Sabtu, 4 September 2010. Setelah beberapa hari sebelumnya meminta izin kepada atasan untuk tidak masuk kerja karena sebenarnya libur Lebaran baru dimulai pada tanggal 9 September 2010.Atasanku sudah paham dengan maksudku untuk pergi ke Lombok. Yaitu untuk mendaki Gunung, dan sempat – sempatnya dia menyarankan kenapa tidak mendaki Gunung Sinabung aja yang baru meletus…

Diiringi dengan doa kedua orangtuaku, aku berangkat menuju ke Stasiun Kota. Apalagi kalau bukan untuk naik kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan. Berkaca pada pengalaman tahun lalu, maka aku pun segera menuju tempat Lansir Kereta itu. Sialnya ternyata kereta sudah penuh, padahal ini masih 6 hari lagi sebelum Idul Fitri…Aku pun hanya bisa pasrah untuk duduk di lantai gerbong kereta. Tapi keberuntungan itu berpihak padaku. Salah seorang Bapak menawarkan kursinya padaku karena dia hanya mengantarkan para saudaranya mudik ke Surabaya. Dia merasa kasihan kepadaku karena menggendong keril yang menurutku tidak besar – besar amat dan ditambah lagi teman sebangku ternyata dari satu almamater yang sama dan satu jurusan pula.

Indonesian Time
Minggu, 05 September 2010. Pukul 4.30 dini hari, Kereta Gaya Baru Malam Selatan tiba di Stasiun Gubeng Surabaya. Tumben sekali menurutku, karena seperti yang sudah – sudah kereta tiba di atas jam 08.00 wib. Tapi menurut Bapak depan kursiku, ini sudah termasuk telat. Lantas, sebenarnya kereta harus tiba di Surabaya pukul berapakah? Saya memutuskan untuk rehat sejenak di stasiun karena tidak enak mengganggu teman kantor yang akan saya singgahi sekaligus mengambil tiket bus Surabaya – Mataram. Tepat pukul 05.30 saya akirnya beranjak dari stasiun. Menyusuri jalan dengan menaiki Becak. Meski keluarga temanku itu berpuasa, akan tetapi mereka menyediakan sarapan untukku. Di tempat dia lah aku menumpang mandi dan beristirahat hingga batas pemberangkatan bus tiba di terminal Bungur Asih. Dan Akupun dilarang pergi sebelum makan siang terlebih dahulu. Benar – benar keluarga yang baik…

Di terminal Bungur Asih, aku bergabung dengan rekan- – rekan pendakian. Rio Praditia alias Aconk, Vera, Suyan, Rukiya, Miky, Ilmy, dan Ilse. Menurut informasi, bus Titian Mas akan berangkat pukul 14.00 WIB. Tapi itu hanya sekedar informasi karena kenyataannya bus berangkat pukul 16.00 WIB. Indonesian Time begitulah cara Acong menjelaskan keterlambatan pemberangkatan bus kami kepada keempat mahasiswi dari Belanda itu. Selain tidur tidak banyak aktivitas yang kami lakukan di dalam bus.

Senin, 06 September 2010 subuh dini hari bus memasuki pelabuhan Gilimanuk – Bali. Pemeriksaan identitas diri menjadi rutinitas yang wajib dijalani. Ilse, Ilmy. Miki, dan Rukiya menunjukan paspor mereka. Saya, Vera, dan Suyan menunjukan KTP. Acong menunjukan KTM karena di usianya yang berkepala dua masih belum saja membuat KTP. Dan ternyata di belakang saya ada seorang pelajar SMA yang menunjukan Surat Tanda Tamat Belajar.
Pukul 09.00 wita bus sudah sampai di Pelabuhan Padang Bai. Informasi yang didapat bus kami bisa menyebrang ke Lombok pada pukul 10.00 wita. Lagi – lagi harus pakai istilah It’s Indonesian Time karena ternyata bus yang kami tumpangi baru bisa menyebrang pada pukul 11.00 wita

Perbedaan Karakter
Sampai di terminal Mataram kami langsung diserbu puluhan calo. Gaya bicara mereka seperti orang yang mau marah. Setelah bernegoisasi panjang lebar dengan mereka, kami dibawanya ke mobil L300. Sesuai kesepakatan kami membayar setengah terlebih dahulu dan sisanya akan dibayarkan jika sudah sampai di Sembalun. Bukan cuma kami yang menumpang L300, ada penduduk lokal juga. Beberapa wanita dan seorang wanita. Meski wanita gaya bicara tak mau kalah dengan para Pria. Berteriak kencang dalam bahasa daerah seakan memarahi atau mengutuki lawan bicaranya. Apa yang kutakutkan telah terjadi. Ternyata supir L300 itu tidak mau membawa kami sampai ke Sembalun. Sampai di Pasar Aikmel ternyata mereka telah meloby mobil lain untuk membawa kami ke Sembalun. Dan untungnya Acong tidak membayar penuh kepada supir L300 itu.
Dengan mobil Pick Up kami dibawa menuju Pos Pendakian Sembalun.

Diam itu Emas?
Selasa, 07 September 2010. Bangun pagi, menikmati indahnya suasana di kaki Gunung Rinjani. Saya, Aconk, Vera, dan Suyan mencari toko untuk menambah perbekalan sekaligus mencari warung makan untuk sarapan. Mencari di luar karena Pondok Sembalun menerapkan standart harga untuk wisatawan asing. Dan kami sebagai wisatawan domestik hanya bisa gigit jari karena harga seporsi nasi goreng saja dibanderol harga Rp. 20.000,- Dan sialnya ternyata kami harus benar – benar gigit jari karena tidak ada warung makan yang buka karena masih dalam rangka puasa. Ya, mau tidak mau kami kembali ke Pondok Sembalun. Setelah sarapan atau lebih tepatnya makan siang, kami pun memulai pendakian. Dalam pendakian ini, kami dibantu 2 orang porter bernama Pak Anwar dan Opat. Pa Anwar saya rekomendasikan bagi anda yang ingin mendaki Rinjani melalui Sembalun. Dia merupakan salah satu porter senior. Dia sudah mengerti apa saja tugas bagi seorang porter dan jago memasak juga. Meski kebetulan apa ga, foto dia terpampang di spanduk Rinjani di Pantai Senggigi.

Baca juga :   Mandalawangi Pangrango

Pos II merupakan tujuan utama kami hari ini. Karena di tempat ini terdapat sumber air. Dengan mengucap doa dalam hati serta tak lupa update status Facebook, saya bersama teman- teman memulai pendakian ini. Awal pendakian kami disuguhi dengan pemandangan bunga berwarna kuning seperti bunga Matahari. Selepas itu kami mulai memasuki perkebunan warga. Panasnya sinar mentari tidak menyurutkan kami melangkahkan kaki. Formasi pendakian saat itu adalah 2 porter paling depan disusul trio Belanda atau sesekali Aconk di depan mereka. Lalu Vera dan Suyan setelah itu Rukiye dan seperti yang sudah anda bisa tebak, sayalah yang paling terakhir atau istilah kerennya sweeper.

yellow

Pos I (Pemantauan) dapat ditempuh dalam waktu 3 – 4 jam. Tak berlama – lama di Pos I kami segera tancap gas menuju Pos II. Mengingat hari sudah sore. Dalam perjalanan ke Pos I tadi saya lebih banyak diam mengingat bahasa Inggris saya acak adut sehingga saya lebih baik diam saja. Tapi tak disangka aksi diam saya tadi diartikan beda oleh Rukiye. Dia menyangka saya marah karena dia berjalan terlalu lambat.
Perjalanan ke Pos II dapat ditempuh selama 1 jam. Sesampainya di Pos II (Trengengean) waktu sudah menunjukan pukul 18.00 WITA. Saya yang tiba paling terakhir langsung menyambar sebuah pisang Ambon. Demi pembenaran diri akan ketidak enakan hati terhadap Rukiye, maka saya berkata iya saja ketika Acong menjelaskan bahwa aksi diam tadi karena saya sedang lapar…

Are u OK?
Rabu, 08 September 2010. Seusai makan pagi, acara selanjutnya adalah acara rutin yaitu BAB. Yang dapat saya tangkap mereka para noni Belanda ikut menamakan ampasnya sendiri seperti Rukiye menamakan ampasnya dengan nama Rukiyani. Kenapa Rukiyani? Karena saat ini ada di Gunung Rinjani. Jadi mengikuti akhir kata –ni.

Pukul 10.00 WITA, kami melanjutkan pendakian. Pos Pelawangan Sembalun merupakan tujuan utama hari ini. Susunan formasi pendakian tidak banyak berubah. Kecuali Ilse dan Acong yang mundur ke belakang. Yang membuat saya heran baru kali ini saya mendaki tetapi ada Jembatan Penghubungnya. Hal itu saya tanyakan kepada Pa Anwar. Ternyata dulu ketika Alm. Bp. Soeharto masih memimpin bangsa ini. Dia mengunjungi Lombok dan ingin ke Gunung Rinjani juga. Maka dibuatkanlah jalan besar untuk muat 1 mobil. Salah satunya adalah jembatan yang terhubung tadi. Lalu jadikah Alm. Bp. Soeharto mengunjungi Rinjani? Ternyata tidak….

Selepas Pos III (Padabalong) sesungguhnya jalur mulai agak berasa berat. Banyak didominasi dengan punggungan. Dan tentu yang paling terkenal adalah Bukit Penyesalan. Hei Andri, Are u OK? Do you want to break or take a picture? Pertanyaan itulah yang sering dilontarkan kepada saya oleh Rukiye. Bertanya siapa tau jawabannya saya iya sehingga dia bisa mendapatkan istirahat sebentar. Tapi kenyataannya jawaban saya seringkali No…
Sampai di Pos IV (Pelawangan) saya dikejutkan dengan hujan besar yang disertai petir. Dalam benak saya teringat akan peristiwa pada beberapa bulan yang lalu ketika salah satu universitas di Bandung mengadakan diklat. Dan 2 orang mahasiswanya harus menjadi korban terkena samberan petir. Saya terus berdoa dalam hati agar hujan berhenti. Saya tidak mau jadi Gundala si anak Petir apalagi masuk dalam headline berita di Koran “Salah satu pendaki Rinjani tewas terkena Petir”

Baca juga :   Mengepak adalah seni

Dan hujan pun reda. Saya bergegas menuju tenda yang telah didirikan Pa Anwar dan Opat. Sudah ada beberapa tenda yang berdiri. Umumnya mereka adalah wisatawan mancanegara. “Ver, Yan, tolong masukin tas gw dulu donk ke dalam..” tak ada jawaban. Seharusnya mereka berdua sudah tiba terlebih dahulu karena sayalah orang dalam team yang paling terakhir. Ketika saya menanyakan kepada Miki di mana mereka, dia hanya mengatakan bahwa mereka tadi rencananya mau menunggu kami di Plang Pos Pelawangan. Kepanikan melandaku, kalau – kalau saja mereka ada kenapa – kenapa. Mana tadi orangtua Suyan menelpon ke HP yang aku bawa (HP ku bisa dual simcard) dan mengatakan bahwa Suyan ada di Bali dan baik – baik saja… Bersama dengan Opat saya mencari mereka berdua. Ternyata mereka salah memilih jalur. Di pertigaan jalur seharusnya mereka lurus terus dan tidak belok ke kanan menuju Danau Segara Anak.
Tebalnya kabut menghalangi jarak pandang ketika kami menikmati sunset.

kabut tebal

Tanah Tertinggi Pulau Lombok
Kamis, 09 September 2010. Pukul 12.00 wita saya bangun. Mempersiapkan diri untuk menginjakan kaki di tanah tertinggi Pulau Lombok. Rencananya hanya saya, Suyan, Vera, dan ditemani Pa Anwar yang akan ke Puncak. Baju dilapisi Jaket North Face hijau ditambah dengan Sweater pinjeman dan ditambah lagi dengan jas hujan Takachi (murah) cukup membuat badan ini terasa hangat. Sayang untuk bawahannya sempak hanya dilapisi celana Gunung yang sudah basah terguyur hujan kemarin sore.
Pertengahan jalan saya mengecek sudah jam berapa melalui jam HP. Ternyata masih ada sinyal. Tak lupa meminta doa kepada teman – teman melalui Facebook. Sampai saat ini, saya yang paling depan tapi ketika gerimis disertai angin yang cukup besar menciutkan nyali maka saya memilih menunggu orang saja di balik lindungan batu besar. Tak disangka yang pertama kali menghampiri saya adalah Suyan. Karena saya berhenti, Suyan pun ikut berhenti juga. Kami beristirahat cukup lama sampai pada akhirnya sepasang suami istri dari Jepang ditemani oleh seorang guide mendahului kami.

Jalur ke Puncak terus mendaki. Terjal dan didominasi oleh kerikil – kerikil kecil serta pasir. Orang Jepang itu sudah jauh berjalan. Lalu beberapa wisman pun mendahului saya. Awal paling pertama, tapi ketika hampir sampai puncak jadi yang paling terakhir. Tanjakan terakhir semangat saya bernyala kembali. Hanya 3 menit lagi sampai Puncak seru seorang wisman. Yup, akhirnya kaki ini sampai juga di tanah tertinggi Pulau Lombok. Sangat disayangkan kabut tebal dan disertai angin kencang belum mau berhenti sehingga saya tidak bisa mendapatkan pemandangan apa – apa. Paling tidak saya sudah pernah menggapai mimpi saya berada di Puncak Gunung Rinjani.

Perubahan Rencana
Cuaca tak kunjung membaik ketika kami kembali ke tenda. Gerimis belum mau menghentikan aktivitasnya. Maka dengan berat hati rencana untuk bermalam di Danau Segara Anak ditiadakan. Kembali ke penginapan Pondok Sembalun merupakan pilihan yang paling tepat. Pukul 12.00 wita kami mulai bergerak turun. Mendengar kata hotel merupakan candu yang sangat kuat bagi Ilse, Ilmy, Miki, dan Rukiye. Mereka seakan tanpa lelah terus berjalan. Mungkin yang ada di dalam pikiran mereka hanya hotel, hotel, dan hotel saja. Sisanya kami seperti pesakitan 45. Berjalan terseok – seok karena kelelahan. Jauh tertinggal oleh mereka. Hampir jam setengah dua belas ketika kaki kami menginjakan Pondok Sembalun lagi.

Sindang Gila, lalu ke Senggigi
Jumat, 10 September 2010. Merupakan lebaran hari pertama. Kami harus melupakan sejenak untuk cepat – cepat ke Sindang Gila dan mengejar sunset di Senggigi Beach karena kami harus menghormati supir pick up yang ikut berlebaran juga. Bp. Gita adalah pemilik mobil pick yang telah mengantar kami dari Pasar Aikmel menuju Sembalun. Dia menyarankan lebih baik langsung menghubungi dirinya bila sudah di Mataram karena akan dia jemput dengan mobil pick up. Ya, kejadian tempo hari memang akan lebih baik bila kami langsung menyewa pick up saja. Bagi teman – teman yang memang ada rencana ke Rinjani dan mau no Hp beliau maka PM saja saya.
Pukul 13.00 wita kami berangkat menuju ke Sindang Gila. Kebut – kebutan motor merupakan hal yang sering lihat dalam perjalanan ke Senaru. Puncaknya 2 orang pengendara motor tabrakan, tak sadarkan diri.
Dari Sindang Gila kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Senggigi. Hotel Ellen merupakan tempat singgah kami. Rp. 150.000 merupakan harga yang harus kami bayar per malamnya.

Baca juga :   Kegagalan Ciremai (Desember 2007)

berdiri sendiri

Kenapa Mendaki Gunung?
Salah satu alasan yang dapat saya jelaskan kenapa saya lebih memilih mendaki Gunung dibandingkan Pantai ialah saya sering masuk angin kalau ke Pantai. Begitulah yang terjadi ketika saya ke Pantai Senggigi. Terpaan angin pantai membuat kepala terasa pusing dan tentunya saya masuk angin.

Ye*** Cafe Anda layak dapat Kancut
Kancut? Dulu ketika masih awal – awal kuliah. Aku dan teman- temanku seringkali membuka sinema Indonesia dot com. Di sanalah terdapat review film – film Indonesia yang diputar di Bioskop. Kalau film yang diputar jauh dari biasa alias lebih baik nonggol di sinetron dan tidak layak ditonton di Bioskop atau kalau mau nonton sedang banyak punya duit sehingga rasa kecewa menghamburkan duit tidak begitu terasa, maka yang empunya sinema Indonesia dot com akan memberikan rating Kancut.

Setidaknya itulah yang saya dapatkan ketika bertandang ke café itu. Dengan sangat terpaksa karena warung – warung tenda tutup karena hari Lebaran. Dua lelaki aneh dengan bau badan menyengat karena seharian belum mandi. Baju acak – acakan ditambah yang satu berambut gondrong tak terurus. Mungkin benar kalau dulu saya pernah membaca kalau di Bali atau Lombok, orang – orang lokal alias sebangsa setanah air mendapatkan pelayanan kelas 2. Seperti inilah yang saya dapatkan sekarang di café ini. Menu makanan diberikan setelah kami memintanya dan tisu abis di meja makan dibiarkan saja, kosong melompong tidak ada niatan untuk menaruh tisu baru. Kami memesan ayam Taliwang. Setidaknya itulah makanan yang paling murah selain nasi goreng sayuran.

Hari kedua makan di café itu ada peningkatan kualitas pelayanan. Mungkin karena kami membawa 4 noni Belanda itu. Dengan sigap pelayan memberikan menu, menambah tisu yang sebenarnya belum habis tapi tinggal sedikit. Menambahkan nyala lilin biar romantis katanya. Menanyakan dari mana mereka berasal dan ketika tau dari Belanda tanpa dikomando pelayan itu langsung bernyanyi Geef Mij Maar Nasi Goreng. Tetapi kekaguman sesaatku atas perubahan pelayanan cafe itu sirna karena pelayan restoran itu menyangka saya dan Acong merupakan seorang gigolo dan mengatakan You Are Lucky Guy…

Tuhan Tidak Tinggal Diam
Sejam berlalu ketika kami telah selesai memesan makanan. Tetapi yang masih tersedia di meja makan hanyalah minuman saja. Ilmy dan Miki semakin tidak sabar menunggu makan malam. Ketika pelayan hanya mengatakan sabar, sabar dan tunggu, maka kesabaran itu sudah di ambang batasnya. Miki lalu pergi ke kasir dan mengatakan bahwa kami tidak jadi memesan dan hanya mau membayar minumannya saja. Kami pun pindah ke seberang cafe itu. Mungkin itulah balasan setimpal buat mereka yang mengatakan ku seorang gigolo…

Miki dan Ilmy mengatakan bahwa di cafe seberang harganya sama saja. Dan dengan keyakinan penuh kami berdua menurut saja dibawa ke seberang. Pelayanan di cafe seberang memang lebih oke. Ketika akan duduk, kursi kami ditarik dan dimajukan. Dipakaikan serbet. Dan yang paling penting ada makanan kecil sebagai pengganjal perut. Saya hanya bisa membolak – balik menu cafe seberang tersebut. Ternyata harga makanan jauh lebih mahal. Dan yang kuyakin keunggulan cafe ini dibandingkan dengan cafe yang tadi adalah harga sebuah air mineral ukuran sedang dibanderol lebih murah seribu rupiah.
Tuhan tidak tinggal diam ketika Ilse menanyakan kebenaran harga cafe ini dibandingkan cafe Ye*** tadi, Acong hanya bisa menjawab more expensive lalu mungkin karena adanya pengaruh alkohol dalam minuman di Ye*** cafe atau tepatnya kebaikan hati Ilse maka kami ditraktirnya. Pulang makan malam ketika melewati cafe Ye*** tak ayal kami menerima berondongan mata tajam…