Salah satu destinasi andalan dari Banyuwangi adalah Kawah Ijen. Pesona api biru yang dihasilkan pada kawah Gunung Ijen membuat siapa saja ingin mengunjunginya baik wisatawan asing maupun dosmetik. Konon api biru hanya bisa ditemui di Indonesia dan Islandia saja.  Tak ayal pesona itulah yang membuat saya melangkahkan kaki, menambahkannya ke dalam daftar list liburan.

Kamis 24 Juli 2014, perlahan kereta Mutiara Siang memasuki stasiun Banyuwangi Baru setelah mengawali perjalanan dari Stasiun Pasar Turi Surabaya. Tak banyak yang turun di stasiun terakhir ini, karena kebanyakan penumpang telah turun di stasiun Kediri atau stasiun lainnya dan hanya sedikit menyisakan penumpang yang setia menemani hingga akhir perjalanan. Keluar gerbong kereta, sinar Matahari sore sedikit menyilaukan mata. Dengan memanggul cariel serta membaca ulang itenary dari beberapa blog, saya langkahkan kaki keluar stasiun mencari angkot ke terminal. Beberapa blog menuliskan bahwa untuk mencapai Kawah Ijen, kita harus menuju terminal dahulu, menaiki angkot menuju Desa Jambu, dari Desa Jambu naik angkot lagi menuju Licin, dan dari Licin menyewa ojeg menuju Patulding, pos Kawah Ijen.

Langkahan kaki terhenti ketika bunyi klakson yang terdengar keluar dari sebuah angkot berwarna kuning, memberikan peringatan agar berjalan lebih minggir ke kiri serta tidak menghalangi lajurnya. Tampak debu yang dihasilkan dari gilasan roda beradu dengan jalan berbatu campur tanah mengikuti di belakang menyerupai ekor angkot. Membuat siapa saja yang dilewati angkot tersebut menutup hidung agar tidak menghirup debu jalanan. Angkot kuning tersebut berhenti di sampingku.. Dari dalamnya sang supir berkata :”mas terminal, terminal..” wah kebetulan ini., batinku : “iya pak.. terminal” kujawab dengan suara mantap. Saya bergegas memasukan cariel ke dalam angkot dengan dibantu oleh seorang tentara dan saya memilih duduk di hadapan tentara tersebut. Selang 10 menit kemudian barulah saya bertanya kepada supir angkot,

Saya : “Pak, di terminal nanti ada angkot menuju Desa Jambu kan??”
Supir Angkot : (sedikit heran) “Terminal mana ya de?”
Saya : “Terminal yang akan kita tuju nanti pak..”
Supir Angkot : “wah kalau yang ke Desa Jambu ga ada yang langsung mas, memangnya mas mau ke mana toh? sendirian aja?”
Saya : “ke Kawah Ijen pak, iya sendiri saja saya”
Supir Angkot : “waduh, salah arah mas.. seharusnya ke arah pusat kota, naiknya dari terminal pusat kota, kalau angkot ini menuju terminal kecil”
Saya : “loh bukannya sama aja ya pak..namanya terminal pasti ada angkot ke Desa Jambu”
Tentara : “beda mas, kalau angkot ini arah menuju Situbondo, kalau mau ke Baluran ayo saya antar”
Saya : “wah ga usah pak, saya mau ke Kawah Ijen dulu”

Saya hanya bisa terdiam menyesali kesalahan saya yaitu tidak memeriksa lebih lanjut nama terminal sebelum menuju Desa Jambu. Pada beberapa blog memang tidak disebutkan dan  saya menganggap kalau hanya ada 1 terminal di Banyuwangi. Rencana yang terlintas mencari sebuah penginapan mengingat hari mulai beranjak sore dan memulai perjalanan kembali pada keesokan hari. Lantang suara supir membuyarkan lamunanku,”Ya sudah mas, saya antar saja ke Desa Jambu kalau perlu sampe Licin, dari Gapura Desa Licin mas bisa menyewa ojeg ke Patulding pos kawah Ijen, kasihan masnya.” “Oh gitu pak? Wah terima kasih banyak pak..” balasku. Setelah mengantar tentara menuju terminal, angkot kuning memutar arah, berbalik menuju arah stasiun yang kemudian menuju Desa Jambu – Licin. “Oh iya pak, tarifnya berapa ya?” saya bertanya, “100 ribu aja mas, itu sudah murah, saya kasihan sama masnya, lagipula jarak ke Licin lumayan jauh.” Supir membalas, “ga bisa kurang pak? 75 ribu gitu pak?” tawarku, “wah ga bisa mas, udah murah itu.” supir menolak tawaranku, “85ribu gitu pak?” saya mencoba menawar lagi, “wah ga bisa mas” supir untuk kali kedua menolak tawaranku, “Okey deh pak..” seruku menutup sesi tawar – menawar. Saya dan supir hanya berbicara sekadarnya, terkadang dia memberi tahu arah jalan menuju terminal, angkot menuju Desa Licin, nama-nama gedung yang dilewati, sebagai balasannya dia ingin diberi tahu bagaimana keadaan ibukota saat ini.

Baca juga :   MENDAKI GUNUNG = MENGHARGAI HIDUP

Sampai di Gapura Licin kira-kira jam 6 sore, langit tampak sudah agak gelap dan mendung. Terdapat sebuah gerobak bakso terpakir di salah sudut pinggir jalan, bisikan perut yang minta diisi saya hiraukan. Di seberang gerobak bakso nampak segerombolan anak muda sedang jongkok berkumpul. Seorang anak muda menghampiri dan menawarkan jasa ojeg, “Mas mau ke atas?” tanyanya, “Iya mas, mau ke pos Kawah Ijen, berapa ya mas?”tanyaku, “50 ribu mas” anak muda itu memberikan harga yang disambut dengan “okey”oleh saya pertanda menyetujui tarif. Tanpa melakukan diskusi tawar menawar harga karena selain mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan tetapi juga menghindari hujan yang mengintai.

Perjalanan menuju pos Kawah Ijen ternyata ditemani dengan rintik hujan dan beberapa menit kemudian berubah menjadi deras dan memaksa kami berteduh di salah satu rumah tempat peristirahatan petani yang dibiarkan kosong. Rumah itu hanya memiliki satu ruangan berukuran 2 x 2 meter, beratapkan rumbia dengan dinding yang terbuat dari kayu. Sudah 20 menit kami berteduh dan tidak ada tanda-tanda langit menghentikan curahan air hujan. Kami bersepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan saya pun mencopot sambungan celana cargo agar tidak terkena basah. Setelah melewati perkebunan kopi hujan berangsur reda. Keputusan untuk mencopot sambungan celana ternyata merupakan keputusan yang salah, dinginnya hawa pegunungan dengan kejam menusuk kulit, membesarkan pori-pori di sekitar paha ke bawah, memucatkan kulit, dan membuat badan menggigil.

Sampai di pos Paltuding, saya melaporkan diri di basecamp dan membayar tiket masuk sebesar 2000 rupiah dan 3000 rupiah untuk karcis pengambilan foto. Sempat juga saya menanyakan apakah masih ada kamar penginapan yang tersedia dan dijawab, “maaf mas, kamarnya sudah pada full.” Sedikit memendam kekecewaan karena tubuh ini sudah minta diistirahatkan semenjak perjalanan dari Jakarta – Surabaya – Banyuwangi – Ijen dan mengingat juga harus bangun jam 2 dini hari untuk melihat api biru Kawah Ijen. Tak mau berlarut – larut saatnya untuk tidak menghiraukan urusan perut. Di warung saya bertemu dengan sekelompok mahasiswa dari Yogyakarta dan Malang. Saling menyapa dan memperkenalkan diri seraya memesan nasi goreng teh hangat kepada mbok warung. “Mas-mas ntar pada tidur di mana?” tanyaku,  “Itu mas, di pendopo aja ntar” kata salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah sebelah kanan warung. Selesai menghabiskan sepiring nasi goreng dan 2 gelas teh hangat, saya pun pamit untuk beristirahat.

Baca juga :   Mahameru Puncak para Dewa (session 2)

Pendopo itu seperti rumah panggung, mempunyai kolong dan luasnya lumayan besar. Setidaknya muat sekitar 25-30 orang untuk tidur, berbentuk persegi empat dengan cat berwarna hijau pada tiang penyangga dan tangganya, beralaskan kayu dan juga beratapkan genteng. Setelah menggelar matras dan membenamkan diri pada sleeping bag saya mencoba untuk tidur. 1 jam – 2 jam terlewati saya masih mencoba untuk tidur. Dinginnya malam menjelang subuh membuat tubuh saya mengigil. Dengan bantuan headlamp, saya membongkar cariel, mengambil kaos dan memakainya 2 lapis, tak lupa juga memakai jaket tebal. Saya mencoba untuk tidur lagi akan tetapi dingin itu masih saja menganggu. Kesal tidak bisa tidur memutuskan saya bergabung dengan teman-teman mahasiswa yang baru saya kenal. Menunggu hingga pukul 2 dini hari ketika pengunjung sudah diperbolehkan untuk mendaki Gunung Ijen. Saat itu parkiran Kawah Ijen sudah penuh dengan mobil yang didominasi oleh trooper. Beberapa warung yang tampak buka sudah tidak menyisakan tempat duduk bagi mereka yang telat datang. Kepada warung tempat kami makan tadi, kami menitipkan tas  carriel. Saya sendiri hanya membawa headlamp dan 1 botol minum untuk mendaki nanti.

Jumat 25 Juli 2014 saat subuh dini hari, ratusan sinar yang dikeluarkan dari senter beriringan berbaris mendaki, deretan nafas memburu, peluh membanjir. Satu dua kelompok ada yang duduk memberikan istirahat kepada kaki, mencoba beradaptasi dengan tanjakan. Memang meski hanya 3 km menuju Kawah Ijen, akan tetapi jalur yang dilalui cukup berat bagi mereka yang tidak biasa mendaki gunung. Sampai pada sebuah tanah lapang kita diharuskan memilih untuk mengambil jalur kiri turun ke bawah untuk melihat api biru atau naik ke atas melihat Sunrise dan Danau Kawah Ijen. Saya memilih untuk mencapai api biru terlebih dahulu, menuruni tangga-tangga curam dan sisanya bebatuan licin. Beberapa orang tua tampak menyudahi perjuangannya karena selain curam, tampak di sisi kiri jalan adalah jurang yang menganga. Tak lama saya menghabiskan waktu melihat api biru, bau belerang dan asap pekat cukup mengganggu dan membuat batuk. Setelah 30 menit saya memutuskan untuk kembali ke pos Kawah Ijen dan di tengah perjalanan saya bertemu dengan penambang belerang yang sedang menjajakan cinderamata khas Kawah Ijen, yaitu asbak, kura-kura, mobil-mobilan yang semuanya berwarna kuning. Ternyata cinderamata tersebut terbuat dari belerang dan dijual dengan harga sekitar 10 ribu rupiah.

Baca juga :   Prau

Selain menahan rasa kantuk yang melanda, saya juga harus menahan rasa sakit perut.. mendadak perut bergejolak meminta isi di dalamnya dikeluarkan. Dengan sedikit berlari saya kembali ke pos Kawah Ijen. Sampai di pos ternyata hanya ada 4 WC yang tersedia dengan antrian yang cukup panjang. Pada saat mengantri kebelet pup itulah saya bertemu dengan pemuda gondrong beraksen medok, seorang guide kawah Ijen yang menyambi sebagai penjaga WC, karang taruna desanya yang memperkenalkan diri bernama Budi.

“Asal mana toh mas?” Budi bertanya
“Dari Jakarta mas.” Saya menjawab Budi
“Sendirian mas? naik apa ke sininya tadi?”Budi bertanya lagi
“Naik ojek mas.”Saya menjawab Budi lagi
“Terus untuk pulangnya? sudah ada rencana naik apa? kalau belum saya bisa anterin mas..” Budi mengeluarkan jurus marketing.
“Boleh mas, berapa tarifnya ya?” Saya terkena jurusnya
“Sampai Ketapang? biasanya sih 75 ribu..” Budi menawarkan harga
“Okey deh mas, nanti saya balik lagi yak ke sini..” Saya berlalu tanpa menawar harga karena sudah tiba giliran saya menuntaskan hajat

Beberapa jam kemudian saya kembali ke tempat WC umum bukan untuk kembali mengeluarkan isi perut tetapi mencari mas Budi. Memberitahukan kepadanya kalau saya jadi menggunakan jasanya untuk mengantarkan ke penginapan murah di daerah Ketapang.

Senin 28 Juli 2014, saya berada lagi di pos Patulding Kawah Ijen. Kali ini bersama dengan Acong yang sudah meminta izin cuti dari tempatnya bekerja di Bali meski baru beberapa bulan menjadi karyawan. Mungkin hari masih siang menjelang sore yang membuat kami mendapatkan sebuah kamar penginapan. Dengan membayar 250ribu rupiah, kami diberikan kamar yang biasanya digunakan oleh para ranger Gunung Ijen. Kamar tersebut hanya memilik 1 ranjang yang cukup ditiduri 2 orang dan juga lemari pakaian yang sudah terisi oleh baju-baju para ranger. Meski bantal dan sprei yang membungkus kasur mengindikasikan sudah lama tak dicuci karena bau iler dan apek, tetapi tetap kami syukuri juga karena ketika kami sedang makan sore di warung, beberapa wisatawan domestik dan mancanegara masih sibuk mencari kamar. Solusinya mereka menginap dulu di bawah dan baru jam 12 malam berangkat lagi ke sini.

Selasa 29 Juli 2014, setelah turun ke kawah dan melihat api biru, kami memutuskan untuk juga melihat Sunrise. Menaiki punggungan gunung Ijen merupakan tantangan tersendiri. Rasa kantuk, lelah, jalur menanjak dengan jurang sisi kiri dan kanan terbayarkan ketika bisa menyaksikan Sunrise.

Ijen
Kawah Ijen Lake