“Foto-foto elu di Argopuro busuk” kata-kata Acong itu akhirnya juga mempengaruhiku untuk kembali mendaki Gunung Argopuro setelah 2 tahun sebelumnya saya pernah ke sini.

31 Agustus 2011

Setelah malam sebelumnya, saya mengirimkan SMS ke Djanu agar sampai ke Stasiun Kota tepat pukul 07.00 WIB biar mendapatkan tempat duduk di Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tapi apa daya karena mundurnya perayaan Idul Fitri tahun ini, maka dengan berat hati saya mengirimkan kabar lagi kepada Djanu bahwa kemungkinan besar saya telat karena tidak ada kendaraan umum yang lewat di depan rumah. Pukul 07.00 WIB, saya baru mendapatkan angkutan berwarna biru bernama Metromini. Di dalamnya saya menerima kabar bahwa tiket kereta Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) sudah habis, seakan tidak percaya saya pun mengatakan “Ah, yang bener lu…, Elu nanyanya ma petugas tiketnya bukan?” “Iya beneran, gw tanya ma petugas tiketnya.. sampe 2 orang lagi..!!” jawab Djanu… “Kalo Kertajaya ada ga?” saya tanya lagi, “Bentar.., ada Ndri jam 17.10 ambil ga?” kata Djanu, “Ya sudah, ambil aja itu, Kertajaya” jawabku menyudahi SMS.

Pukul 08.00 WIB, sampai juga di stasiun Kota. Ketika bertemu dengan Djanu, saya mengecek logistik apa saja yang dibawanya, hanya untuk memastikan saja karena inilah pengalama pertamanya mendaki Gunung. “mie dan 15 telor asin” jawabnya mantap seakan saya tidak usah meragukannya lagi. Dan saya mengatakan kepadanya agar kita tetap naik GBMS  dengan memakai tiket Kertajaya. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya agar mendapatkan tempat duduk, maka yang diharuskan adalah menuju ke tempat lansir kereta tersebut. Tapi sial, di saat kami hampir mendekati tempat Lansir yang berjarak hampir 1km dari Stasiun, seorang pria berwajah agak sangar dan berpakaian biru tua yang menandakan bahwa dia adalah seorang petugas menegur kami. “Mau ke mana mas ?”, “Mau ke Gaya Baru Pa..”jawabku sekenanya “Kalau sekarang sudah tidak boleh ke Dipo lagi mas.., nunggunya di Stasiun aja” balasnya. Tanpa bisa membantah lagi kami pun beranjak kembali menuju tempat tunggu setelah sebelumnya juga ada spanduk besar yang bertuliskan “Penumpang yang terhormat, agar menunggu kereta di Stasiun dan bukan di Dipo”.

Sia – sia saja kalau sudah datang pagi ke Stasiun Kota untuk mendapatkan tempat duduk tapi ternyata tidak bisa colong start. Yang ada bisa duduk menghampar di lantai. Tak ingin begitu, saya pun memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman lain yang start dari Tanjung Priok untuk berangkat menggunakan kereta Kertajaya. Naik Mikrolet sekali, kami bergegas menuju Tanjung Priok. “Maaf mas, tiket ini tidak bisa naik kereta Kertajaya dari sini, tapi harus naik dari Stasiun Senen, tuh lihat tertulis keberangkatan dari Senen jam 17.00”, seorang petugas berkulit hitam dan juga berbaju serba hitam, bertubuh besar,  berwajah yang kali ini memang sangar dengan aksesoris kumis tebal, ditambah dengan suara bas memberitahukan saya. WTF, lagi seakan tidak percaya saya bertanya , “Memangnya beda Pa, Kereta yang ini dengan yang ada di Senen?” “Beda mas, kalau yang di Stasiun Senen adalah kereta tambahan..”

Gila, masa dari Stasiun Kota terus ke Stasiun Tanjung Priok harus muter lagi ke Stasiun Senen. Tak mau begitu saja dipermainkan kereta (bisa ya?  :gila:)  Saya mencoba menghubungi Djoko (Trip Leader) untuk menanyakan apakah ada orang yang cancel. “Ada dua orang yang cancel..” Jawabnya ketika saya memberitahukan permasalahan yang telah terjadi kepadanya. Tanpa pikir panjang lagi, saya pun mengambil tiket yang batal itu. Ketika hilir mudik di Stasiun Tanjung Priok, petugas brewokan itu kembali menghampiri saya, “Mas, ga jadi ke Stasiun Senen?”, “Engga Pa, saya udah dapat tiketnya yang berangkat dari sini” jawabku. “Yah, terus tiket yang dari St. Senen hangus donk?” lanjutnya, “Ya, gpp Pa..”, jawabku lagi. “Hm, harusnya tadi ga usah ambil tiket lagi, yah gapapa pake tiket punya St. Senen tapi naik dari sini.., ya paling engga pake tambahin duit rokok”. Saya (dalam hati), “He..?”  :fuck3:

Baca juga :   Mengepak adalah seni

Masih ada 2 tiket di tangan yang berangkat dari St. Senen. Saya dan Djanu mencoba menjualnya kembali kepada orang-orang yang masih mengantri. Takut-takut cemas, kalau-kalau saja ada petugas atau Polisi yang menganggap kami adalah seorang Calo setengah waras yang menjual tiket Kereta Api Kertajaya di bawah harga yang telah ditentukan. Rugi 7 ribu Rupiah tidak menjadi masalah dibandingkan harus rugi seluruhnya. Satu per satu teman seperjalanan telah tiba. Ada juga team dari kelompok lain yang menuju ke Raung dan Arjuno Welirang. Meski kami baru masuk 1 jam sebelum keberangkatan, syukurlah masih banyak tempat duduk yang belum terisi dan team Raung masih membicarakan permasalahan tali untuk menggapai Puncak Sejati. Tak banyak yang bisa dilakukan di dalam kereta. Tidur sampai kebosanan gaya (karena sudah mencoba berbagai macam gaya tetap saja tidak nyenyak :p) sampai ditegur oleh penumpang lain karena main kartu tepok nyamuk. “De, di sini ada yang jantungan..” De, udah malam”, “De, ada anak kecil yang udah tidur”, “De, mizonenya buat nemenin main kartu…”

01 September 2011

Tiba di Stasiun Pasar Turi sekitar jam 7 pagi. Pertama-tama yang dilakukan adalah menyerbu WC setelah turun dari kereta. Yang anehnya, petugas kebersihan WC tetap menerima lembar seribuan meski ada tertulis TOILET Gratis di depan pintu masuk. Setelahnya mencari sarapan dan mencharge para Handphone yang setengah kehilangan daya. Team Raung masih membicarakan masalah tali yang sampai detik ini belum ada, sebagai teman yang baik saya pun menyarankan “Bagaimana jika memakai tali kutang?” :D. Dari Stasiun Ps. Turi kami berjalan kaki ke depan PGS (Pusat Grosir Surabaya) untuk naik bus ke Terminal Bungur Asih. Sampai di Terminal Bungur Asih, saya pun ditinggalkan oleh team utama. Mereka lebih dulu berangkat ke Terminal Probolinggo. Penyebabnya adalah saya, Djanu, dan Vera (untuk Vera dia langsung gabung dari Surabaya) masih harus menunggu team satu tenda yang tak lain adalah Rio Praditia alias Acong partner crime ke Semeru dan Rinjani.

“Conk, di mana?” berkali – kali kami menghubungi dan mengirimkan SMS. “Udah naik ojeg atau Taxi aja biar lebih cepat” saran kami kepadanya “Ndri, duit gw itu yang di kantong tinggal 5.000 perak, ATM gw kan patah, lagian ojeg susah nyarinya kalo di Surabaya” jawabnya. Setelah kedatangannya kami segera bergegas mengejar ketertinggalan kami.

Setelah berkumpul semua di Terminal Probolinggo, kami melanjutkan perjalanan ke Alun – Alun Besuki. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunakan pick up sewaan dengan tarif 15 ribu/orang. Banyak bonus pemandangan selama perjalanan ke desa Baderan. Sawah – sawah, pegunungan, dan tentu beberapa wanita sedang mandi di tepi Sungai  :genit:. SMS dari Asa (team lain yang ke Argopuro, tetapi pisah di terminal Bungur Asih) telat masuk. Saya menerimanya ketika sudah setengah jalan ke desa Baderan “Om, sebelum naik ke Baderan setiap orang bawa fotokopi KTP dan dua materai 6rb untuk 1 kelompok untuk pengurusan simaksi di BKSDA. Trims. Asa. ” Dan tentunya kami tidak membawa materai.

Baca juga :   Clara Sumarwati Warga Indonesia dan ASEAN Pertama yang Capai Puncak Everest

Ternyata pengurusan Simaksi tidak semudah seperti yang ada di Pos Bremi. Di Bremi seingatku hanya menuliskan nama dan memberikan selembar fotocopy KTP. Tapi hal itu tidak berlaku di Kantor BKSDA Baderan. Yang ada di pos Baderan adalah sebagai berikut :

  1. 1 lembar SIMAKSI, yang bertuliskan nama-nama para pendaki yang kemudian ditempelkan materai dan juga Kartu Identitas Penduduk (dan lagi si Acong belum ada KTP dan sebagai gantinya, ia menyerahkan.. Oh bukan Kartu Tanda Mahasiswa koq, tapi Kartu Tanda Cuti  :nohope:) rangkap 5. Seingat saya, 1 buat pendaki, 1 buat arsip di BKSDA, 1 buat kantor pusat Surabaya, 1 buat kepolisian, 1 lagi buat siapa ya.. :confused: saya lupa
  2. Tiap pendaki wajib mengisi buku tamu. Nama, Alamat, dan nomor contact
  3. Para pendaki harus berkumpul bersama agar dapat difoto dan tak ketinggalan kepala BKSDAnya juga. Alasannya adalah biar saya gampang nyarinya kalau terjadi sesuatu. (foto dari om Ahmad)

Baru larut malam kami berangkat yang dikarenakan tukang fotocopy sedang jalan-jalan entah ke mana sehingga perangkapan 5 lembar urung dijadikan. Cahaya yang dihasilkan dari headlamp beriringan membelah gelapnya malam. Kami terus berjalan hingga pukul 24.00 WIB. Saat dingin dan kantuk sudah menyerang, kami hentikan pendakian malam ini. Tenda saya, Acong, Djanu, dan Vera didirikan bersebelahan dengan Tenda teh Lisna dan TP. Sedangkan yang lain berada lebih ke atas tepatnya di halaman rumah petani (baca : di samping kandang Ayam).

02 September 2011

Pagi hari setelah sarapan dengan lauk telor asin, kami lanjutkan kembali pendakian ini. Selain jalanan yang mulai menanjak, yang menjadi pengganggu utama sepanjang perjalanan ini adalah terik Matahari dan debu-debu yang mau tak mau harus kami hirup juga. Brm.. Brmm.. suara motor menggilas jalanan yang berdebu. Dari belakang melajulah satu motor Cross yang berpenumpang om Mube. “Ga kuat jalan..!!” teriaknya ketika motor itu melintasiku. Memang dari kemarin, Om Mube sudah kena serangan di perut, entah masuk angin atau yang lainnya. Jalan, jalan, dan jalan lagi membayangkan seandainya naik ojeg langsung ke Cikasur. Dan saya hanya bisa berdoa agar ojeg itu setelah mengantarkan om Mube juga bisa mengantarkan saya secepatnya…

Sudah tengah hari ketika saya mencapai pos Mata Air I. Bukannya mau menjadi yang paling terakhir tapi begitulah kaki seakaan tidak mau diajak kompromi. Untungnya ketika saya sudah sampai, makanan sudah tersedia dan lagi dengan lauk telor asin… Selesai makan siang, ojeg yang membawa om Mube sudah sampai juga di Pos Mata Air I. “Bang, masih bisa ke Cikasur ga?” teriakku, “Wah dah ga bisa Mas, bensinnya ga cukup” jawab tukang ojeg tersebut. Dengan lunglai saya menjawab “yah….”. Saya sampai di Alun- Alun Cikasur sudah hampir pukul delapan malam. Menggunakan kata beruntung lagi, tenda sudah berdiri dan makanan sedang dimasak. Kali ini saya menolak untuk dicekokin telor asin lagi :p (bisa bisulan pantat gw :D)

Baca juga :   Gede yang semakin Komersial!!!

03 September 2011

Alun - alun Cikasur
Setelah sarapan dan sesi bernasis ria selesai, perjalanan dilanjutkan menuju Cisentor. Siang hari sudah sampai di Cisentor ada sedikit perbedaan pendapat antara saya dan om Djoko. Antara langsung ke puncak dan mendirikan tenda di Cisentor dengan resiko kemalaman sampai ke Cisentor lagi dan pendapat kedua mendirikan tenda di Rawa Embik dan Summit pada waktu subuh mengejar sunrise. Akhirnya pendapat pertama dipilih juga. Dan saya memutuskan untuk tidak ikut ke puncak demi mengistirahatkan sendi-sendi kaki.

Sekitar pukul 08.00 malam, teriakan “alhamdulilah sampai juga” terdengar di sekitar tenda. Ternyata mereka sudah sampai kembali di Cisentor. Acara masak memasak menjadi kegiatan selanjutnya. Tapi anehnya dari tenda om Djoko belum juga ada penampakan penghuninya. Tanya-tanya ke teman lain ternyata melihat om Djoko sudah turun dari puncak duluan. Hingga pukul 12 malam, 4 orang dinyatakan hilang. 3 pria dan 1 wanita. Berkoordinasi dengan om Asa maka dikirimkanlah 3 orang dari team dan 1 orang bantuan dari mas-mas yang bangga menamakan dirinya team SPG (Sing Penting Gembira). Bermodalkan pinjeman HT dari tenda sebelah maka mereka memulai tugasnya menyisir punggungan tempat terakhir om Djoko dkk terlihat. Membatasi ruang gerak dengan membangun tenda di Rawa Embik.

Malam itu, sederet pertanyaan muncul di rongga pikiran. Bagaimana kabar mereka, Apakah mereka terkena Hipotermia, Ditowel macan kumbangkah mereka, Diseruduk babi yang memang liarkah, Ditemani Dewi Rengganiskah, Andaikan benar-benar hilang, judul Headline Korannya apa ya…

04 September 2011

Pukul 07.00, belum ada kabar dari team yang kemarin telah ke Rawa Embik. Saya pun mengajak Djanu untuk menyusul ke Rawa Embik. 30 menit berjalan, kami dikejutkan dengan kehadiran om Djoko. “Om Djoko, kemana aja, Tidur di mana, koq bisa tersesat?” seruku kepadanya, “Tidurnya ya di hutan, ada jalan setapak terus gw ikutin aja, cuma jalan lewat 1 jam koq ga ketemu-temu Rawa Embik, jadi kami berhenti. Terus gw dan Sigit paginya nyari jalur ke belakang dan ketemu ma anak-anak di Rawa Embik”. menjawab semua pertanyaanku.

Pukul 09.00 kami tetap melanjutkan perjalanan ke Danau Taman Hidup meski beberapa teman yang lain belum kembali ke Cisentor. Melewati Sabana dan hutan serta tak lupa tanaman Jelatang akhirnya sampai juga kaki di Danau Tamam Hidup sekitar pukul 20.00 WIB.

05 September 2011

Pagi hari di Danau, kabut di atas Danau seakan belum mau beranjak. Yang saya dengar begitulah, seakaan Danau itu hidup dan kabut bermain-main di atasnya. Kalau dulu sewaktu kita SD dengan mata pelajaran menggambar, yang paling kita sering lihat dan kita gambar adalah 2 buah gunung dengan Matahari di tengahnya. Tapi memang seperti itu kenyataan yang terjadi di Danau Taman Hidup. Matahari muncul diapit oleh 2 bukit.

Danau Taman Hidup

Menyinari Bumi Ini

Setapak

Berjalan beriringan