari Slipi kami berdua menuju Ps. Rebo dan dari Ps. Rebo melanjutkan perjalanan ke Bogor. Meeting Point yang ditentukan adalah pool Damri Bogor. Sambil menunggu rekan kami yang lainnya, waktu luang kami sempatkan dengan melihat-lihat 160 yang hilir mudik….
Satu persatu rekan kami datang, Fearley lalu disusul Kang Ndarz, dan Maggie serta Rangga juga telah tiba dari Bekasi dan tetap menunggu di dalam terminal.
Dari Terminal Baranangsiang, perjalanan dilanjutkan ke terminal Sukabumi. Karena hari sudah siang, kami pun sejenak beristirahat di dalam terminal dan tentunya tak lupa mengisi perut. Dari terminal kami menaiki angkot kuning menuju terminal Lembur Situ. Tak kurang dari setengah jam perjalanan tapi tarif yang harus kami bayar sebesar Rp. 5.000,- (mahal amat kang.. :nohope: )
Pil Kina merupakan obat anti malaria (udah pada tau kan) dan rasanya sangat pahit sekali (kalo yang ini udah pada tau belum?). Oleh karenanya, pil itu dilapisi dengan rasa manis agar rasa pahit tidak mengganggu di lidah. Kami bergantian meminum pil Kina, dan giliran Smigun kami memberitahukan kalo rasanya manis sehingga tidak perlu menelannya dengan bantuan air. Cukup dengan hanya diemut saja.. :Peace:
Hehehe, sudah bisa ditebak kan.. rasa manisnya hanya sementara… _____________:ngacir:
Dari terminal Lembur Situ kami menaiki elf. Untuk menuju terminal Surade ternyata jalanan yang dilalui adalah jalanan rusak penuh lubang. Goncangan demi goncangan harus kami terima dan untungnya saya duduk di sebelah 160.. uhuy :genit:
Sampai di terminal Surade penumpang hanya menyisakan enam orang saja. Perasaan agak mual karena ber off road ria sedikit terobati karena telah naik 2 mahkluk cantik ke dalam elf yang kami naiki :hi: . Setelah bertegur sapa ternyata mereka akan ke ujung genteng juga. Hampir jam setengah enam kami tiba di pantai ujung genteng. Godaan ombak serta lembayung senja menyambut kami. Menyusuri pantai sambil menunggu moment sunset :sun: jangan lupa mengeluarkan tripot dan klik
Senja di Ujung Genteng

Baca juga :   Gede yang semakin Komersial!!!

Maggie menelpon pengurus wisma untuk memastikan bahwa masih ada tempat untuk kami menginap.. Dari penuturan Bp. Pengurus disebutkan bahwa jarak dari TPI (Tempat pelelangan Ikan) hanya berjarak 1 km. Karena hanya 1km, kami memutuskan berjalan kaki saja. Hari sudah mulai agak gelap dan beberapa orang menanyakan tujuan kami kemana.. “ke Cibuaya Pa..” seru kami “Oh itu mah masih jauh, masih 3 km lagi” balas bapak itu. Ha..??? :confused:
Setelah lapar dan lelah melanda jiwa dan raga, kami sampai juga di wisma Cibuaya. Wisma yang akan kami tempati ternyata masih ada penghuninya.. seorang pria bule bernama ALI (masih saudaraan sama ALI BABA ga ya? :hammer:) Sebagai penggantinya kami ditawari untuk menginap rumah penduduk bernama..(aduh gw lupa namanya sapa, sebut saja Mr. X). Dengan biaya sebesar Rp. 200.000,- kami mendapatkan 2 kamar, 3 ranjang, 1 kamar mandi, 1 dapur dan bonus gas 3kg :D.
Rencananya malam ini kami akan melihat penangkaran Penyu. Tapi hal itu saya urungkan. Saya dan Kang Ndarz lebih memilih tinggal di rumah. Setelah ditinggal pergi oleh Smigun, Rangga, Fearly, dan Maggie. Saya dan Kang Ndarz ngobrol ngalur ngidul, mana si kang Ndarz cerita tentang penampakan-penampakan atau hal mistis lagi, haiya.. :takuts Untungnya hal itu tidak berlanjut lama karena lapar obrolan kami hentikan dan sekarang kami berdua mencari ayam goreng yang diumpetin Maggie. :siul:

25 Desember 2010

Rencana untuk menyusuri pantai sambil berburu sunrise batal… Karena kami tidur terlalu malam pastinya tidak bisa bangun terlalu pagi. Rangga yang berperan menjadi koki mengeluarkan jurus -jurus mautnya yang telah ia pelajari selama menjadi anak kos. Sarapan siap tersedia dan anehnya tepat dengan Kang Ndarz bangun tidur… :matabelo: Selesai sarapan, saya, Rangga, dan Smigun berjalan-jalan di pantai. Hampir jam 14.00 siang kami berangkat menuju Curug Cikaso menggunakan angkot carteran. Letak curug itu berada dekat terminal Surade. Untuk mencapainya kita harus menumpang perahu dengan biaya Rp. 15.000,- / orang.
naik perahu dulu
Hujan mengguyur dengan derasnya ketika langkah kaki baru menginjakan  curug Cikaso :Paws: . Kesialan tidak berhenti sampai di situ, karena lensa 20mm saya mendadak sakit… :mads Bad mood melanda sukma. Tak jadilah saya ber SS ria. Dengan mengandalkan lensa 50mm, saya menjepret sekelompok anak muda yang narsis. narsis

Baca juga :   Mahameru Puncak para Dewa (session 2)

Setelah Smigun selesai dengan lensa 18-55mm barulah diri saya meminjam lensa tersebut. Jepret…

Cikaso

Hari sudah semakin sore. Dari terminal Surade kami menaiki bus menuju Terminal Baranangsiang – Bogor. Untuk busnya sendiri adalah bus MGI dengan tarif Rp. 35.000,- Selesai sudah petualangan sejenak saya di Ujung Genteng. Bila terhibur tidak menolak :cendol hehehe cantigi.net

mau liat putu lengkapnya? klik di sini aja